Penembakan Massal di Islamic Center San Diego, 5 Tewas, FBI Duga Aksi Bermotif Kebencian
Amirullah May 19, 2026 01:24 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Suasana tenang di sebuah Islamic Center di San Diego, California, Amerika Serikat (AS), mendadak berubah mencekam setelah terjadi penembakan massal pada Senin (18/5/2026) waktu setempat.

Insiden berdarah itu menewaskan lima orang, termasuk dua pelaku yang diketahui masih berusia remaja.

Dikutip dari Reuters, tiga korban ditemukan tewas di area luar gedung Islamic Center. Salah satu korban yang meninggal dunia diketahui merupakan petugas keamanan bernama Amin yang selama ini bertugas menjaga lokasi tersebut.

Sementara itu, dua pelaku diduga mengakhiri hidup mereka sendiri usai melakukan aksi penembakan.

Biro Investigasi Federal (FBI) langsung turun tangan membantu proses penyelidikan. Dugaan awal mengarah pada motif kebencian.

Agen khusus FBI di San Diego, Mark Remily, mengatakan pihaknya masih mendalami penyebab pasti insiden tersebut.

"Kami sedang secara aktif menyelidiki hal-hal yang menjadi pemicu kejadian ini. Jelas biasanya hal-hal seperti ini tidak terjadi begitu saja," katanya.

Kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi komunitas Muslim di San Diego. Imam sekaligus direktur Islamic Center, Taha Hassane, mengaku peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di tempat ibadah mereka.

Baca juga: PBB Peringatkan Risiko Genosida di Gaza, Israel Diminta Hentikan Pendudukan Palestina

"Kami belum pernah mengalami tragedi seperti ini sebelumnya. Sangat keterlaluan menargetkan tempat ibadah," ujarnya dikutip dari LA Times.

Saat penembakan berlangsung, aktivitas belajar mengajar ternyata masih berlangsung di lantai dua gedung Islamic Center yang digunakan sebagai sekolah.

Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam di San Diego, Tazheen Nizam, menyebut anak-anak dan para guru berhasil dievakuasi ke gereja terdekat demi keselamatan mereka.

Ketua Dewan Syura Islam California Selatan, Deana Helmy, mengaku sangat prihatin karena kejadian itu menimpa anak-anak yang sedang belajar agama.

"Ini jelas sangat mengkhawatirkan. Ini adalah tempat ibadah. Ada sekolah dengan anak-anak di sana yang sedang berusaha belajar dan harus mengalami hal ini sungguh sangat disayangkan," ujarnya.

Menurut Helmy, insiden tersebut terjadi di tengah momen penting umat Islam yang sedang menjalankan ibadah haji dan bersiap menyambut Idul Adha.

"Harus memulai bulan ini dengan cara seperti ini sedikit menegangkan dan menimbulkan ketakutan," tuturnya.

Kesaksian pilu juga datang dari Tamer Bar (39), seorang jamaah yang tengah menunggu menjemput keponakannya berusia tujuh tahun di sekolah yang berada di lantai dua gedung itu.

Baca juga: Israel Culik Puluhan Relawan Kemanusiaan di Perairan Internasional saat Bawa Bantuan ke Gaza

Ia mengenang bagaimana sang keponakan sebenarnya sempat enggan berangkat sekolah pada hari kejadian.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padanya,” kenang Bar akan ucapan kakaknya.

Bar diketahui telah rutin beribadah di Islamic Center tersebut sejak pindah ke Amerika Serikat dari Gaza pada 2006.

Ia mengaku bersyukur penembakan tidak terjadi satu jam lebih lambat, saat masjid biasanya mulai dipenuhi sekitar 300 jamaah untuk salat Zuhur.

Menurutnya, saat kejadian hanya ada beberapa jamaah di dalam masjid dan anak-anak sekolah di lantai dua.

"Ini adalah tempat kedamaian. Ketika kita berdoa di masjid, kita melupakan segala sesuatu dan pergi untuk berhadapan dengan Tuhan. Sebagai umat Islam, kami tidak membenci. Kami di sini untuk perdamaian dan itulah sebabnya kami datang ke Amerika Serikat," ungkapnya.

Bar juga mengaku mengenal dekat Amin, petugas keamanan yang menjadi korban tewas dalam insiden itu. Menurutnya, Amin sudah bekerja menjaga Islamic Center tersebut selama puluhan tahun.

Kata Trump

Presiden Donald Trump pun telah menyampaikan pernyataan resminya dan menyebut bahwa insiden itu adalah peristiwa mengerikan.

"Ini situasi yang mengerikan. Saya telah menerima beberapa laporan awal, tetapi kami akan meninjau kembali dan menyelidikinya secara mendalam," katanya, dikutip dari Fox News.

Sementara, Gubernur California, Gavin Newsom mengaku terkejut dan mengucapakan duka cita mendalam kepada para korban.

Dia menegaskan tidak menolerir adanya tindakan teror di California.

"California menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga dan masyarakat yang terdampak penembakan hari ini. Jemaah di mana pun tidak seharusnya harus takut akan nyawa mereka."

"Kebencian tidak punya tempat di California dan kami tidak akan menolerir tindakan teror atau intimidasi terhadap komunitas beragama," tulisnya di akun X pribadinya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.