TRIBUNGORONTALO.COM -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,3 mengguncang wilayah barat daya Blitar, Jawa Timur, Selasa (19/5/2026) pukul 12.46 WIB.
Berdasarkan laporan awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pusat gempa berada di laut sekitar 153 kilometer barat daya Kabupaten Blitar.
Gempa tercatat pada koordinat 9,51 Lintang Selatan dan 112,08 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.
BMKG menyampaikan informasi ini mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data yang masuk.
Baca juga: Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu Puji ASN Bisa Hentikan Suami Merokok
Wilayah selatan Jawa Timur, termasuk perairan selatan Blitar, merupakan daerah yang rawan gempa bumi karena berada di zona subduksi aktif, tempat lempeng Indo-Australia bergerak dan menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Aktivitas tektonik di kawasan Samudra Hindia bagian selatan Jawa juga kerap memicu gempa bumi dengan berbagai kekuatan.
Magnitudo 3,3 tergolong gempa kecil hingga ringan dan umumnya tidak menimbulkan kerusakan besar.
Namun, kedalaman gempa yang hanya 10 kilometer menjadikannya termasuk gempa dangkal.
Pada kondisi tertentu, gempa dangkal dapat menimbulkan getaran yang lebih terasa di sekitar wilayah terdekat pusat gempa dibanding gempa dengan kedalaman lebih besar.
Hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai dampak kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya.
Warga disarankan memastikan informasi terkait gempa hanya diperoleh dari kanal resmi BMKG dan instansi berwenang.
Saat terjadi gempa, masyarakat dianjurkan melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh, menjauhi kaca serta benda yang mudah jatuh.
Setelah guncangan mereda, warga disarankan menuju area terbuka dan memeriksa kondisi lingkungan sekitar.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak panik, dan terus memantau perkembangan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika agar terhindar dari informasi yang menyesatkan.
(*)