Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Keluarga Herwanto (26), warga Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, berharap ada titik terang terkait kematian Herwanto yang ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kos kawasan Panularan, Solo, pada Februari 2026 lalu.
Kematian korban dinilai janggal oleh pihak keluarga.
Mereka menemukan sejumlah kondisi mencurigakan pada tubuh Herwanto, mulai dari wajah membiru dan membengkak hingga adanya dugaan bekas jeratan di leher korban.
Diketahui, Herwanto ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya pada 17 Februari 2026.
Korban diketahui bekerja sebagai sopir pribadi di Solo.
Sarto, kakek Herwanto, mengatakan keluarga di Pracimantoro pertama kali menerima kabar duka pada malam hari, 17 Februari 2026.
Berdasarkan cerita dari istri korban, Rani, Herwanto sempat pulang kerja ke rumah kos sekitar pukul 17.00 WIB.
"Istrinya pukul 18.00 sempat telepon minta dijemput. Lalu sekira pukul 20.30 mau pulang istrinya, dikontak tidak bisa," ujar Sarto.
Rani kemudian memutuskan pulang dengan berjalan kaki menuju kamar kos.
Saat tiba, kondisi kamar disebut masih gelap dan Herwanto terlihat tertutup selimut.
Saat lampu kamar dinyalakan dan selimut dibuka, Rani mendapati kondisi Herwanto sudah tidak bernyawa.
"Setelah itu Rani kaget saat membuka selimut. Katanya wajahnya biru dan bengkak. Lalu di leher ada jeratan kain jilbab. Kaki juga diikat dengan tali. Posisinya (maaf) telanjang," katanya.
Teriakan Rani membuat penghuni kos lain berdatangan ke lokasi.
Menurut keluarga, penghuni kos sempat diminta melepaskan ikatan dan jeratan yang ada di tubuh korban.
Tak lama kemudian, warga sekitar turut mendatangi lokasi kejadian.
Sejumlah warga bahkan disebut menduga Herwanto menjadi korban pembunuhan dan menyarankan agar kasus tersebut dilaporkan ke polisi.
"Namun, Pakdhe-nya Rani menyampaikan agar itu tidak usah dilaporkan. Daripada kedowo-dowo (berkepanjangan)," kata Sarto.
Baca juga: Viral Warga Wonogiri Disebut Tewas Tak Wajar di Indekos Panularan Solo, Polisi Ungkap Faktanya
Kabar meninggalnya Herwanto kemudian diteruskan kepada keluarga besar di Pracimantoro.
Pihak keluarga yang syok langsung berkoordinasi dengan perangkat desa untuk proses pemakaman.
Sarto mengaku sempat berniat berangkat ke Solo setelah menerima kabar tersebut.
Namun, keluarga dari pihak istri meminta agar keluarga di Wonogiri tidak perlu datang karena jenazah akan langsung dibawa pulang.
"Sampai di sini (Pracimantoro) 18 Februari 2026. Hari Rabu itu sekira pukul 02.00," imbuhnya.
Saat melihat kondisi jenazah, keluarga kembali menemukan hal yang dianggap tidak wajar.
"Di leher tidak ada jeratan. Cuma di wajah bengkak. Lalu giginya ada yang goyang, sudah mau lepas," ujar dia.
Baca juga: Asyik Bermain di Sungai, Warga Purbalingga Tewas Tenggelam di Bendungan Nepen Boyolali
Merasa ada kejanggalan atas kematian Herwanto, pihak keluarga sempat mendatangi Polresta Surakarta sekitar sepekan setelah pemakaman untuk melaporkan kejadian tersebut.
Namun, menurut Sarto, laporan tidak diterima karena yang datang melapor bukan istri korban.
"Sampai disana, disampaikan kalau laporan tidak diterima kalau saya dan ayahnya korban yang menyampaikan aduan itu. Katanya orang luar, lalu kita tanya yang benar siapa yang mengadu, kata petugasnya yang lapor Rani, istrinya," papar dia.
Keluarga kemudian menyampaikan hal itu kepada Rani.
Berdasarkan pengakuan Rani, dirinya mengaku sempat melaporkan kasus tersebut ke Polresta Surakarta.
"Katanya Rani, ditolak. Alasannya katanya yang nangani beda polisi. Kalau polisi kan harusnya sama saja itu karena pembunuhan atau meninggal sendiri. (Rani) Diam saja. Kalau perkara sudah dilaporkan benar atau tidak saya tidak tahu. Saat ditanya bilangnya seperti itu," lanjut Sarto.
Baca juga: Nasib Nahas Teknisi Wifi, Tewas Tersengat Listrik Saat Perbaiki Kabel di Halaman Stasiun Sragen
Hingga kini, keluarga mengaku belum bisa menerima kematian Herwanto yang dinilai tidak wajar.
Mereka berharap ada kejelasan mengenai penyebab meninggalnya korban.
Pihak keluarga juga menyatakan siap mendukung apabila nantinya dilakukan langkah lanjutan dalam proses penyelidikan, termasuk pembongkaran makam atau ekshumasi jenazah guna mengungkap penyebab pasti kematian Herwanto.
(*)