Solar Langka di Sumbar, Heru: Sudah Antre 4 Jam Belum Dapat, Seperti Mencari Emas Saja
Rezi Azwar May 19, 2026 08:47 PM

 TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar di Sumatera Barat dikeluhkan para pengendara.

Kondisi tersebut bahkan disebut sudah seperti mencari emas yang tersembunyi di dalam tanah karena sulit didapat.

Salah seorang pengendara, Heru Apriniko mengaku harus mengantre sejak pukul 10.00 WIB di sebuah SPBU 14.251.583 kawasan Khatib Sulaiman, Padang Utara, Kota Padang, Selasa (19/5/2026).

Namun hingga pukul 14.00 WIB, kendaraan L-300 miliknya baru masuk ke kawasan SPBU dan belum mencapai mesin pengisian.

“Saya baru masuk kawasan SPBU sejak tadi di badan jalan, ini sudah empat jam, tapi belum sampai ke mesin pengisian. Paling satu jam lagi,” kata dia.

Baca juga: Sopir Bus di Padang Mengeluh Harus Antre Dua Jam Lebih Demi Solar, Sebut Aktivitas Terhambat

Heru mengaku tidak berpindah SPBU untuk mendapatkan BBM solar. Sebab sebelumnya pernah gagal mengisi akibat stok habis setelah mengantre berjam-jam.

Bagi Heru, solar menjadi kebutuhan utama untuk bekerja. Sehari-hari ia melansir makanan ringan kering dari produsen atau grosir ke sejumlah toko di luar Kota Padang dan mengambil keuntungan dari selisih harga.

Menurutnya, pekerjaan tersebut sangat bergantung pada BBM subsidi agar biaya operasional tidak membengkak.

“Saya harus antre BBM dulu saat pagi, baru setelahnya bisa mengantar barang. Kadang sudah malam baru saya sampai ke lokasi,” ucapnya.

Bagi Heru, tidak hanya mengganggu waktu kerja, antrean panjang juga membuatnya harus menahan lapar. Bahkan, hingga pukul 14.00 WIB ia mengaku belum sempat makan siang.

Selain itu, ia juga harus menghemat bahan bakar dengan cara menghidupkan dan mematikan mesin kendaraan setiap antrean bergerak.

Baca juga: Respons Antrean BBM di SPBU, Mahyeldi Sebut Kuota dari Pusat di Bawah Kebutuhan

“Masalah makan ini nanti saja, yang penting solar bisa full, baru saya bisa kerja,” sebutnya.

Melihat kondisi solar yang susah didapatkan oleh pengendara, serta harus antre berjam-jam, Heru menyebut serupa dengan mencari emas.

Bahkan antre selama beberapa jam namun tidak mendapatkan solar, membuat ia merasa jengkel.

“Menurut saya mendapatkan solar di Sumbar, sudah seperti mencari emas saja,” kata dia sembari bergurau.

Sebagai solusi, Heru berharap pemerintah menambah stok solar di Sumatera Barat (Sumbar) termasuk dengan mewujudkan pembangunan kilang minyak di Air Bangis.

“Hingga kini kilang minyak Sumbar cuma satu, jadi perlu ditambah supaya stok juga bertambah,” tambahnya.

Mahyeldi Sebut Kuota dari Pusat di Bawah Kebutuhan

ANTREAN SOLAR- Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat diwawancarai di rumah dinas Wakil Gubernur Sumbar, Senin (18/5/2026).
ANTREAN SOLAR- Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat diwawancarai di rumah dinas Wakil Gubernur Sumbar, Senin (18/5/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengaku telah mengirim surat permintaan penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk Sumbar menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.

Hal itu disampaikan Mahyeldi saat diwawancarai di rumah dinas Wakil Gubernur Sumbar, Senin (18/5/2026) malam, usai menjenguk Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy.

“Malam tadi saya sudah buat surat untuk tambahan kuota BBM di Sumatera Barat,” kata Mahyeldi kepada TribunPadang.com.

Menurut Mahyeldi, antrean BBM yang terjadi saat ini tidak lepas dari kebijakan penetapan kuota oleh pemerintah pusat yang dinilai tidak mempertimbangkan kondisi daerah.

“Barangkali keputusan pusat dalam menetapkan kuota tanpa membicarakan dengan kita. Waktu itu dari BPMigas, dan itu sudah disampaikan juga sebelumnya,” ujarnya.

Baca juga: Antrean Solar Mengular di SPBU Khatib Sulaiman, Didominasi Truk dan Bus hingga Makan Badan Jalan

Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Sumbar sebenarnya sudah beberapa kali mengusulkan penambahan kuota BBM. 

Namun, jumlah yang ditetapkan pemerintah pusat disebut masih berada di bawah kebutuhan daerah.

“Kita sudah usulkan dan rata-rata apa yang kita usulkan kemudian diterapkan tanpa membicarakan dengan kita, dengan ditetapkan sendiri. Inilah akibatnya,” katanya.

Mahyeldi bahkan menilai pemerintah pusat kurang melibatkan daerah dalam pengambilan keputusan terkait kuota BBM.

“Jadi memang pusat itu kadang-kadang tidak percaya kepada daerah. Kemudian tidak pernah juga mengomunikasikan dengan daerah dan langsung menetapkan sesuatu itu tanpa komunikasi, tanpa mengevaluasi,” ujarnya.

Menurut Mahyeldi, kebutuhan BBM di Sumbar berbeda dibanding daerah lain karena tingginya kunjungan wisatawan yang ikut meningkatkan konsumsi BBM di wilayah tersebut.

Baca juga: Mahyeldi Minta Lokasi Tambang Emas Ilegal Sijunjung Ditutup Usai Longsor Tewaskan 9 Orang

“Kita sudah berpengalaman setahun bahwasannya Sumatera Barat ini karena memang daerah wisata, maka yang mengonsumsi BBM di Sumatera Barat ini bukan orang Sumatera Barat saja, tapi juga orang-orang yang datang ke Sumatera Barat untuk berwisata,” jelasnya.

Ia mengaku kondisi tersebut sudah disampaikan kepada BPMigas dalam usulan penambahan kuota BBM. Namun kuota yang diberikan masih di bawah kebutuhan riil di lapangan.

“Nah cuma BPMigas menetapkan masih di bawah itu. Bahkan itu di bawah 80 persen kebutuhannya,” katanya.

Meski demikian, Mahyeldi tidak menampik adanya dugaan penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan yang turut memengaruhi kondisi antrean di SPBU.

“Kalau di lapangan mungkin banyak kasusnya. Dulu dilakukan oleh Kapolda lama Pak Suharyono ketika jadi Kapolda, operasi di SPBU karena mengawasi mobil-mobil modifikasi,” ujarnya.

Menurutnya, kendaraan modifikasi yang membeli BBM subsidi dalam jumlah besar menjadi salah satu penyebab tingginya konsumsi BBM di Sumbar.

“Dan sehingga itulah yang mengonsumsi kelebihan. Namun kemudian itu memang kita sudah minta juga Pertamina supaya bekerja sama dengan kepolisian untuk melakukan pengawasan di SPBU,” katanya.

Mahyeldi berharap Pertamina dan kepolisian dapat memperkuat pengawasan agar penyalahgunaan BBM subsidi dapat ditekan.

“Makanya Pertamina kita harapkan berkolaborasi dengan kepolisian agar memantau dan mengawasi. Agar ketahuan kalau ada penyalahgunaan BBM,” ujarnya.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan ketersediaan stok Biosolar di wilayah Padang dalam kondisi aman dan tetap tersedia di SPBU.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan antrean kendaraan di SPBU dipengaruhi tingginya kebutuhan pengisian BBM secara bersamaan oleh kendaraan logistik dan angkutan barang.

“Namun demikian, kondisi tersebut tidak mengindikasikan ketiadaan stok BBM di SPBU,” katanya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.