Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat pekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah masih mendominasi struktur ketenagakerjaan di Maluku pada Februari 2026.
Berdasarkan data BPS, penduduk bekerja di Maluku paling banyak berasal dari tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan presentasi mencapai 34,30 persen.
Sementara itu, pekerja dengan pendidikan SD ke bawah menjadi kelompok terbesar kedua dengan persentase sebesar 27,75 persen.
Menurut Maritje Pattiwaellapia, distribusi penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan pada Februari 2026 masih menunjukkan pola yang hampir sama dibandingkan Februari 2025.
“Pada Februari 2026, penduduk bekerja didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas sebesar 34,30 persen,” ujarnya.
Baca juga: Jejak Perselingkuhan Kabag Umum SBT Terendus dari Hotel, Istri Gerebek di Kontrakan
Baca juga: Para Terlapor Penganiayaan di Coffee Pourvis Ambon Diduga Melarikan Diri, Polisi Lidik Keberadaan
Selain lulusan SMA dan SD ke bawah, penduduk lulusan SMP tercatat sebesar 16,10 persen.
Kemudian pekerja lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3, sebanyak 14,23 persen.
Adapun pekerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tercatat sebesar 5,05 persen, sedangkan lulusan Diploma I,II, dan III, menjadi kelompok paling sedikit dengan persentase 2,57 persen.
Walaupun demikian, BPS mencatat terjadi peningkatan persentase pada sejumlah kelompok pendidikan dibanding Februari 2025.
Peningkatan terjadi pda pekerja lulusan SMP, Diploma IV hingga S3, SMK, dan SMA, masing-masing sebesar 0,77 persen poin, 0,56 persen poin, 0,23 persen poin, dan 0,15 persen poin.
Sementara itu, pekerja dengan pendidikan SD ke bawah serta Diploma I/II/III mengalami penurunan persentase.
Penurunan terbesar terjadi pada kelompok pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 1,45 persen poin.
Maritje menegaskan bahwa tingkat pendidikan dapat menjadi indikator kualitas dan produktivitas tenaga kerja di suatu daerah.
Menurut dia, semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kerja, maka semakin besar pula peluang peningkatan produktivitas kerja masyarakat.
BPS juga mencatat bahwa jumlah penduduk usia kerja di Maluku pada Februari 2026 mencapai 1.487.538 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.009.110 orang masuk kategori angkatan kerja, sementara 478.428 orang lainnya termasuk bukan angkatan kerja.
Komposisi angkatan kerja terdiri atas 950.552 orang bekerja, sementara 58.558 orang pengangguran.
Tentu, data keadaan ketenagakerjaan di Maluku ini menjadi pertimbangan daerah untuk bagaimana mampu mengakomodasi dengan sehat warganya yang belum mendapatkan pekerja. (*)