Guyur Rp 2 Triliun/ Hari demi Jaga Rupiah, Purbaya Ngaku Punya Napas Panjang
GH News May 19, 2026 11:08 PM
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah mengguyur Rp 2 triliun per hari ke pasar obligasi. Langkah ini diambil Purbaya untuk meredakan tekanan Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah.

"Ketika rupiah melemah dari bulan Januari ke bulan April kemarin melemah signifikan, orang kan bilang capital outflow. Saya lihat dong outflow-nya di mana sih yang paling besar ternyata di bond market juga cukup signifikan," ujar Purbaya dalam Konferensi pers APBN KiTA di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (19/5/2026).

"Januari sampai April kemarin cuma berapa? Rp 21 triliun, rupiah melemah dengan signifikan seperti itu. Jadi saya bilang kalau cuma Rp 21 triliun mah gampang jaganya, saya punya uang cukup. Target pertama itu, mengembalikan yield ke level sebelumnya," sambung Purbaya.

Dalam hal ini menjelaskan dana yang digelontorkan ke pasar obligasi itu berasal dari pengelolaan kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini nilainya sudah mengalami peningkatan mencapai Rp 434 triliun.

"Anda ingat kan saya punya SAL, Rp 430 ya? SAL kita berapa? Tadi naik kayaknya. Rp 434 triliun, jadi napas saya panjang," tutur Purbaya sembari bertanya ke jajarannya.

Namun saat ditanya lebih jauh apakah dana untuk intervensi di pasar obligasi domestik ini seluruhnya hanya bersumber dari SAL, Purbaya mengelak. Ia juga enggan untuk menjelaskan lebih jauh sumber dana lain yang dimaksudkan.

"Mau pengin tahu saja, suka-suka saya. Nggak, kita pakai semua sumber dana yang ada secara optimal, gitu saja, bukan hanya SAL," tegasnya.

Lebih lanjut Purbaya memastikan jika dana pemerintah masih sangat cukup untuk terus melakukan intervensi di pasar modal.

Bahkan jika kepepet, ia bisa mengandalkan bantuan dari sejumlah badan usaha yang berada di bawah Kemenkeu seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) atau Indonesia Investment Authority (INA).

Sehingga sampai saat ini pemerintah belum membutuhkan bantuan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk menjaga pasar obligasi demi menarik kembali minat investor asing dan menahan nilai tukar rupiah.

"Kita baru cash management saja untuk memastikan harga bond-nya stabil. Kalau saya mampu sendirian saya kerjaan sendiri. Jadi belum bisa, belum memanggil yang lain-lain," terang Purbaya.

"Saya masih banyak punya cadangan tenaga bantuan kalau kepepet. Ada SMI, ada INA, ada ini, ada banyak tuh. Di bawah saya langsung. Jadi kita tidak memakai Danantara untuk menjaga stabilitas ini karena kekuatan kita cukup," sambungnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.