Belasan BRT Mangkrak di Terminal Km 6, Kadishub Kalsel: Menunggu Kepastian Regulasi dan Anggaran
Ratino Taufik May 20, 2026 07:50 AM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Belasan Bus Rapid Transit (BRT) Banjarbakula berwarna biru diparkir berjajar di Terminal Tipe B Kilometer Enam, Jalan Pramuka, Kota Banjarmasin. Armada yang dulunya melayani rute Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Baritokuala dan Tanahlaut ini tak lagi berfungsi.

Kondisi luar bus tampak baik. Namun saat dilihat ke bagian dalam, sejumlah kursi dan area kemudi dipenuhi debu.

Awalnya bus itu diparkir di kantor Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan Jalan Belitung Banjarmasin. Seorang pedagang kantin di Terminal Km 6, Riyamah, mengatakan armada tersebut sudah ada di lokasi ini sekitar dua bulan. “Kayanya sudah sekitar dua bulan mangkrak di sini dan satu bulan belakang sudah tidak jalan sama sekali,” ujarnya, Senin (18/5).

Ia mendengar kabar sejumlah sopir BRT dialihkan untuk bertugas di bus Buy the Service (BTS) Trans Banjarbakula. “Kalau sopir BRT katanya dipindah jadi kernet di bus hijau tayo. Tapi detailnya saya kurang tahu,” ujarnya.

Kepala Terminal Km 6, M Ihwanul Muslimin, membenarkan sebagian besar armada BRT sudah tidak beroperasi. “Awal 2026 dipindah ke terminal ini,” ujarnya.

Pengelola terminal hanya menyediakan lokasi parkir dan tidak mendapat instruksi mengenai perawatan atau pengoperasian armada. “Untuk pegawai BRT dipindahkan jadi navigator bus BTS,” tambahnya.

Baca juga: Ngamar di Hotel, 8 Pasangan Bukan Suami Istri di Tanahbumbu Terjaring Razia Satpol PP

Meski sebagian besar armada berhenti beroperasi, Ihwan menyebut masih ada beberapa BRT digunakan untuk melayani rute ke kawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru. “Sebetulnya ada dua sampai tiga BRT yang masih operasional, tapi cuma satu koridor yakni ke kawasan gubernuran dan Pemprov. Untuk mengantarkan pegawai yang kerja di sana,” jelasnya.

Layanan tersebut juga terbuka untuk masyarakat umum. Namun sementara ini hanya ada satu tujuan, tanpa adanya titik pemberhentian. “Jadi memang spesifik tujuan ke sana saja. Untuk rute-rute lama sekarang dicover sama bus BTS,” tambah Ihwan.

Mengenai kelanjutan pengoperasian BRT Banjarbakula, pengelola terminal menunggu arahan pimpinan di Dishub Kalsel. “Ke depannya kami belum tahu. Menunggu informasi dari pimpinan,” pungkasnya.

Kadishub Kalsel Fitri Hernadi tak menampik operasional BRT Banjarbakula sementara ini harus vakum. “Tetapi, kami memastikan program ini akan tetap lanjut. Namun, operasional baru masih menunggu kepastian regulasi dan anggaran,” ujarnya, Senin.

Dishub Kalsel sedang menyusul rute baru yang difokuskan melayani kawasan perkantoran. Awalnya, layanan tersebut direncanakan menggunakan pola BTS seperti bus tayo. Namun, rencana itu belum dapat dijalankan karena dasar hukum terkait aset dan pembiayaan belum rampung.

Fitri menegaskan pihaknya memilih berhati-hati agar operasional layanan tidak menimbulkan persoalan hukum. “Daripada jalan tanpa kejelasan anggaran malah jadi bumerang, lebih baik kami bereskan sampai jelas dasar hukum dan anggarannya,” ujarnya.

Saat ini kondisi armada menjadi perhatian. Dari total 16 BRT, sebanyak 11 unit dioperasikan sejak 2019 dan mulai memasuki masa overhaul atau peremajaan besar.

Fitri mengaku tidak ingin memaksakan armada tetap beroperasi apabila tidak lolos pemeriksaan kelayakan kendaraan atau rampcheck. “Kami tidak ingin memaksakan bus yang AC-nya tidak dingin, oli bocor, ban tipis, kotor, dan sejenisnya tetap melayani masyarakat. Semua harus memenuhi standar pelayanan,” tegasnya.

Selain pembenahan armada, Dishub sedang membahas rencana layanan shuttle menuju kawasan perkantoran dari Simpangempat Banjarbaru melalui Jalan Trikora. Namun, rencana itu masih dikaji karena berpotensi tumpang tindih dengan trayek bus BTS.

Fitri mengatakan target penerapan pola BTS untuk layanan BRT masih membutuhkan sejumlah penyelesaian teknis dan regulasi. Dishub Kalsel menargetkan pola layanan tersebut dapat berjalan penuh pada 2027.

Di sisi lain, Fitri juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas semakin lamanya durasi perjalanan pada beberapa koridor layanan bus tayo, khususnya koridor 1 dan 2.

Menurut Fitri, penambahan halte membuat waktu tempuh dan ritase perjalanan menjadi lebih panjang. Namun langkah itu diambil untuk mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat.

“Kemungkinan jumlah halte yang dilayani ke depan juga akan bertambah sebagai bentuk mitigasi terhadap meningkatnya tingkat keterisian penumpang atau loading factor,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman/muhammad saiful riki)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.