Kisah SMAN 1 Sambas Juara LCC 4 Pilar dan Wakili Kalbar ke Nasional, Bangga Tapi Diserang di Medsos
Dhita Mutiasari May 20, 2026 08:45 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Perwakilan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mengunjungi SMA Negeri 1 Pontianak dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada para pelajar, Selasa 19 Mei 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, serta Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah.

Keduanya hadir didampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat serta Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati.

Selain memberikan sosialisasi terkait Empat Pilar MPR RI, kunjungan tersebut juga menyinggung polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat Kalimantan Barat yang sempat menjadi perhatian publik beberapa waktu lalu.

Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto mengatakan, kedatangan pihaknya juga sebagai bentuk balasan atas kunjungan Kepala SMAN 1 Pontianak bersama para siswa ke Jakarta sebelumnya.

“Yang pertama kami hadir untuk membalas kunjungan Bu Kepala SMA Negeri 1 Pontianak yang kemarin sudah berkunjung bersama anak-anak ke Jakarta,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MPR RI juga memberikan apresiasi terhadap sikap yang ditunjukkan pihak sekolah pasca polemik LCC yang terjadi pada 9 Mei 2026 lalu.

• Sempat Vakum 4 Hari akibat Polemik LCC, SMAN 1 Sambas Akhirnya Mantap Berangkat ke Jakarta

Menurutnya, persoalan tersebut telah dievaluasi dan dijadikan pelajaran bersama.

“Kejadian waktu itu tanggal 9, lalu tanggal 10 Mei sekolah libur, kami sudah merapatkan persoalan itu. Kemudian viral dan menjadi evaluasi bagi kami dalam pelaksanaan selanjutnya,” katanya.

Abraham menyebut, pimpinan MPR RI sempat memutuskan untuk menggelar pertandingan ulang.

Namun, setelah mempertimbangkan kondisi psikologis para siswa, keputusan tersebut akhirnya dikaji kembali. 

Selain itu, pihak SMAN 1 Pontianak sudah menyampaikan pernyataan sikap atas polemik tersebut. Salah satunya tidak akan mengikuti ulang LCC di tingkat daerah, dan mendukung SMA N 1 Sambas mewakili Kalbar ke tingkat nasional. 

“Pimpinan MPR sudah memutuskan untuk tanding ulang, tapi ternyata ini juga mempengaruhi mental anak-anak. Kami berpikir tujuan Empat Pilar untuk sosialisasi ini justru sudah diimplementasikan oleh pelajar kita melalui sikap nasionalisme, persatuan, dan toleransi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, MPR RI juga menyampaikan telah menerima masukan dari pihak sekolah dan berbagai pihak terkait hasil LCC tersebut.

Hasilnya, diputuskan bahwa SMA Negeri 1 Sambas tetap akan mewakili Kalimantan Barat pada ajang LCC Nasional.

Sementara itu, juru bicara peserta LCC 4 Pilar SMAN 1 Sambas mengaku perjalanan mereka hingga menjadi juara sebenarnya di luar ekspektasi.

“Kami sebenarnya tidak banyak ekspektasi. Kami bahkan kaget bisa mendapat nilai tinggi dan lolos ke tingkat provinsi,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalaman mengikuti LCC tingkat provinsi di Pontianak menjadi momen berharga karena bisa bertemu pelajar-pelajar terbaik dari berbagai sekolah di Kalbar.

“Kami bertemu teman-teman hebat dari SMA lain, termasuk SMAN 1 Pontianak yang menurut kami keren karena tahun lalu sampai tingkat nasional. Kami juga bertemu SMA Santo Petrus, SMA Paulus dan sekolah lainnya,” katanya.

Saat undian babak penyisihan, timnya sempat grogi karena harus berhadapan dengan sekolah-sekolah unggulan.

“Waktu dapat undian nomor B4 dan bertemu SMA Santo Paulus, kami deg-degan sekali. Kami berpikir apakah bisa sampai final,” ujarnya.

Namun hasil di luar dugaan membawa SMAN 1 Sambas ke babak final bertemu dengan SMAN 1 Pontianak. Namun hasil akhir menempatkan mereka diposisi nilai tertinggi pada hasil akhir.  

“Kami tidak menyangka bisa juara satu. Awalnya kami berpikir juara berapa pun tidak masalah, yang penting pulang membawa pengalaman,” katanya.

Kemenangan itu ternyata dibarengi gelombang serangan di media sosial yang langsung mereka rasakan bahkan sebelum tiba kembali di Sambas.

“Belum pulang ke Sambas saja kami sudah banyak menerima hujatan. Rasanya campur aduk, senang karena bawa piala, tapi sedih karena diserang di media sosial,” ungkapnya.

Meski sempat terpuruk, dukungan keluarga, guru, dan orang-orang terdekat membuat mental mereka perlahan bangkit.

“Awalnya kami down, tapi lama-lama mulai terbiasa. Dukungan orang-orang terdekat membuat mental kami lebih kuat menghadapi semuanya,” katanya.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh pihak menghentikan perpecahan dan kembali mengedepankan persatuan sebagai generasi penerus bangsa.

“Mari bersama-sama, baik SMAN 1 Sambas maupun SMAN 1 Pontianak, kita semua penerus bangsa yang suatu hari nanti bisa menjadi pemimpin. Tapi yang paling utama bagi kita adalah NKRI harga mati,” pungkasnya. 

 
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.