Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya
asto s May 20, 2026 09:49 AM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp17 ribu membuat para produsen tempe dan tahu di Kota Jambi mulai ketar-ketir. Pasalnya, bahan baku utama berupa kacang kedelai masih bergantung pada pasokan impor dari kawasan Amerika Selatan.

Salah satu produsen tempe dan tahu di Jalan Fatahillah, RT 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Fauzan Mahbub, menuturkan hingga kini stok bahan baku masih tersedia dan distribusi kedelai belum mengalami gangguan.

Namun, ia belum bisa memastikan kondisi harga dalam beberapa hari ke depan setelah nilai tukar dolar AS terus mengalami kenaikan.

"Untuk stok masih aman. Tapi kita belum tahu dua sampai tiga hari ke depan bagaimana harga bahan bakunya," kata Fauzan saat ditemui Tribun Jambi di rumah produksinya.

Biaya Produksi Naik

Menurut Fauzan, kenaikan dolar AS sangat mempengaruhi biaya produksi tempe dan tahu, karena kedelai yang digunakan berasal dari luar negeri.

Selama ini, kata dia, produsen di Jambi mengandalkan kedelai impor lantaran produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Pokoknya daerah Amerika dan sekitarnya lah. Tidak pure (murni) dari Amerika Serikat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kedelai yang digunakan berasal dari sejumlah negara di Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat para pengrajin tempe dan tahu sulit menghindari dampak fluktuasi kurs dolar terhadap harga produksi.

Menaikkan Harga Jual

Dalam empat bulan terakhir saja, harga kedelai terus mengalami kenaikan.

Fauzan menyebut pada Desember 2025 harga kedelai masih berada di angka Rp9 ribu per kilogram. 

Namun, pada April 2026, harga melonjak menjadi sekitar Rp10.900 hingga Rp11 ribu per kilogram.

Kenaikan harga bahan baku itu akhirnya memaksa produsen menaikkan harga jual. Untuk tahu, harga yang sebelumnya Rp650 per potong kini naik menjadi Rp700 per potong.

Sementara harga tempe naik dari Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu per potong.

"Karena harga bahan baku naik sekitar Rp2 ribu atau hampir 20 persen, mau tidak mau harga jual juga ikut naik," jelasnya.

Dalam sehari, rumah produksi milik Fauzan mampu mengolah sekitar 500 kilogram tahu.

Sedangkan produksi tempe mencapai rata-rata 350 kilogram per hari yang dikelola bersama anggota keluarganya.

“Kalau tempe itu usaha keluarga, dijalankan sama adik saya,” katanya.

Fauzan berharap pemerintah dapat mencari solusi jangka panjang melalui swasembada kedelai agar produsen tidak terus bergantung pada impor dan terpengaruh gejolak dolar AS.

“Kalau bisa, ya, swasembada kedelai. Tapi pemerintah sudah sering mencoba dan sampai sekarang belum berhasil,” imbuhnya.

120-an Produsen di Kota Jambi

Dia juga menyebut jumlah produsen tempe dan tahu di Kota Jambi cukup banyak. 

Diperkirakan terdapat sekitar 120 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut.

Di kawasan Kelurahan Rajawali saja terdapat sekitar 40 kepala keluarga produsen tempe dan tahu. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Petani Sawit Jambi Waswas Dolar Menguat, Pupuk Bisa Naik Ratusan Ribu

Baca juga: Al Haris Ungkap Rencana Jalur Kereta Api Batu Bara Jambi Rute Bungo-Sarolangun-Kemingking

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.