Lintas Agama Masuk Kampus, Penyuluh Kemenag Pangkalpinang-UBB Kompak Suarakan Moderasi
Ardhina Trisila Sakti May 20, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Penyuluh Lintas Agama Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang melakukan kolaborasi strategis dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui sesi pembelajaran interaktif yang menyasar generasi muda, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Babel I, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mempertemukan dua perspektif krusial dalam kehidupan berbangsa yakni moderasi beragama dan ekoteologi.

Sebanyak 29 mahasiswa hadir mengikuti jalannya perkuliahan yang diinisiasi oleh Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) UBB, Susilawati.

Kehadiran penyuluh dari Kemenag Pangkalpinang, yakni Yohanes Bosco Otto dan Neng Ilma Aprilyanti, memberikan dimensi baru dalam ruang kelas melalui pendekatan praktis dan teologis yang inklusif.

"Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas cakrawala berpikir mahasiswa agar tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual dalam menghadapi isu-isu kontemporer," ujar Susilawati.

Keterlibatan aktif penyuluh lintas agama dalam lingkungan kampus diharapkan mampu menciptakan laboratorium keberagaman yang sehat. 

"Dengan mengintegrasikan isu ekoteologi ke dalam diskursus agama, para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis," bebernya.

Lebih lanjut Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pangkalpinang Neng Ilma Aprilyanti mengatakan pentingnya moderasi beragama. 

"Pendekatan sesama generasi muda memudahkan transformasi nilai-nilai toleransi, agar lebih mudah diterima tanpa terkesan menggurui," tutur Neng Ilma Aprilyanti. 

Senada diungkapkan Yohanes Bosco Otto, selain menjabat sebagai Penyuluh Lintas Agama juga merupakan Dosen Luar Biasa Agama Katolik di UBB, memaparkan konsep Ekoteologi. 

"Ekoteologi mengajak mahasiswa untuk menyadari bahwa menjaga alam bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan panggilan iman yang mendalam. Kita ingin generasi muda memahami bahwa merusak alam berarti mencederai nilai-nilai ketuhanan yang ada dalam setiap ajaran agama," ucap Yohanes Bosco.

Melalui kolaborasi ini merupakan langkah konkret, untuk mempertemukan pemahaman antarumat beragama di ruang akademis. 

"Melalui pembelajaran kolaboratif ini, kita membangun jembatan komunikasi lintas iman sekaligus membekali mahasiswa dengan etika lingkungan yang kuat," ungkapnya.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.