Cerita Ojol Tarakan Rela Kehilangan Pelanggan Demi Ikut Aksi di DPRD, Ilham: Makan Nasi dan Garam
Junisah May 20, 2026 05:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN  - Terik matahari tak menyurutkan semangat ratusan Pengemudi ojek online (Ojol) di Tarakan Kalimantan Utara mengikuti aksi unjuk rasa menyuarakan keresahan mereka di halaman Kantor DPRD Tarakan hari ini, Selasa (20/5/2026).

Sejak pagi, para Pengemudi Ojol berkumpul dan mengikuti aksi penyampaian aspirasi hingga siang. Kedatangan mereka di Kantor DPRD Tarakan dengan satu harapan, agar kondisi yang mereka rasakan selama beberapa bulan terakhir mendapat perhatian.

Di antara para Pengemudi Ojol yang melakukan aksi unjuk rasa tersebut, ada Ilham. Ia mengaku sejak tahun 2019 sudah menjadi Ojol.

Ilham siang tadi tengah sibuk mengumpulkan kue kotakan sisa yang tak habus dimakan oleh tamu undangan dalam pertemuan. Satu per satu kotak kue dibuka.

Baca juga: Wakil Wali Kota Tarakan Ibnu Saud Is Sebut Kewenangan Daerah Terbatas, Dukung Tuntutan Ojol

Kata Ilham, kue itu ia kumpulkan untuk dibawa pulang dan di makan buat ketiga anak yang dimiliknya. 

Jika tak ikut aksi unjuk rasa, ia sudah bisa dapat tiga pelanggan apabila stanby sejak pagi. Namun karena rasa solidaritasnya, ia memilih bergabung bersama ratusan rekan-rekannya yang lain sesama Ojol untuk menyampaikan keresahan dan harapannya.

Dengan wajah lelah, Ilham ikut berbagi cerita bagaimana pendapatannya kini terus menurun dan bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

“Kalau keadaan sekarang pendapatan kami di bawah Rp100 ribu per hari. Itu sudah bersih, tapi tidak sampai Rp100 ribu,” ujar Ilham saat ditemui usai mengikuti aksi unjuk rasa.

Menurutnya, kondisi itu mulai terasa sejak Februari lalu. Ia menilai perekrutan driver yang terus berlangsung tanpa batas membuat orderan semakin sulit didapatkan.

“Yang dulunya dapat sekian trip dalam sehari, sekarang 10 trip saja susah,” kata Ilham. 

Baca juga: Ketua DPRD Tarakan Siap Sampaikan Tuntutan Ojol ke Pusat, Besok akan Undang Aplikator

Ilham mengaku, ia bisa bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam, namun penghasilannya tetap kecil.

“Mulai pagi sampai jam 12 malam, kadang tidak sampai 10 trip,” ungkapnya.

Padahal, saat awal bergabung menjadi driver pada 2019, kondisi masih cukup baik. Saat itu masih ada insentif dari aplikator.

“Dulu 18 trip per hari dapat insentif Rp75 ribu. Tapi sekarang insentif sudah hilang,” ujarnya.

Tak hanya soal sepinya orderan, Ilham juga menyoroti besarnya potongan aplikasi yang menurutnya memberatkan driver.

Ia memberi contoh layanan pengantaran barang atau express yang disebutnya memiliki potongan sangat besar.

“Customer bayar Rp14 ribu, tapi kami terimanya cuma Rp7.500. Berarti potongan aplikasi itu bisa lebih dari 20 persen,” katanya.

Bahkan, menurut Ilham, ia pernah mengalami potongan hingga hampir setengah dari tarif yang dibayar pelanggan.

“Saya pernah dapat potongan sampai 46 persen,” ucapnya.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat Ilham harus berhemat dalam banyak hal, termasuk membeli bensin.

Jika dulu ia biasa mengisi BBM di SPBU, kini ia lebih sering membeli bensin eceran botolan.

“Selama ini saya cuma beli botolan. Karena disesuaikan dengan pemasukan kami,” katanya.

Begitu juga motor. Seharusnya motor yang ia kendarai wajib service atau perawatan setiap bulan atau per tiga bulan. Namun ia tak bisa lakukan perawatan apalagi ganti spare part sehingga kondisi motor seadanya tetap dipaksakan dipakai bekerja. 

Tak hanya itu, kebutuhan rumah tangga pun semakin sulit terpenuhi. Ilham mengaku terkadang harus meminta bantuan keluarga demi makan sehari-hari.

“Kadang saya minta tolong sama keluarga, kadang makan seadanya,” ujarnya pelan.

Bahkan, ia mengaku pernah hanya makan nasi dengan garam.

“Berapa kali makan cuma nasi sama garam. Ini serius tidak bohong,” kata Ilham.

Penghasilan yang tak menentu juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Dari tiga anak yang dimilikinya, anak sulungnya terpaksa tidak melanjutkan sekolah di SMA karena keterbatasan biaya.

“Harusnya kemarin masuk sekolah, tapi tidak jadi karena tidak ada biaya,” katanya.

WAWALI TARAKAN- Wakil Wali Kota (Wawali) Tarakan, Ibnu Saud Is saat menerina kedatangan para ojol di Kantor DPRD Tarakan, Rabu (20/5/2026).
WAWALI TARAKAN- Wakil Wali Kota (Wawali) Tarakan, Ibnu Saud Is saat menerina kedatangan para ojol di Kantor DPRD Tarakan, Rabu (20/5/2026). (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Selama dua tahun terakhir ini, beruntung Ilham dan istri bersama anaknya tinggal menumpang di rumah kenalannya  di kawasan Perumnas, Tarakan. Ia mengaku sudah hampir dua tahun tinggal di sana bersama keluarganya tanpa membayar sewa.

“Saya sangat berterima kasih kepada beliau Bapak Husni, beliau mengajak saya numpang di rumahnya,” tuturnya.

Rumah Bapak Husni ada dua pintu. Awalnya ditinggali oleh sang anak di pintu sebelah. Karena tak tega melihat Ilham dan keluarga, maka sang anak pindah ke rumah ayahnya tinggal bersama. Sehingga pintu sebelah digunakan oleh Ilham sekeluarga.

"Tidak disuruh bayar kami, kami sebenarnya tidak enak menumpang tapi mau bagaimana penghasilan seperti ini," ungkapnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ilham tetap bertahan menjadi driver Ojol karena sulitnya mencari pekerjaan lain di Tarakan.

“Mau tidak mau di jalanan saja jadi ojol ini, supaya kompor di rumah tetap menyala buat istri dan anak. Kami harap ada kebijakan yang berubah dari pusat supaya berdampak sama pendapatan kami,” pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.