TRIBUNKALTIM.CO - Besok, Kamis bertepatan dengan tanggal 21 Mei yang disebut Hari Reformasi, salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia.
Sederet peristiwa terjadi tahun 1998 lalu hingga puncaknya terjadi di tanggal 21 Mei yang melahirkan Orde Reformasi.
Kini, tanggal 21 Mei disebut sebagai Hari Reformasi.
Peristiwa di tanggal 21 Mei 1998 menjadi penanda berakhirnya era Orde Baru sekaligus awal lahirnya masa Reformasi yang membawa perubahan besar dalam sistem politik, pemerintahan, dan demokrasi di Indonesia.
Baca juga: Hadapi Rencana Demo 21 Mei 2026 di Samarinda, Satpol PP Kerahkan 195 Personel
Bukan hanya menjadi pengingat sejarah, peringatan Hari Reformasi juga momentum refleksi bagi masyarakat untuk memahami perjalanan demokrasi bangsa.
Hari Reformasi adalah peringatan atas runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat di berbagai daerah.
Gerakan Reformasi muncul sebagai bentuk tuntutan terhadap perubahan sistem pemerintahan yang dinilai tidak lagi berpihak kepada rakyat.
Sejak saat itu, Indonesia memasuki era baru yang dikenal sebagai Era Reformasi.
Melansir website humas Universitas Trisakti, munculnya Reformasi 1998 tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gerakan tersebut, mulai dari krisis ekonomi hingga ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat itu.
1. Krisis Ekonomi 1997–1998
Indonesia mengalami krisis moneter yang sangat berat pada tahun 1997–1998.
Nilai tukar rupiah melemah drastis, harga kebutuhan pokok melonjak, dan angka pengangguran meningkat tajam.
Kondisi ini memicu keresahan sosial dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
2. Tuntutan Reformasi Politik
Selain masalah ekonomi, masyarakat juga menuntut perubahan dalam sistem politik yang dianggap terlalu tertutup dan otoriter selama masa Orde Baru.
Mahasiswa menjadi kelompok yang paling aktif menyuarakan reformasi dengan membawa sejumlah tuntutan, seperti:
3. Tragedi Trisakti
Salah satu peristiwa penting yang memperkuat gelombang Reformasi adalah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998.
Dalam peristiwa tersebut, empat mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia akibat bentrokan saat demonstrasi.
Kejadian ini memicu aksi demonstrasi yang lebih besar di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak dari sejumlah demonstrasi dan tragedi berdarah Trisakti ini, sidang paripurna pun diusulkan untuk digelar.
Ketua DPR/MPR waktu itu Harmoko menyatakan kepada pers, Wakil Ketua dan Ketua Dewan setuju menggelar sidang paripurna pada 19 Mei 1998.
Sejumlah tokoh turut diundang ke Istana untuk berdiskusi soal masalah ini.
Mereka adalah Emha Ainun Nadjib, Megawati, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Nurcholis Madjid, dan tokoh lainnya.
Gelombang demonstrasi mahasiswa terus meluas hingga akhirnya pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan pengunduran diri dari jabatannya.
Pengunduran diri tersebut diumumkan di Istana Merdeka dan menjadi akhir dari pemerintahan Orde Baru yang telah berlangsung sejak 1966.
Setelah reformasi terjadi amandemen UUD yang mengatur tentang kebebasan berpendapat, jaminan perlindungan HAM, dan kepastian hukum di Indonesia.
Selain itu dampak reformasi membuat Indonesia menjadi negara yang lebih demokratis dengan dilaksanakannya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, pemilihan langsung Kepala Daerah, dan banyaknya partai politik bermunculan.
Jabatan presiden kemudian dilanjutkan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia.
Untuk mengenang peristiwa bersejarah ini, maka setiap tanggal 21 Mei diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional.
Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan peringatan reformasi Indonesia sejak tahun 1998.
Baca juga: Soal Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, PDIP: Pemerintah Seperti Tuli dan Abai
(Tribunnews.com/Latifah)