Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Lampung mengungkapkan tips aman mengonsumsi daging momen Hari Raya Idul Adha 2026.
Ketua IDI Provinsi Lampung, dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban adalah memastikan hewan dalam kondisi sehat. Serta melakukan proses pengolahan dengan tepat.
Ia memaparkan, setiap makhluk hidup secara alami tidak pernah luput dari keberadaan mikroorganisme di dalam tubuhnya.
"Sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang tidak membawa virus atau bakteri, karena keberadaan parasit, bakteri, maupun kuman pada hewan termasuk hewan kurban merupakan hal yang relatif alami terjadi," ujar dr. Josi Harnos, Rabu (20/5/2026).
Oleh karena itu, ia menyebut faktor penentu aman atau tidaknya bahan pangan tersebut sangat bergantung pada bagaimana masyarakat memprosesnya.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Hewan Kurban di Bandar Lampung Telah Divaksin, Kandang Ditempel Stiker
"Dalam pengolahan bahan makanan (hewan kurban), ini bisa menjadi bahaya, artinya jika dalam proses pengolahannya tidak dilakukan dengan benar," ujarnya.
Masyarakat diminta untuk memahami karakteristik dari masing-masing jenis mikroorganisme, seperti virus dan bakteri.
Ia mencontohkan bahwa virus memiliki sifat penuaan alami atau dikenal dalam istilah medis sebagai self-limiting disease.
"Kalau virus itu kan sifatnya kan self-limiting disease, jadi dia ada batas usianya untuk bisa hidup di dunia ini. Umumnya virus dan bakteri pada umumnya akan mati jika terpapar suhu panas yang tinggi," jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya memastikan suhu masakan berada pada titik didih yang optimal selama proses pelunakan daging.
"Pada derajat tertentu, seperti misalnya nih, direbus dalam air yang memang kondisinya 100 derajat Celcius, dia akan mati," tambahnya.
Hal yang sama juga berlaku untuk jenis mikroorganisme lain seperti parasit yang kerap menempel pada daging hewan.
Melalui pendekatan tersebut, Josi menekankan bahwa proses pengolahan memegang peranan yang jauh lebih krusial.
Masyarakat diminta memastikan seluruh hidangan berbahan dasar daging dimasak hingga benar-benar matang sebelum disajikan.
"Pastikan bahwa kita sudah memproses mengolah itu dengan kondisi yang sudah benar-benar matang, bukan setengah matang," tegas dr. Josi.
Di samping itu, ia juga menyebut bahea sistem penyaringan dan penjaringan hewan kurban harus dilakukan dengan ketat sebelum disembelih dan dikonsumsi masyarakat.
Ia menyebut, sejauh ini proses penjaringan dan penyaringan hewan kurban di tengah masyarakat sudah cukup baik.
Namun, ia mengatakan bahwa status hewan yang dinyatakan sehat secara administratif bukan berarti dagingnya bersih total dari mikroorganisme.
"Sehat dalam arti kata bukan tidak ada penyakit sama sekali, bukan tidak ada parasit, virus atau bakteri sama sekali," tuturnya.
Kontak antar makhluk hidup serta paparan udara bebas membuat keberadaan kuman pada tubuh hewan menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
Oleh karena itu, langkah preventif pertama yang wajib dilakukan sebelum memasak adalah membersihkan daging di bawah air mengalir, hingga memastikan pengolahan daging menggunakan suhu di atas 100 derajat Celcius.
Disinggung mengenai dampak terhadap tubuh bagi yang mengonsumsi daging terpapar penyakit, Josi menyebut bahwa reaksi tubuh setiap orang akan berbeda-beda.
Menurutnya, tingkat keparahan gangguan kesehatan akibat mengonsumsi daging sangat dipengaruhi oleh kualitas imunitas individu.
"Dampak itu tergantung manusianya, jadi tidak bisa dipukul rata. Faktor kondisi fisik, usia, serta riwayat penyakit bawaan dari konsumen menjadi variabel penentu yang sangat penting," kata dia.
"Contoh, kalaupun ada tulisan tertera Sate kambing sehat, tapi yang konsumsi ada pada orang-orang dengan usia 60 tahun dengan riwayat penyakit jantung koroner, maka itu akan berdampak sangat bahaya," jelasnya.
IDI Bandar Lampung meminta masyarakat untuk menggunakan akal sehat dan menjaga porsi makan agar tidak timbul masalah baru.
Masalah kesehatan yang muncul pasca-lebaran sering kali bukan disebabkan oleh virus hewan, melainkan karena kambuhnya penyakit degeneratif.
"Jadi masalahnya bukan hanya dari parasitnya, bakteri atau virusnya. Jangan sampai kita kena serangan stroke gara-gara kolesterolnya naik karena (mengonsumsi daging) berlebih," ungkapnya.
Lebih lanjut, Josi mengingatkan masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas dengan mengenali batasan dan toleransi tubuh masing-masing.
Menurutnya, tanggung jawab terbesar untuk menjaga kesehatan bukan pada pedagang ataupun panitia kurban, melainkan di tangan konsumen itu sendiri.
"Semua ajaran agama selalu melarang tindakan yang melewati batas wajar, dan berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi daging kurban," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)