Mitos di Cisadane Panaragan Kota Bogor, Warga Harus Mendekat ke Bantaran Sungai Saat Air Meluap
Vivi Febrianti May 20, 2026 06:05 PM

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Kampung Panaragan RW 007, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, menjadi salah satu kampung padat penduduk yang berada di bantaran Sungai Cisadane.

Warga setempat memanfaatkan air sungai itu untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga setempat juga ternyata masih memegang mitos yang sudah ada sejak lama atau turun temurun.

Ketua RW setempat Dede Suparman mengatakan, mitos yang dipegang itu saat air Sungai Cisadane mulai naik ke permukaan rumah warga.

"Ya memang sudah diketahui oleh semua warga di sini mitos itu. Mereka juga sudah tahu semuanya," kata Dede kepada TribunnewsBogor.com di Panaragan, Rabu (20/5/2026).

Saat air naik warga malah dianjurkan untuk mendekat ke bantaran sungai.

Warga itu harus melihat air jika tidak ingin air itu naik dan sungai terus mengamuk.

Jika sudah dilihat, air yang naik ke permukaan akan kembali lagi ke alirannya.

"Sambil ucap, air ini jangan sampai membahayakan untuk warga. Ya. Oke. Ketika memang jalur eh laju dia mau jalan, silakan jalan, tapi jangan sampai membahayakan warga," ujarnya.

Ia setiap hari beraktifitas di bantaran sungai sebab rumah yang ia tinggali bersama keluarganya berada di lokasi yang sama.

Alat pendeteksi banjir atau Early Warning System memang sudah terpasang di bantaran sungai.

Alarm itu akan bunyi saat air sungai naik dan tinggi.

Namun, beberapa warga yang masih memegang mitos ini akan langsung mendekat ke aliran sungai.

Mereka akan melihat langsung agar air ini tidak terus naik.

"Makanya warga ketika dihidupkan sirene, dia semua pada ke sini. Melihat. Sebagian ada yang membenahi barang-barangnya untuk mengevakuasi ya, sebagian melihat gitu," ujarnya.

Dede yang sudah tinggal di Panaragan selama 52 tahun ini tetap memegang mitos turun temurun ini.

Ia membuktikan sendiri ketika air naik namun tidak ada warga yang mendekat ke aliran sungai.

Air Sungai Cisadane itu terus naik dan malah membanjiri rumah warga.

"Jadi Lurah, Camat sudah pada tahu, karena yang saya buktikan juga demikian. Jadi bukan katanya "Oh ini mah halu, halu." Ya terserah, tapi saya yang membuktikan karena saya berdekatan langsung dengan interaksi langsung dengan Kali Sadane itu," ucapnya.

Keluarga Dede juga masih memegang mitos turun temurun ini.

Jika Dede tidak ada di lokasi, keluarganya langsung mendekat ke Sungai saat aliran air mulai meluap.

"Jadi ketika saya tidak ada, mungkin ada kakak saya. Ya. Kakak saya langsung (melihat ke Sungai) dan sudah paham juga," ucapnya.

Dalam ingatannya, air ini meluap dan membuat kampungnya kebanjiran cukup parah yakni pada tahun 1974 lalu.

Saat itu banjir setinggi dada orang dewasa.

Lalu, banjir juga terjadi sekira tahun 2000 dan terakhir di tahun 2023 lalu.

Saat tahun 2023, banjir merendam beberapa rumah warga.

Lumpur juga mengotori kampung yang letaknya tidak jauh dari Balai Kota Bogor.

Namun, banjir ini tidak menimbulkan korban jiwa sebab warga sudah mengetahui akan ada banjir melalui alarm pendeteksi banjir.

Ia berharap air Sungai Cisadane di Panaragan ini tidak meluap kembali.

Ia berpesan agar warga di kampungnya ini menjadikan Sungai Cisadane sebagai sahabat.

"Intinya kita yang tinggal disini harus menjadikan Sungai Cisadane sebagai sahabat," tandasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.