Rahasia Toko Kelontong di Semarang Bertahan 19 Tahun di Tengah Gempuran Ritel Modern dan Era Digital
Karunia Rahma Dewi May 20, 2026 08:07 PM

TRIBUNBATAM.id - Sebuah toko kelontong di Jalan Mulawarman, Tembalang, Kota Semarang, tetap berdiri kokoh, di tengah kepungan minimarket modern yang menjamur hingga ke pelosok gang.

Toko Ta dan Ti, milik pasangan Suparno (61) dan Sumarni (56), bukan sekadar tempat belanja, melainkan simbol kegigihan yang berhasil menjinakkan zaman.

Sejak berdiri pada 2006, toko ini telah berevolusi dari sekadar penjual alat tulis hingga menjadi pusat kebutuhan digital warga sekitar. 

Inilah strategi mendalam di balik kesuksesan Toko Ta dan Ti yang bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha mikro lainnya.

Evolusi Strategi

Memulai bisnis hampir dua dekade lalu, Suparno awalnya bermain aman. Ketakutan akan barang kedaluwarsa membuatnya hanya berani menyetok alat tulis dan barang pecah belah. 

Namun, ia menyadari bahwa arus kas yang sehat datang dari kebutuhan perut masyarakat.

"Pertama kali jualan di tahun 2006, kecil-kecilan saja kayak alat tulis. Pokoknya barang yang tahan lama tanpa khawatir kedaluwarsa,” kenang Suparno, pada Kamis (14/5/2026).

Seiring berjalannya waktu, ia melakukan riset pasar secara alami. Ia melihat warga sekitar lebih membutuhkan beras, telur, dan minyak goreng. Perubahan fokus ini menjadi titik balik. 

Dengan memilih barang yang sering diburu, ia tidak perlu menimbun stok mati. Barang datang, barang langsung keluar.

Salah satu strategi jitu Suparno adalah fokus pada barang yang memiliki ketergantungan tinggi, dalam hal ini adalah Gas LPG dan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). 

Di wilayah Tembalang yang padat mahasiswa Undip dan kompleks perumahan, dua komoditas ini adalah napas kehidupan sehari-hari.

Menariknya, Suparno sangat adaptif terhadap kebijakan pemerintah. Saat transisi minyak tanah ke gas di era Presiden SBY, ia segera beralih menjadi agen elpiji.

"Sekarang saya fokus berjualan air galon dan gas elpiji, karena barang tersebut banyak dicari pembeli yang datang ke sini,” tuturnya.

Keberhasilan strategi ini terbukti dari loyalitas pelanggan yang unik. Banyak pembeli yang rela menunggu Toko Ta dan Ti buka kembali jika sedang tutup, alih-alih berpaling ke minimarket modern.

Alasannya sederhana yaitu stok selalu ada dan harga lebih miring.

Toko Ta dan Ti yang berada di Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Penampakan Toko Ta dan Ti yang berada di Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Nilai Tambah yang Tak Dimiliki Ritel Modern

Toko Ta dan Ti menyediakan layanan pesan antar melalui WhatsApp. Hanya dengan biaya tambahan sebesar Rp2.000, barang berat seperti galon dan gas diantar sampai ke dapur.

“Kita juga memberikan layanan pesan antar dan pasang untuk gas elpiji sama galon, karena kadang ada ibu-ibu yang minta sekalian pemasangan,” ujar Suparno.

Sikap membantu ini membangun ikatan emosional. Seringkali, pelanggan memberikan upah tenaga lebih sebagai bentuk apresiasi. 

Hubungan "tetangga" inilah yang menjadi benteng terkuat Toko Ta dan Ti melawan persaingan kapital besar.

Meskipun toko tutup, pelanggan memilih tidak mengambil barang dari toko lainnya, baik sesama toko kelontong maupun toko ritel modern. 

Mereka memilih untuk menunggu toko buka kembali karena harga yang lebih murah dan layanan all in.

Menjemput Bola dengan QRIS BRI

Sumarni, sang istri, menjadi motor penggerak digitalisasi di toko ini. Menjadi nasabah setia Bank Rakyat Indonesia (BRI) selama lebih dari 25 tahun, ia tidak gagap menghadapi teknologi. 

Dengan memasang QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dari BRI, ia mempermudah transaksi pelanggannya yang mayoritas adalah generasi cashless (mahasiswa).

Digitalisasi ini membawa tiga keuntungan besar, mulai dari efisiensi transaksi, kemanan, dan layanan ATM darurat.

"Malah kadang ada mahasiswa yang titip tarik tunai, jadi scan QRIS nanti diganti tunai gitu,” kata Sumarni pada Kamis (14/5/2026).

Tak berhenti di pembayaran, toko ini juga memanfaatkan aplikasi Blibli Mitra yang bekerja sama dengan BRI untuk layanan isi ulang pulsa, token listrik, hingga pembayaran tagihan. 

Pendapatan dari transaksi QRIS langsung diputar kembali untuk menambah saldo di Blibli Mitra, menciptakan ekosistem keuangan yang mandiri dan efektif.

“Tahun ini saya dapet voucher belanja superindo dari BRI karna saldo mengendap selama 2 tahun lebih,” tutup Sumarni.

Toko Ta dan Ti yang bertahan selama 19 tahun di Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Toko Ta dan Ti yang bertahan selama 19 tahun di Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Senjata Ampuh di Era Digital

Pesatnya perkembangan teknologi, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku usaha kecil, melainkan sebuah keharusan. 

Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang, Fredianaika Istanti, menegaskan bahwa adopsi QRIS adalah kunci bagi pedagang untuk naik kelas dan bersaing di level yang lebih tinggi.

Menurut Fredianaika, teknologi pembayaran nontunai ini membawa perubahan besar pada efisiensi operasional usaha. 

Bukan hanya soal gaya hidup, tapi soal bagaimana teknologi memangkas kerumitan di meja kasir.

Karena jumlah pembayaran sudah terprogram secara otomatis sesuai tagihan, pelaku usaha tidak perlu lagi pusing mencari selisih kembalian.

Selain mempercepat proses jual beli, QRIS berfungsi sebagai tameng keamanan bagi para pedagang. 

Penggunaan uang tunai selalu membawa risiko nyata, mulai dari uang lusuh, rusak, hingga ancaman peredaran uang palsu yang merugikan.

“Memakai QRIS juga bisa mengurangi risiko penipuan dan meningkatkan daya saing para pelaku UMKM di era digital,” jelasnya.

Dengan beralih ke nontunai, setiap rupiah yang masuk tercatat secara digital, aman, dan langsung masuk ke rekening pemilik usaha.

QRIS bukan lagi dominasi mal mewah atau kafe kekinian. Warung-warung kecil di sudut gang pun mulai memajang kode QR di etalase mereka.

Keluasan akses ini memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi sekecil apa pun.

"Warung-warung sekarang juga banyak yang sudah menggunakan QRIS. Apalagi dengan minimal transaksi hanya Rp5.000, buat beli rokok eceran atau kebutuhan pokok lainnya jadi jauh lebih mudah," pungkas Fredianaika.

(TribunBatam.id/Khistian Tauqid)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.