TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH - Puluhan warga Kampung Tanjung Ratu, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah, menggelar aksi protes akibat jembatan penghubung utama di wilayah mereka yang putus tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah daerah setempat.
Aksi unjuk rasa yang digelar pada Rabu (20/5/2026) ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari ibu-ibu, tokoh masyarakat, hingga anak sekolah.
Sambil membawa poster berisi tuntutan, warga menyuarakan rasa frustrasi mereka atas kelumpuhan akses yang sudah berlangsung selama empat bulan terakhir.
Sopian, warga setempat, mengatakan, jembatan sepanjang lebih dari 50 meter yang membentang di atas Sungai Way Pengubuan ini merupakan urat nadi aktivitas warga.
Putusnya jembatan membuat mobilitas masyarakat, terutama akses menuju fasilitas pendidikan, terhambat total.
"Pilihannya memutar 40 kilo atau bertaruh nyawa. Kondisi Sungai Way Pengubuan yang dalam dan lebar membuat warga tidak memiliki pilihan aman untuk menyeberang langsung," ujarnya.
Menurut Sopian, warga dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyulitkan.
Dia mengatakan, jalur alternatif terlalu jauh.
Warga harus memutar sejauh kurang lebih 40 kilometer melewati Kampung Pocoti, Cending, hingga Puji Rahayu untuk mencapai wilayah seberang.
Padahal, jika jembatan berfungsi, jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer.
Sementara, kata dia, bagi warga dan pelajar yang tidak memiliki ongkos lebih, mereka terpaksa nekat menyeberangi sisa-sisa jembatan yang rusak dengan cara meniti dan bergelantungan pada tali besi jembatan.
"Ada orang tua yang tidak mau mengambil risiko keselamatan anaknya, terpaksa harus memutar jauh. Dampaknya, mereka harus mengeluarkan uang saku atau dana transportasi dua hingga tiga kali lipat lebih banyak," ujar Sopian.
Sopian menambahkan, melihat bahaya yang mengancam anak-anak SD saat bergelantungan di tali besi, warga yang tinggal di sekitar jembatan berinisiatif turun tangan.
Mereka secara sukarela berjaga dan membantu menyeberangkan para siswa saat jam berangkat dan pulang sekolah.
"Banyak anak-anak SD yang harus bergelantungan. Beruntung ada warga yang rumahnya dekat sini ikut membantu mereka menyeberang. Nanti waktu pulang sekolah, warga menjemput dan menyeberangkan mereka kembali ke sini," tambah Sopian.
Ketiadaan kepastian dan lambatnya respons dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah memicu kekesalan mendalam bagi masyarakat.
Warga menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap penderitaan dan ancaman keselamatan yang mereka hadapi sehari-hari.
Ermalina, ibu rumah tangga yang ikut dalam aksi protes, tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya yang mendalam.
"Kesal! Kalau dibilang kesal, enggak bisa dibilang lagi, Pak, kesalnya ini. Kesal, kesal, sangat kesal!" ungkap Ermalina.
Ia menyampaikan desakan terbuka agar Bupati Lampung Tengah segera mengambil tindakan nyata sebelum kondisi ini memakan korban jiwa.
"Pesan untuk Bupati Lampung Tengah, mohon, Pak. Mohon bantuannya agar jembatan kami ini bisa pulih seperti semula. Anak-anak kami butuh sekolah, ada juga yang harus bekerja, sedangkan jalur utama kami rusak seperti ini," pungkasnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)