Perkuat Implementasi KBC & Ekoteologi di Madrasah, Farid Saenong: Jangan Berhenti di Level Kebijakan
Siti Fatimah May 20, 2026 10:36 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi harus benar-benar diterapkan, dalam proses belajar mengajar di madrasah, tidak berhenti di level kebijakan.

Hal itu diungkapkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong, saat acara penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi kepada kepala kantor Kemenag kabupaten/kota se-Jawa Barat, di Aula Kantor Kemenag Jabar, Jalan Sudirman, Kota Bandung, Rabu (20/5/2026).

Penguatan itu, diberikan kepada para kepala kantor Kemenag, Kasi Penmad, hingga Kasi PD Pondok pesantren agar mereka dapat menerapkan KBC dan Ekotiologi dalam proses belajar mengajar di madrasah.

Farid mengatakan, KBC dan Ekoteologi merupakan bagian dari delapan program prioritas Kementerian Agama atau Asta Protas yang saat ini terus dimatangkan penerapannya.

“Kita sedang memperkaya wawasan audiens hari ini supaya nanti bisa ditularkan lebih luas lagi ke guru-guru. Intinya memperpanjang penjelasan Menteri Agama tentang KBC dan Ekoteologi,” ujar Farid.

Menurut Farid, implementasi KBC dan Ekoteologi diarahkan agar menjiwai seluruh proses pendidikan di madrasah, termasuk melalui insersi dalam bahan ajar dan metode pembelajaran.

Farid menyebut, guru perlu diberikan contoh-contoh praktis penerapan KBC dan Ekoteologi agar proses belajar mengajar tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan lingkungan.

“Supaya guru-guru kita ini bisa terbantu betul mengimplementasikan KBC dalam proses belajar mengajar di madrasah,” ucapnya.

Farid menilai, isu lingkungan menjadi perhatian penting Kementerian Agama karena persoalan perubahan iklim dan pemanasan global kini menjadi isu dunia yang perlu didekati dengan perspektif agama.

Menurutnya, Kementerian Agama ingin berkontribusi lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global, melalui penguatan kehidupan beragama yang responsif terhadap isu lingkungan.

“Semua orang bicara tentang global warming dan climate change yang harus kita sikapi dengan perspektif agama,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dudu Rohman, mengatakan implementasi Ekoteologi mulai dijalankan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk pengusaha tambang di Garut.

Menurut Dudu, pihaknya mendorong penghijauan di kawasan bekas tambang agar lahan yang sebelumnya rusak bisa kembali produktif dan memiliki nilai ekonomi.

“Kami sudah launching penanaman di bekas tambang bersama para penyuluh dan jajaran Kemenag,” ujar Dudu.

Dudu mengatakan, program penghijauan itu juga melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan calon pengantin yang didorong ikut menanam pohon sebagai bagian dari gerakan kepedulian lingkungan.

Selain itu, Kemenag Jabar juga menggandeng kalangan pesantren dan Kadin untuk mengembangkan tanaman produktif seperti bambu hingga hortikultura di lahan pesantren.

Dudu menyebut, sejumlah pesantren di Jawa Barat telah mulai mengembangkan sektor pertanian di lahan wakaf, termasuk Pesantren Buntet di Cirebon yang menanam jagung dan tanaman hortikultura lainnya.

“Pesantren-pesantren besar sekarang banyak yang punya lahan dan mulai dimanfaatkan untuk tanaman produktif,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.