Dari Mendaki Gunung hingga Disebut “Orang Gila”, Cara Prof Mansyur Temukan Rumput Kikuyu
Siti Fatimah May 20, 2026 10:36 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Upaya meningkatkan kualitas pakan ternak di Indonesia membawa Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad), Prof. Dr. Ir. Mansyur, S.Pt., M.Si., IPM pada sebuah riset yang tak biasa, menelusuri gunung demi gunung demi menemukan rumput terbaik bagi kuda. 

Dari perjalanan itulah, ia menemukan potensi besar rumput kikuyu yang kini menjadi salah satu solusi pakan bernutrisi tinggi.

Awalnya, persoalan sederhana menjadi titik berangkat, yaitu banyak kuda mengalami gangguan pencernaan hingga kematian akibat pola pemberian pakan yang tidak sesuai.

“Pencernaan kuda berbeda dengan sapi, sehingga membutuhkan rumput dengan karakter khusus, terutama serat yang lebih mudah dicerna. Kalau seratnya terlalu kasar, kuda bisa kolik dan itu bisa berujung kematian,” ujar Prof Mansyur saat ditemui di Fakultas Peternakan Unpad Jatinangor, Rabu (20/5/2026).

Berangkat dari persoalan tersebut, ia mulai melakukan eksplorasi tanaman pakan. Kawasan pegunungan seperti Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, hingga Patuha menjadi lokasi penelusurannya. 

Dari sana, ia menemukan kembali rumput kikuyu yang dulu sempat dikenalnya saat masih mahasiswa.

“Rumput kikuyu memiliki ciri khas batang berwarna putih kekuningan seperti mentega, dengan kandungan nutrisi tinggi. Protein dan kualitasnya bagus, bahkan pada sapi bisa meningkatkan produksi susu hingga 2 sampai 3 liter,” jelasnya.

Namun, manfaat paling menonjol terlihat pada kuda. Rumput kikuyu terbukti mampu meningkatkan kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh, termasuk mendukung produksi serum yang digunakan untuk kebutuhan medis seperti antibisa ular. 

Kualitas pakan, menurutnya, berpengaruh langsung terhadap produktivitas serum pada kuda.

Penelitian kikuyu tidak berhenti pada eksplorasi lapangan. Bersama tim lintas lembaga, Mansyur juga melakukan analisis nutrisi dan genetik. 

“Hasilnya menunjukkan bahwa kikuyu di Indonesia memiliki perbedaan karakter dibandingkan dengan yang berasal dari Afrika, dengan selisih sekitar 5–7 persen akibat adaptasi lingkungan. Artinya, kita punya kekayaan hayati sendiri yang sebenarnya bisa dimanfaatkan tanpa harus bergantung pada impor,” katanya.

Meski demikian, Prof Mansyur menyebutkan, pengembangan kikuyu masih menghadapi tantangan. 

“Rumput ini hanya tumbuh optimal di dataran tinggi bersuhu dingin seperti Pangalengan dan Cianjur, sehingga sulit dikembangkan di dataran rendah,” ucapnya.

Upaya melalui teknik kultur jaringan masih terus dilakukan, meski belum menunjukkan hasil optimal.

Di balik riset tersebut, perjalanan akademik Mansyur tidak selalu mulus. Ia menempuh pendidikan S1 Peternakan pada 1994, lalu melanjutkan S2 dan S3 di bidang tanaman pakan. Dalam proses penelitiannya, ia bahkan kerap dianggap “tidak biasa”, bahkan disebut “gila” karena pendekatannya yang berbeda.

“Saya nanam rumput pakai perlakuan seperti tanaman hortikultura, pakai kapur, pupuk lengkap, sampai irigasi otomatis,” ujarnya sambil tersenyum.

Pendekatan tersebut justru membuahkan hasil. Ia mampu mengembangkan lahan rumput hingga hektaran dan menghasilkan penelitian yang kini dimanfaatkan.

Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan rumput kikuyu di Indonesia masih terbatas. Salah satu kendalanya adalah produktivitasnya yang relatif kecil, sehingga kurang diminati peternak yang cenderung memilih rumput berukuran besar agar ternak cepat kenyang.

“Petani kita maunya rumput yang besar dan cepat banyak. Kikuyu kualitasnya tinggi, tapi volumenya kecil,” jelasnya.

Kondisi ini membuat kikuyu lebih cocok untuk pasar khusus, seperti peternakan kuda, dibandingkan peternakan sapi rakyat. 

“Kebutuhan pakan kuda saat ini sebagian besar masih dipenuhi dari impor dalam bentuk hay atau haylage dengan harga mencapai Rp10.000 hingga Rp18.000 per kilogram,” kata dia.

Ia menyebut, kebutuhan pakan kuda bisa mencapai belasan ton per minggu. Jika dipenuhi dengan produksi lokal, hal ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru, khususnya di wilayah dataran tinggi.

Perjalanan riset kikuyu sendiri dimulai sejak 2018 dan berlanjut hingga tahap uji pemanfaatan pada 2021–2022. Dalam prosesnya, Mansyur mengaku mengalami banyak kegagalan sebelum akhirnya mendapatkan hasil.

Meski demikian, ia melihat rumput kikuyu sebagai peluang besar untuk membangun kemandirian pakan sekaligus membuka ekonomi baru berbasis pertanian.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.