TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presenter sekaligus influencer Iwet Ramadhan membagikan pengalaman saat mengalami stroke akibat pecah pembuluh darah di otak pada Februari 2023.
Menurut Iwet, kondisi tersebut dipicu stres berkepanjangan yang menyebabkan hipertensi tidak terkontrol.
Ia mengaku sempat tidak menyadari gejala awal sebelum akhirnya didiagnosis mengalami stroke subarachnoid hemorrhage atau perdarahan pada lapisan otak.
“Awalnya karena stres yang mengakibatkan hipertensi. Ditambah kebiasaan begadang dan konsumsi kopi berlebihan,” ujar Iwet saat menghadiri peluncuran Tensimeter Seri EZ dan IQ di Indonesia yang digelar Omron di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Padahal, pemilik nama asli Wethandrie Ramadhan ini merasa dirinya memiliki gaya hidup sehat.
Baca juga: Iwet Ramadhan Minta Maaf, Baliho Film Aku Harus Mati Bikin Gaduh hingga Diturunkan Lebih Cepat
Ia rutin berolahraga bahkan pernah mengikuti ajang marathon dunia seperti Berlin Marathon dan New York Marathon.
Namun menurutnya, pola hidup sehat saja tidak cukup jika stres terus menumpuk tanpa dikendalikan.
Iwet mengungkapkan sebelum mengalami stroke, dirinya sempat mengalami pecah pembuluh darah di mata. Saat dilarikan ke unit gawat darurat, tekanan darahnya bahkan mencapai angka 220.
“Stres itu benar-benar membuat semuanya hancur. Makanya penting cek tekanan darah secara rutin,” kata lulusan Arsitektur Universitas Parahyangan ini.
Tak lama setelah menjenguk Iwet di rumah sakit, presenter Dave Hendrik justru mengalami serangan jantung.
Dave mengaku tidak pernah menyangka dirinya terkena penyakit jantung karena merasa telah menjalani pola hidup sehat sejak muda.
“Saya merasa hidup sehat, olahraga, jaga makan. Jadi enggak kepikiran itu serangan jantung,” ujar Dave.
Ia mulai merasakan sesak napas dan tekanan berat di dada usai menjalani syuting. Namun gejala tersebut sempat diabaikan hingga akhirnya ia memutuskan pergi ke rumah sakit pada malam hari.
Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat tujuh titik penyumbatan di pembuluh darah jantungnya.
Menurut dokter, kondisi itu dipengaruhi faktor bawaan tubuh serta kemampuan masing-masing tubuh dalam mentolerir kadar kolesterol.
Meski demikian, pemilik nama asli David Hendrik Pangemanan ini meyakini gaya hidup sehat yang selama ini dijalani tetap membantu mempercepat proses pemulihan pasca serangan jantung.
“Kalau saya tidak hidup sehat dan rutin olahraga, mungkin serangan jantungnya sudah terjadi jauh lebih cepat,” ujarnya.
Iwet dan Dave sepakat bahwa stres menjadi salah satu pemicu terbesar gangguan kesehatan serius, terutama bagi masyarakat perkotaan dengan tekanan aktivitas tinggi.
Iwet mengingatkan pentingnya rutin memeriksa tekanan darah karena hipertensi kerap disebut sebagai “silent killer” yang sering tidak disadari hingga memicu stroke maupun penyakit jantung.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), Eka Harmeiwati, mengatakan hipertensi menjadi salah satu faktor utama pemicu stroke dan penyakit jantung.
Menurutnya, jumlah penderita hipertensi di Indonesia kini mencapai 57 juta orang. Namun, pasien yang tekanan darahnya terkontrol masih kurang dari 20 persen.
“Kondisi ini membuat komplikasi hipertensi seperti stroke, gagal jantung, hingga gagal ginjal masih sangat tinggi,” ujar Eka.
Ia menjelaskan hipertensi dapat merusak pembuluh darah dalam jangka panjang dan memicu berbagai penyakit lain, termasuk gangguan penglihatan, demensia, hingga gangguan irama jantung atau atrial fibrillation (AF) yang meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.
Eka juga menyoroti tingginya faktor risiko hipertensi di Indonesia, terutama akibat kebiasaan merokok dan konsumsi garam berlebih.
Karena itu, masyarakat diimbau mulai menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga berat badan, tidur cukup, dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala sejak usia 18 tahun.