Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Akankah Krismon Terulang Lagi? Apa yang Harus Kita Lakukan?
Lisma Noviani May 21, 2026 02:32 AM

Oleh : Sabam Syahputra Manurung, S.Sos, M.Si

Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya

TRIBUNSUMSEL.COM --  Pendar monitor perdagangan valuta asing selalu didominasi warna merah sepanjang dua minggu terakhir. Rupiah menembus Rp17.679 per dolar AS, tertinggi sepanjang Sejarah kita.

Tekanan hebat terhadap nilai tukar Rupiah bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas atau peringatan normatif dari para ekonom, tetapi sudah benar-benar nyata di hadapan kita.

 Angka Rp17.600 tersebut seketika menjadi "Hantu Kepanikan" di sektor ritel dan bahkan menggentayangi daya beli masyarakat.

Di pusat perbelanjaan misalnya, harga barang-barang elektronik impor mulai merangkak naik, sementara para importir pangan, pakaian, plastik, dan bahan baku obat-obatan tengah bersiap menghitung ulang margin usaha mereka yang kian menipis tanpa harus menaikkan harga jual produk.

Kuatnya dolar AS saat ini seolah menjelma menjadi teror tak kasat mata yang secara perlahan menggerogoti tabungan dan daya beli masyarakat hingga berpotensi memicu inflasi di tingkat akar rumput.

Bayang-bayang Krismon 1998

Secara psikologis, ketika mata uang rupiah melemah tajam, biasanya isu yang dicemaskan adalah flashback ke bayang-bayang trauma Krisis Moneter 1998. 

Memori tentang kejatuhan rezim yang dramatis, antrean panjang warga demi satu liter minyak goreng dan kebutuhan pangan, kerusuhan sosial di sudut-sudut kota, hingga kolapsnya sistem perbankan nasional dalam sekejap.

Trauma struktural akibat depresiasi mata uang yang parah adalah luka sejarah mendalam yang belum sepenuhnya sembuh dalam memori ekonomi Indonesia, sehingga gejolak sekecil apa pun pada kurs dolar akan langsung memicu alarm bahaya di benak publik.

Namun, di sinilah dekonstruksi mitos dan edukasi utama harus diluruskan. Kurs dolar dengan angka sebesar itu sebenarnya bukan "Hantu" yang harus kita takuti secara berlebihan, karena situasi hari ini sama sekali berbeda dengan tahun 1998.

Saat ini benteng pertahanan ekonomi kita jauh lebih kokoh. Jika tahun 1998 industri keuangan kita rapuh akibat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang kurang ditata dengan baik, hari ini rata-rata rasio kecukupan modal (CAR) perbankan nasional kita masih sangat kuat, di 25,09 persen pada Maret 2026, point dan berada jauh di atas batas aman internasional yakni di 14,7 % .

Posisi ini memberikan bantalan bagi bank untuk siap menghadapi potensi gejolak global, fluktuasi nilai tukar, serta kenaikan harga bahan baku impor.

Begitu pula dengan utang swasta; jika dulu korporasi berutang dalam dolar secara serampangan tanpa lindung nilai, sekarang regulasi Bank Indonesia sangat ketat dalam mewajibkan praktik hedging. 

Kemudian, dari aspek inflasi misalnya, pada tahun 1998 inflasi kita tembus 77,6 % yang membuat hampir seluruh kebutuhan pokok terus meningkat. Sementara inflasi kita di sepanjang lima tahun terakhir tertinggi ada di 8?n pada April 1016 ada di titik 2,42 % . 

Waspada Tantang Internal dan Eksternal

Meskipun fundamen kita kokoh, kita tidak boleh tutup mata bahwa tahun 2026 ini membawa kita pada tantangan baru yang tidak boleh dipandang remeh. Tantangan internal dan eksternal benar-benar nyata ketika dolar menembus rekor terlemah sepanjang sejarah di angka 17.600. 

Pada aspek tantangan eksternal, eskalasi konflik bersenjata di Selat Hormuz, Timur Tengah, telah melambungkan harga minyak mentah dunia secara ekstrem dan memicu pelarian modal global secara besar-besaran menuju aset aman (safe haven).

Sementara dari sisi internal, muncul tantangan berupa skeptisisme pasar terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi domestik kita. Meskipun angka resmi kuartal I-2026 mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,61 % , para pelaku pasar mendeteksi adanya anomali berupa perlambatan daya beli riil yang mulai lesu di tingkat akar rumput.

Sementara itu goverment spending yang naik sebesar 21,81 % pada kuartal pertama juga tampaknya menekan pasar domestik dan memberi koreksi terhadap investor global. 

Meskipun ini bukan krisis jilid 1998, ada "Bahaya Jenis Baru" yang sedang mengintai jika pelemahan kurs ini dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi.

Ancaman terbesar datang dari imported inflation atau inflasi yang diimpor dari luar negeri, yang secara langsung akan memangkas daya beli masyarakat kelas bawah karena harga barang konsumsi harian menjadi lebih mahal. 

Di sisi lain, struktur industri manufaktur kita yang celakanya masih sangat bergantung pada bahan baku impor kini terancam melakukan efisiensi ekstrem dalam bentuk gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal demi bertahan hidup.

Beban ini kian berlipat karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terancam bengkak akibat lonjakan subsidi energi, subsidi minyak, dan pembiayaan program prioritas pemerintah, menjadi konsekuensi logis dari melambungnya harga minyak dunia yang dikalikan dengan kurs dolar yang teramat tinggi.

Ketatkan Ikat Pinggang

Menghadapi situasi genting ini, otoritas fiskal dan moneter harus segera merumuskan bauran kebijakan yang taktis sekaligus strategis. Bagi Bank Indonesia (BI), strategi moneter tidak boleh hanya mengandalkan intervensi konvensional dengan menggelontorkan cadangan devisa yang justru akan menguras "darah" atau amunisi berharga kita di pasar. 

BI harus mengoptimalkan instrumen kreatif seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), serta memperketat koordinasi insentif agar para eksportir benar-benar memarkir Dolar Hasil Ekspor (DHE) mereka di dalam negeri secara berkelanjutan.

Sementara bagi Kementerian Keuangan, menjaga kredibilitas anggaran adalah harga mati; pemerintah harus bersikap transparan dalam mengelola risiko fiskal akibat pembengkakan subsidi energi, mengurangi total konsumsi pemerintah ke sektor yang sangat dibutuhkan, hindari mobilisasi APBN ke sektor yang serapan anggarannya minim, sembari mempercepat realisasi proyek substitusi impor pada industri manufaktur strategis agar ketergantungan kita terhadap dolar dapat dikurangi.

Sebagai penutup, Solusi nyata yang bisa dilakukan oleh publik hari ini adalah mengetatkan ikat pinggang dengan mengurangi belanja konsumtif untuk barang-barang bermerek impor, dan secara sadar mengalihkan kiblat konsumsi kita pada produk-produk lokal yang kualitasnya tidak kalah saing.

 Terakhir, kelola portofolio keuangan pribadi Anda secara konservatif dengan menunda investasi yang berisiko tinggi serta menghindari utang baru yang berbunga mengambang (floating rate), mengingat kita sedang berada di tengah tren suku bunga global yang tinggi.

Dengan benteng ekonomi yang kuat dan rasionalitas publik yang terjaga, badai kurs 2026 ini pasti bisa kita lalui bersama. (*)

Baca juga: OPINI - Peluang Ekonomi dalam Budaya Gen Z, Americano tak Sepahit Menjadi Pengangguran

Baca juga: Perempuan tak Hanya Urus Rumah Tangga, tapi Juga Harus Jadi Agen Perubahan Sosial dan Ekonomi

Baca juga: Panduan Lengkap SPMB SMAN 1 Palembang: Jadwal, Kuota & Jalur Pendaftaran, Tampung 468 Murid Baru

Baca juga: Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan: Seperempat Abad Sejak Berlaku UU tentang Pemerintah Daerah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.