TRIBUNTRENDS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai tata kelola anggarannya memiliki celah besar terhadap praktik kecurangan hingga tindak pidana korupsi.
KPK mengungkapkan, desain kebijakan aliran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam program tersebut dinilai masih menyimpan banyak kelemahan yang berpotensi disalahgunakan.
Kerawanan itu muncul karena penggunaan mekanisme penganggaran yang dianggap belum tepat, sementara ekspansi program di lapangan berlangsung sangat cepat tanpa sistem pengawasan internal yang kuat.
Peringatan tersebut disampaikan Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Aminudin, saat menghadiri acara media gathering di Anyer, Serang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Dalam pemaparannya, Aminudin menjelaskan bahwa temuan itu berasal dari hasil kajian mendalam KPK terhadap tata kelola program MBG yang mulai dijalankan sejak Januari 2025.
Baca juga: KPK Bongkar Buruknya Tata Kelola Program MBG, Rp 12 T Mengendap di Yayasan, Rekrutmen Tak Transparan
Menurutnya, skala program yang terus membesar membuat potensi penyimpangan semakin tinggi apabila tidak dibarengi penguatan sistem pengendalian keuangan.
KPK juga menilai pengawasan terhadap distribusi dan penggunaan anggaran harus diperketat agar program strategis nasional tersebut tetap berjalan sesuai tujuan awalnya.
Sorotan semakin tajam karena anggaran MBG mengalami lonjakan sangat signifikan dalam waktu singkat.
Nilai alokasi dana program itu tercatat meningkat drastis dari Rp71 triliun menjadi Rp171 triliun.
Besarnya dana yang digelontorkan pemerintah membuat KPK meminta seluruh pihak terkait meningkatkan transparansi dan akuntabilitas agar potensi korupsi dapat dicegah sejak dini.
Salah satu sorotan utama KPK tertuju pada penerapan mekanisme Bantuan Pemerintah (Banper) oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Aminudin menilai mekanisme ini memutus rantai pertanggungjawaban keuangan terlalu cepat, sehingga menciptakan celah akuntabilitas yang rawan disalahgunakan.
"Artinya apa? Begitu duit keluar dari BGN ke akunnya yayasan, selesai sudah pertanggungjawaban keuangan dari sisi BGN. Padahal dalam praktiknya yayasan itu nanti harus men-droping (menyalurkan) data lagi ke dapur-dapur, ke SPPG-SPPG (Satuan Pelayanan Pengolah Gizi)," kata Aminudin.
Aminudin menjelaskan, dari proses tersebut pihak dapur masih harus membeli bahan baku untuk diolah menjadi makanan dari para vendor serta pemasok (supplier).
Menurut KPK, proses akuntabilitas keuangan negara seharusnya tidak boleh berhenti begitu dana menyentuh rekening yayasan mitra, melainkan wajib dipantau secara tuntas hingga makanan siap saji didistribusikan kepada anak-anak yang berhak menerima manfaat.
Panjangnya rantai lompatan dana dari BGN ke yayasan, dilanjutkan ke tingkat satuan pelayanan dapur, hingga berakhir di pihak ketiga ini dinilai menurunkan transparansi serta membuka peluang terjadinya praktik pemburuan rente (rent-seeking).
Setelah melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kementerian Keuangan, KPK menyimpulkan bahwa mekanisme Banper yang saat ini berjalan tidak sesuai dengan regulasi keuangan yang ada.
Baca juga: KPK Awasi Ketat BGN, Lembaga Baru Kelola Anggaran Jumbo MBG, Infrastruktur dan Regulasi Berantakan
Selain masalah pengelolaan keuangan, KPK menyoroti ekspansi pembentukan SPPG di berbagai daerah yang terkesan hanya mengejar kuantitas tanpa dibarengi pengendalian internal.
Dampaknya, dalam beberapa pekan terakhir, muncul sejumlah kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa keracunan makanan yang dialami oleh anak-anak penerima program MBG.
Kajian KPK menemukan banyak dapur didirikan tanpa memenuhi standar teknis, ditambah dengan minimnya keterlibatan Dinas Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam pengawasan keamanan pangan di daerah.
KPK juga mengkritik indikator keberhasilan program MBG yang diklaim pemerintah saat ini masih sangat sempit.
Pengukuran dinilai hanya berfokus pada jumlah serapan penerima dan pembangunan fisik dapur, tanpa mengukur target dampak (outcome) terhadap status perbaikan gizi anak.
"Mungkin teman-teman di BGN mengklaim: 'Kami berhasil mendirikan dapur sekian ribu atau mendistribusikan MBG ke sekian juta penerima.' Ya sah-sah saja, tapi outcome-nya itu bukan itu, melainkan bagaimana generasi Indonesia pada tahun 2045 yang diindikasikan kurang gizi itu akan tercukupi gizinya sehingga menjadi generasi emas," tutur Aminudin.
Ia juga mengingatkan bahwa sistem kontrol di tingkat daerah belum siap (settle).
Guna memitigasi risiko korupsi dan fraud tersebut, KPK mengeluarkan sejumlah rekomendasi tegas agar pemerintah segera menerbitkan regulasi pelaksanaan MBG yang komprehensif dan mengikat, minimal setingkat Peraturan Presiden (Perpres).
Regulasi ini diperlukan untuk merinci pembagian peran lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang selama ini terpinggirkan akibat pendekatan yang sentralistik.
KPK juga mendesak dilakukannya tinjauan ulang (review) terhadap mekanisme Banper, struktur biaya, dan kewajaran anggaran agar porsi gizi anak tidak berkurang akibat tingginya potongan biaya operasional yayasan.
Pemerintah daerah diminta dilibatkan secara aktif melalui desentralisasi terbatas, memperjelas Standar Operasional Prosedur (SOP) penetapan mitra yang transparan, mengaktifkan peran Dinas Kesehatan dan BPOM untuk inspeksi dapur, serta membangun sistem pelaporan keuangan baku demi mencegah laporan fiktif (creative accounting) dan penggelembungan dana (mark-up).
Rekomendasi perbaikan tata kelola dari lembaga antirasuah ini menjadi peringatan krusial bagi kementerian/lembaga terkait untuk segera membenahi celah birokrasi demi menjamin efektivitas anggaran negara perlindungan gizi anak.
(TribunTrends/Tribunnews/Ilham Rian)