TRIBUNNEWS.COM - Pergantian rezim di Iran menjadi salah satu tujuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Pada hari-hari awal serangan tersebut, Trump berulang kali menyarankan agar pemimpin Iran berikutnya harus berasal "dari dalam Iran".
Kini barulah terungkap bahwa Trump memiliki sosok yang sangat spesifik untuk posisi tersebut, yakni Mahmoud Ahmadinejad (69).
Mahmoud Ahmadinejad merupakan mantan presiden Iran yang dikenal karena pandangan garis keras, anti-Israel, dan anti-Amerika.
Rencana tersebut dikembangkan oleh Israel, menurut laporan The New York Times pada Selasa (19/5/2026).
Laporan itu menyiratkan bahwa Ahmadinejad terluka dalam serangan 28 Februari.
Ahmadinejad disebut telah dimintai pendapat mengenai proposal tersebut, tetapi situasi di lapangan dengan cepat menjadi kacau.
Serangan 28 Februari itu dirancang untuk membebaskannya dari tahanan rumah.
Ia selamat dari serangan tersebut, tetapi para pejabat Amerika dan seorang rekan Ahmadinejad mengatakan bahwa insiden itu membuatnya kecewa terhadap rencana perubahan rezim.
Baca juga: Profil Eks Presiden Iran Ahmadinejad Tewas dalam Serangan Rudal Israel, Ingin Kembangkan Nuklir
Sejak saat itu, Ahmadinejad belum terlihat di depan publik dan keberadaan serta kondisinya saat ini belum diketahui.
Bagaimana Ahmadinejad direkrut untuk terlibat dalam rencana perubahan rezim masih belum diketahui.
Meski demikian, The New York Times melaporkan bahwa perekrutannya merupakan bagian dari rencana bertahap Israel untuk menggulingkan pemerintahan teokratis Iran.
Beberapa pejabat Amerika dilaporkan skeptis terhadap upaya mengembalikan Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan.
"Sejak awal, Presiden Trump telah menjelaskan tujuannya untuk Operasi Epic Fury: menghancurkan rudal balistik Iran, membongkar fasilitas produksinya, menenggelamkan angkatan laut mereka, dan melemahkan proksi mereka," kata Anna Kelly, juru bicara Gedung Putih, saat menanggapi pertanyaan NYT mengenai rencana perubahan rezim dan Ahmadinejad.
"Militer Amerika Serikat telah memenuhi atau melampaui semua tujuannya, dan sekarang para negosiator kami sedang berupaya membuat kesepakatan yang akan mengakhiri kemampuan nuklir Iran untuk selamanya."
Mengutip Britannica, Mahmoud Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 di Garmsar, Iran.
Ia merupakan tokoh politik Iran yang menjabat sebagai presiden Iran pada periode 2005 hingga 2013.
Ahmadinejad, putra seorang pandai besi, dibesarkan di Teheran.
Pada 1976, ia masuk Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) untuk mempelajari teknik sipil.
Selama Revolusi Iran 1978–1979, ia menjadi salah satu pemimpin mahasiswa yang mengorganisasi demonstrasi.
Setelah revolusi, seperti banyak rekan-rekannya, ia bergabung dengan Garda Revolusi, kelompok milisi keagamaan yang dibentuk oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Di tengah pengabdiannya dalam Perang Iran-Irak (1980–1988), ia tetap melanjutkan studi di IUST hingga akhirnya meraih gelar doktor di bidang teknik dan perencanaan transportasi.
Setelah perang, Ahmadinejad menjabat di berbagai posisi hingga pada 1993 diangkat menjadi gubernur provinsi Ardabil yang baru dibentuk.
Usai masa jabatannya sebagai gubernur berakhir pada 1997, ia kembali ke IUST sebagai dosen.
Ahmadinejad turut mendirikan Pengembang Iran Islam, yang mengusung agenda populis dan berupaya menyatukan faksi konservatif di Iran.
Partai tersebut memenangkan pemilihan dewan kota Teheran pada Februari 2003, dan pada Mei tahun yang sama dewan memilih Ahmadinejad menjadi wali kota Teheran.
Sebagai wali kota, Ahmadinejad dipuji karena dinilai berhasil menangani masalah lalu lintas dan menjaga harga tetap rendah.
Pada 2005, Ahmadinejad mengumumkan pencalonannya sebagai presiden Iran.
Meski pernah menjabat wali kota ibu kota, ia saat itu masih dianggap sebagai sosok luar politik dan jajak pendapat menunjukkan dukungan yang minim menjelang putaran pertama pemilu.
Namun, melalui mobilisasi pendukung secara besar-besaran dan dukungan kelompok konservatif garis keras, Ahmadinejad berhasil meraih seperlima suara.
Hasil tersebut membawanya ke putaran kedua, di mana ia mengalahkan lawannya yang lebih moderat, mantan presiden Hashemi Rafsanjani.
Ia kemudian dikukuhkan sebagai presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Mengutip NY Post, para kritikus di dalam maupun luar negeri memandang Ahmadinejad sebagai sosok ideologis yang konfrontatif.
Kebijakan ekonominya dinilai memicu inflasi, sementara retorikanya memperdalam isolasi internasional Iran.
Selama masa jabatannya, Dewan Keamanan PBB memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap program nuklir Iran yang semakin memperburuk isolasi ekonomi negara tersebut.
Ahmadinejad juga dikenal luas di Barat karena retorikanya terhadap Israel dan komentarnya mengenai Holocaust.
Pada 2006, pemerintahannya menyelenggarakan konferensi di Teheran yang dikecam luas sebagai wadah penyangkalan Holocaust dan memicu kemarahan internasional.
Dalam konferensi tahun 2005 bertajuk “Dunia Tanpa Zionisme”, ia mengutip pernyataan Ruhollah Khomeini yang menyebut Israel sebagai rezim pendudukan Yerusalem dan “harus dihapus dari peta”.
Para pendukungnya kemudian berpendapat bahwa terjemahan pernyataannya masih diperdebatkan, sedangkan para kritikus menilai maksudnya jelas bersifat permusuhan.
Basis politik Ahmadinejad sangat terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam dan milisi Basij yang berperan penting dalam memperkuat kekuasaannya serta menekan perbedaan pendapat.
Pada 2007, saat berbicara di Universitas Columbia, New York, Ahmadinejad menyatakan bahwa tidak ada homoseksual di Iran.
Masa kepresidenannya juga ditandai dengan penekanan besar pada kepercayaan mesianik Syiah tentang kembalinya Imam Tersembunyi, yang menurut para kritikus mengaburkan batas antara teologi dan tata negara.
Di tingkat internasional, ia menjalin hubungan erat dengan Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chavez, dan menggambarkan kemitraan mereka sebagai front persatuan melawan pengaruh AS.
Di dalam negeri, program perumahan Mehr dan reformasi subsidi yang dilakukannya kemudian dikritik karena memperburuk inflasi serta memicu salah urus ekonomi.
Sebelum perang Iran, Ahmadinejad juga secara terbuka berselisih dengan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan berulang kali dilarang mencalonkan diri kembali sebagai presiden, yang menandai disingkirkannya dalam pemerintahan Iran.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)