TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Rentetan bencana longsor dan pergerakan tanah yang melanda Kecamatan Dayeuhluhur membuat warga di wilayah barat Kabupaten Cilacap hidup dalam bayang-bayang ancaman tanah ambles dan longsor susulan setiap kali hujan turun.
Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap melakukan monitoring dan penanganan darurat di sejumlah titik terdampak sejak beberapa hari terakhir.
Peninjauan lapangan sudah dilakukan pada Senin (18/5) dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo bersama Camat Dayeuhluhur, BBWS Citanduy, UPTD PKBD Majenang, dan pemerintah desa setempat.
“Penanganan darurat terus kami lakukan untuk memastikan akses warga tetap aman dan aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan,” ujar Taryo.
Di Desa Bingkeng, longsoran sempat memutus mobilitas warga setelah material tanah menutup jalan penghubung antar-dusun, area persawahan, hingga saluran drainase.
Pergerakan tanah di Dusun Pasirmanggu bahkan menyebabkan badan jalan retak dan nyaris terputus akibat tekanan tanah yang terus bergerak saat curah hujan meningkat.
“Kerusakan paling parah terjadi di titik jalan yang mengalami retakan dan ambles sehingga perlu penanganan cepat menggunakan alat berat,” kata Taryo.
BPBD bersama BBWS Citanduy kemudian menerjunkan alat berat sejak 14 Mei 2026 untuk membersihkan material longsor dan mempercepat pemulihan akses jalan desa.
Per Senin (18/5), jalur penghubung antarwilayah akhirnya kembali bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat setelah proses pembersihan selesai dilakukan.
“Jalan penghubung antar-dusun saat ini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat setelah dilakukan pembersihan dan perbaikan darurat,” jelas Taryo.
Selain membersihkan material longsor, tim gabungan juga melakukan pengurukan di titik jalan yang amblas guna mencegah kerusakan semakin meluas.
Petugas memasang pancang dari batang pohon di tebing jalan untuk memperkuat struktur tanah yang mulai labil akibat gerakan tanah bawah permukaan.
“Langkah darurat ini kami lakukan untuk mengurangi risiko longsor susulan terutama saat hujan deras kembali turun,” ungkap Taryo.
Saluran drainase baru juga dibuat untuk mengalihkan aliran air agar tidak terus mengikis badan jalan yang rawan ambrol.
Sementara itu, situasi di Desa Dayeuhluhur justru dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena retakan tanah terus muncul di dekat kawasan permukiman warga.
Di Dusun Picungdatar RT 02 RW 10, retakan sepanjang sekitar 100 meter membelah badan jalan desa dan diduga menjadi mahkota longsoran besar.
“Retakan sepanjang kurang lebih 100 meter ini diduga kuat menjadi mahkota retakan tanah yang siap memicu longsoran besar kapan saja,” ujar Taryo.
Ancaman tersebut kini membayangi sedikitnya 35 rumah yang dihuni 38 kepala keluarga atau sekitar 76 jiwa di bawah area retakan tanah.
“Kondisi ini sangat berbahaya karena posisi retakan berada tepat di atas kawasan permukiman warga,” kata Taryo.
Bencana longsor dan pergerakan tanah di Desa Dayeuhluhur bahkan mengepung empat dusun sekaligus, yakni Dusun Cilulu, Ciparahu, Picungdatar, dan Sindanglangu.
Di Dusun Cilulu, longsor yang terjadi pada Selasa (12/5/2026) tercatat sebagai kejadian ketiga yang kembali merusak akses jalan desa dan lingkungan permukiman.
“Peristiwa longsor di Dusun Cilulu terjadi berulang dan menunjukkan kondisi tanah di wilayah tersebut semakin rentan,” ujar Taryo.
Fenomena paling mengejutkan terjadi di Dusun Picungdatar karena untuk pertama kalinya wilayah itu mengalami pergerakan tanah secara masif. Retakan sepanjang kurang lebih 300 meter dengan kedalaman ambles mencapai satu meter ditemukan di wilayah RT 04 RW 10 dengan lebar retakan antara 10 hingga 30 sentimeter.
“Tanah di lokasi tersebut mengalami penurunan dan pergeseran yang cukup signifikan sehingga memicu retakan panjang,” jelas Taryo.
Akibat bencana itu, sedikitnya empat rumah warga mengalami kerusakan berat pada bagian dinding dan pondasi bangunan.
Salah satu rumah milik Zaenal Ahmad Arifin bahkan harus dikosongkan karena kondisi bangunan retak parah dan berisiko roboh sewaktu-waktu.
“Sebanyak empat rumah warga mengalami kerusakan parah pada bagian dinding dan struktur pondasi,” ungkap Taryo.
Selain rumah warga, longsoran juga merusak dinding sebuah pabrik kayu serta menimbun beberapa kolam ikan milik masyarakat.
“Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman, tetapi juga fasilitas usaha dan lahan milik warga,” kata Taryo.
Melihat intensitas pergerakan tanah yang terus berulang, warga dan pemerintah desa kini mendesak adanya kajian teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG.
Kajian tersebut dinilai penting untuk mengetahui tingkat kerawanan tanah sekaligus menentukan langkah mitigasi jangka panjang bagi keselamatan warga.
“Masyarakat berharap ada kajian teknis dari PVMBG untuk memastikan apakah wilayah ini masih layak dihuni atau perlu relokasi,” tutur Taryo. (Rayka Diah)