Saat Darren England melangkah ke lapangan Wembley pada hari Sabtu didampingi oleh Reece James dan Bernardo Silva, ia mungkin merasa lega bisa kembali berada di lapangan.
Wasit final Piala FA tersebut baru saja bertugas sebagai asisten wasit video (VAR) dalam kemenangan Arsenal atas West Ham United di Liga Premier akhir pekan lalu. Intervensinya membuat gol penyeimbang Callum Wilson untuk The Hammers dianulir, dan keputusan itu berdampak besar terhadap perebutan gelar juara serta pertarungan degradasi.
Wasit Chris Kavanagh membatalkan gol tersebut, dan sejak saat itu keputusan itu terus menjadi bahan perdebatan tanpa henti. Jadi, sejauh mana VAR benar-benar menghapus kontroversi dari keputusan besar?
Darren England akan memimpin pertandingan final hari Sabtu antara Chelsea dan Manchester City, sementara Peter Bankes akan memantau detail pertandingan dari lokasi lain.
Gagasan bahwa VAR hanya sebatas uji coba sejak awal sebenarnya adalah kesalahan besar. Penerapannya sudah menjadi keputusan final sejak hari pertama, dan hingga kini sistem tersebut masih menimbulkan masalah di mana pun digunakan, bahkan ketika kita mendekati ulang tahun kesepuluh pertandingan resmi pertamanya pada tahun 2016.
Meski begitu, pertandingan pertama yang menggunakan VAR dengan Darren England sebagai pengawas ditetapkan sebagai 'uji coba', dan bukan di Liga Premier, melainkan di Piala FA. Pertandingan antara Brighton & Hove Albion dan Crystal Palace pada Januari 2018 mendapatkan kehormatan yang meragukan itu.
Sejak musim 2019-2020, VAR telah diterapkan di Liga Premier dan turut disertakan di Piala FA tanpa banyak pertimbangan terhadap karakteristik unik turnamen tersebut.
Alih-alih memanfaatkan keunikan dan kerumitan Piala FA untuk menjadikan absennya VAR sebagai pembeda, Asosiasi Sepak Bola justru terjebak oleh keputusannya sendiri. Seharusnya mereka sudah tahu lebih baik.
Penerapan VAR di Piala FA telah menjadi bahan olok-olok. Untuk beberapa waktu, teknologi ini hanya digunakan di stadion Liga Premier serta babak semifinal dan final di Wembley, namun tidak di tempat lain dalam putaran yang sama. Kini, penggunaannya berbeda-beda tergantung pada babak tertentu.
Kemenangan Newcastle United atas Aston Villa di babak keempat musim ini menjadi salah satu momen terburuk bagi Kavanagh, yang saat itu tidak memiliki Darren England atau siapa pun di ruang VAR untuk memperbaiki beberapa kesalahan besar. Namun di babak kelima, VAR digunakan di Port Vale.
Musim ini menjadi kali pertama teknologi VAR diwajibkan dipasang di stadion-stadion di luar Liga Premier.
Hal ini memang membawa sedikit perbaikan karena setiap pertandingan dalam satu babak dijalankan dengan aturan yang sama, tetapi perbedaan antara satu babak dan babak lainnya tetap menjadi alasan kuat untuk menolak penggunaan VAR di Piala FA.
Pihak Asosiasi Sepak Bola sering menyanjung Piala FA sebagai kompetisi sepak bola tertua di dunia, dengan 747 tim dari Inggris, Wales, dan Kepulauan Channel ikut berpartisipasi musim ini dalam satu wadah besar yang mencerminkan sejarah sepak bola.
Namun, yang jarang diakui oleh otoritas adalah bahwa VAR, serta teknologi garis gawang, telah menciptakan perpecahan terbesar dalam sejarah 155 tahun kompetisi ini.
Jika VAR digunakan di babak kelima, mengapa tidak di babak keempat? Atau bahkan di babak ketiga?
Jika VAR diterapkan setelah tim-tim Liga Premier masuk di babak ketiga, mengapa babak pertama dan kedua diperlakukan berbeda?
Jika VAR digunakan di tahap utama kompetisi, apakah itu berarti pertandingan dari bulan November lebih penting dibanding laga di awal Agustus pada babak prakualifikasi tambahan? Bagi siapa sebenarnya perbedaan itu dibuat?
Uang menjadi jawaban dari semua pertanyaan tersebut, namun biaya bukanlah alasan yang dapat membenarkan perbedaan perlakuan antar babak. Intinya, Piala FA tidak mampu menanggung biaya VAR.
Menurut pandangan majalah FourFourTwo, hal itu seharusnya dilihat sebagai peluang. Piala FA berbeda. Ia istimewa. Esensinya tak tertandingi di dunia sepak bola, dan penyelenggara telah melewatkan kesempatan untuk menegaskan, “Tidak, bukan di sini!” terhadap penggunaan VAR.
Terlepas dari semua perdebatan para pengamat soal keputusan wasit di bulan April dan Mei, Piala FA tetap sama pentingnya di bulan Agustus. Itu adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Di tengah dunia sepak bola yang hampir setiap minggu dipenuhi tinjauan dan perdebatan, tidak ada tempat perlindungan yang lebih baik daripada turnamen klub tertua ini. Siapa pun yang pernah menonton pertandingan dengan VAR selama berbulan-bulan, lalu menyaksikan satu laga tanpa VAR, pasti mengerti perbedaannya.
Badan-badan pengatur sepak bola memang tidak dikenal piawai dalam refleksi diri, tetapi harapan untuk Piala FA belum sepenuhnya hilang.
Musim demi musim, para penggemar terus bertanya apakah “magis” turnamen ini masih ada, atau apakah kekuatan klub-klub kaya kini begitu besar hingga mengganggu keseimbangan kompetisi ini.
Ketidakkonsistenan dalam penggunaan laga ulangan juga menjadi keluhan bagi klub-klub di divisi bawah, namun menghapus VAR sepenuhnya dari Piala FA bisa menjadi langkah mundur yang justru memberi turnamen ini dorongan baru yang dibutuhkan.