Daftar Terbaru Nama-nama 9 WNI Ditahan Militer Israel saat Menuju Gaza
Fitriadi May 21, 2026 07:03 AM

 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Data terbaru yang diterima Kementerian Luar Negeri RI bahwa jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh otoritas militer Israel bertambah dari semula 5 orang menjadi 9 orang.

Mereka tersebar pada lima kapal kemanusiaan berbeda dalam rombongan Global Sumud Flotilla (GSF).

Rombongan misi kemanusiaan dari berbagai negara tersebut sedang menuju Gaza.

Baca juga: Video : Pasukan Israel Todong Senjata dan Sandera Dua WNI saat Kapal Zafiro Hampir Sampai Gaza

Menurut panitia penyelenggara misi kemanusiaan ke Gaza, lebih dari 460 aktivis dari 45 negara ikut serta dalam misi tersebut. Mereka seluruhnya ditahan militer Israel.

Dari 9 WNI yang ditahan, terdapat  lima WNI yang jadi korban intersepsi militer Israel yakni Bambang Noroyono atau Abeng; Thoudy Badai; Andre Prasetyo Nugroho; Rahendro Herubowo; dan Andi Angga.

Berikut ini sembilan WNI yang tergabung dalam rombongan kapal GSF dan dilaporkan diculik oleh militer Israel:

1. Herman Budianto Sudarsono dari Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro

2. Ronggo Wirasanu dari Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro

3. ⁠ Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat di Kapal Josef

4. Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqso di Kapal Kasri Sadabad

5. Hendro Prasetyo dari SMART 171 di Kapal Kasri Sadabad

6. ⁠Jurnalis Republika, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize

7. ⁠Jurnalis Republika, Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk

8. ⁠Jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk

Bukan Diculik atau Disandera

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa penangkapan 9 WNI bersama rombongan kemanusiaan untuk Gaza oleh militer Israel di atas kapal Global Sumud Flotilla bukan merupakan kasus penculikan ataupun penyanderaan.

“Berdasarkan apa yang terjadi sebelumnya, yang (Global Sumud Flotilla) 1.0 juga waktu itu, itu dideportasi. Itu tidak ada, saat ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan,” ujar Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026).

“Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ini di-intercept karena memang mereka melarang, Israel melarang kapal apa pun masuk ke wilayah tersebut untuk, kepentingan apa pun," ujar Sugiono.

Sugiono menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus memonitor perkembangan situasi di lapangan sejak laporan pertama diterima.

Pihaknya juga telah menginstruksikan sejumlah perwakilan diplomatik Indonesia di Timur Tengah untuk bergerak cepat mengamankan kepulangan para WNI.

Minta Bantuan Turki-Yordania

Pemerintah resmi meminta bantuan dari Turki dan Yordania untuk mendesak pembebasan 9 WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla di perairan Gaza, Palestina.

Langkah ini diambil setelah ada pembaruan data yang menunjukkan jumlah WNI yang ditahan bertambah dari 7 menjadi 9 orang.

Sugiono mengatakan Kemenlu memanfaatkan jalur diplomatik negara ketiga lantaran Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.

"Angka ya, WNI kita yang ditangkap itu 7. Terus tadi begitu di dalam ada informasi baru, jadi 9 yang tergabung dalam Global Flotilla ini," ujar Menlu Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026).
 
Ia mengatakan fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan dan hak-hak dasar para relawan tersebut terpenuhi selama masa penahanan.

"Nah, tadi juga saya sampaikan kita minta kepada rekan-rekan kita yang punya hubungan langsung, untuk pertama memastikan kondisi mereka, kondisi rekan-rekan kita yang ditahan itu baik. Kemudian, mereka juga diperlakukan dengan baik," kata Sugiono.

Menlu Sugiono juga mengecam keras aksi penahanan yang dilakukan oleh pihak militer Israel.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan karena para relawan membawa misi kemanusiaan yang murni untuk membantu warga Gaza.

"Dan apa yang dilakukan oleh Israel merupakan suatu hal yang melanggar kemanusiaan. Karena mereka ada dalam misi damai, saya hargai, apresiasi semangat mereka untuk sama-sama mencari solusi dari permasalahan dari saudara-saudara kita yang ada di Palestina, khususnya di Gaza," tegasnya.

Terkait desakan publik yang meminta Presiden Prabowo segera memulangkan para WNI, Sugiono menjelaskan bahwa proses ini menghadapi tantangan teknis yang berat, terutama dalam hal komunikasi.

"Kita sudah, kita sudah minta. Tadi keterbatasan komunikasi ini, makanya kita harus lewat pihak ketiga. Tapi kita terus melakukan koordinasi dan pemantauan setiap saat. Karena situasinya juga situasi komunikasinya juga cukup menantang. Kita tidak punya jalur komunikasi yang terbuka," jelasnya.

Selain mengandalkan komunikasi diplomatik via Turki dan Yordania, Menlu mengatakan dirinya juga telah menunjuk lembaga hukum hak asasi manusia setempat untuk memberikan pengawalan hukum langsung dari dalam teritorial terkait.

"Kita sudah engage pengacara yang juga pada kasus-kasus sebelumnya, yang adalah ya, namanya Adalah (Lembaga Hukum HAM). Jadi lewat jalur tersebut kita pakai, lewat jalur rekan-rekan kita yang di Yordania dan Turki kita pakai," urai Menlu Sugiono.

Ia menambahkan pemerintah berharap upaya berlapis ini dapat segera membuahkan hasil positif agar para relawan bisa secepatnya dievakuasi dari wilayah penahanan.

"Kita harapkan hal ini tidak berlangsung lama. Dan kita akan terus melakukan pengawasan serta tekanan terhadap situasi ini. Dan kita berharap kondisi mereka bisa baik sampai nanti kita pulangkan ke tanah air," tutupnya.

Minta Bantuan BoP

Pemerintah Indonesia juga meminta dukungan Board of Peace (BoP) untuk membantu proses pembebasan 9 warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh militer Israel.

Kesembilan WNI tersebut ditangkap setelah kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang mereka tumpangi diintersepsi di perairan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan pemerintah telah mengaktifkan jalur diplomasi multilateral serta komunikasi dengan sejumlah negara di kawasan untuk memastikan kondisi para WNI.

“Oh, iya,” kata Sugiono saat dikonfirmasi soal keterlibatan BoP di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Kementerian Luar Negeri RI juga menginstruksikan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk berkoordinasi dengan negara-negara yang memiliki akses komunikasi dengan Israel, termasuk Yordania, Turki, dan Mesir.

“Saya sudah menghubungi perwakilan kita untuk berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri di Jordan, Turki, Mesir untuk mencari informasi yang akurat terkait posisi dan keadaan WNI kita,” ujar Sugiono.

Perwakilan RI diminta memastikan para WNI mendapatkan perlakuan yang layak dan diproses sesuai prosedur hingga dapat dideportasi kembali.

“Kami meminta agar mereka diperlakukan dengan baik dan bisa segera dideportasi kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat,” kata Sugiono.

Sugiono menyebut waktu pemulangan belum dapat dipastikan karena keterbatasan akses komunikasi dengan otoritas di lapangan. Namun, pemerintah merujuk pada pola penanganan kasus serupa sebelumnya.

“Biasanya mereka dimintai keterangan, kemudian dideportasi kembali ke negara masing-masing,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia menilai keterlibatan para WNI dalam misi tersebut sebagai bagian dari aksi kemanusiaan untuk mendukung warga Gaza di tengah konflik.

Kronologi Penangkapan

Berikut adalah kronologi lengkap peristiwa yang terjadi pada Senin (18/5/2026) dari lagi hingga malam hari kejadian

Armada Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza berlayar mendekati perairan internasional dekat Siprus, sekitar 200-250 mil laut dari Gaza. 

Rombongan Indonesia terdiri dari sembilan WNI yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Sekitar pukul 11.00 waktu Turki, kapal-kapal militer Israel mulai melakukan intersepsi terhadap armada tersebut.

Pasukan Israel dilaporkan mendekati kapal-kapal sipil dengan jarak sangat dekat.

Spekulasi terkait eskalasi oleh militer Israel pun kian menjadi setelah Bambang Noroyono, yang berada di Kapal BoraLize, sempat mengirimkan laporan SOS ke kantor Republika sekitar pukul 15.20 WIB.

Ia melaporkan bahwa kapalnya telah didekati oleh kapal perang Israel.

Jarak kapal militer Israel hanya sekitar seratusan meter dari kapalnya. 

Tak lama setelah itu, Bambang mengirim sinyal SOS sesuai protokol misi.

Setelah pesan tersebut terkirim, kontak dengan Bambang terputus sepenuhnya.

Republika menyatakan lost contact dengan kedua jurnalisnya.

Setelah melalui masa ketidakpastian, Command Center Global Sumud Nusantara di Malaysia pada akhirnya mengonfirmasi bahwa kapal BoraLize (Bambang Noroyono) dan Kapal Ozgurluk (Thoudy Badai Rifan Billah) telah diintersepsi.

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Muhammad Zulfikar, Igman Ibrahim, Bobby W)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.