TRIBUNJABAR.ID - Harga tiket laga pamungkas Persib Bandung di Super League 2025/2026 mengalami kenaikan.
Persib Bandung akan menjamu Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dalam pekan ke-34, Sabtu, 23 Mei 2026.
Laga ini akan menjadi pertaruhan bagi Persib Bandung untuk mengunci gelar juara Super League 2025/2026.
Jika berhasil, Persib Bandung pun akan mencetak sejarah sebagai tim pertama yang meraih gelar hattrick pertama kali di liga Indonesia.
Harga tiket Persib Bandung vs Persijap Jepara ini terpantau sudah terjual habis.
Adapun, harga tiket pertandingan kali ini mengalami kenaikan dibandingkan laga-laga sebelumnya.
Sebagai perbandingan, harga tiket reguler Persib Bandung untuk kategori termurah seperti tribun Timur, Utara, dan Selatan, biasanya dijual Rp117.500.
Baca juga: Denda Persib Bandung Setara Nilai Pasar Ramon Tanque, Bobotoh Dimohon Tak Berulah di Laga Terakhir
Sementara, pada laga-laga dengan risiko tinggi seperti melawan Persija Jakarta pada Januari lalu, harga tiket dijual Rp180.000.
Di sisi lain, harga tiket laga pamungkas melawan Persijap Jepara untuk kategori yang sama dibanderol Rp205.000.
Lantas, apa alasan kenaikan harga tiket Persib yang nyaris dua kali lipat tersebut?
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket ini memiliki alasan keamanan.
Pihak panitia pelaksana, kata Adhitia, hendak mempertebal pengamanan yang membutuhkan biaya sangat besar.
"Kami akan menambah jumlah steward dan jumlah pengamanan di beberapa titik ring. Itu kan butuh biaya tambahan," ucap Adhitia di Graha Persib, Rabu (20/5/2026).
"Otomatis ada kenaikan tiket yang memang digunakan untuk penambahan beberapa keamanan yang kita butuhkan," sambungnya.
Adhitia menuturkan, kenaikan harga tiket itu untuk menutupi biaya-biaya pengamanan.
"Nah itu tiket kita naikkan memang untuk menutupi biaya-biaya tersebut yang memang naiknya lumayan signifikan," ungkap Adhitia.
Dalam kesempatan yang sama, Adhitia Putra Herawan juga memberikan himbauan kepada Bobotoh terkait keselamatan dan aturan menyaksikan laga, salah satunya mengenai flare atau suar.
"Kami sangat melarang adanya nanti, flare, petasan, dan segala macam, spesifik ketika pertandingan berlangsung hingga perayaan angkat piala," ujar dia.
Adhitia menjelaskan penyalaan flare, petasan, dan sejenisnya harus nihil atau tidak ada sebelum piala diangkat di akhir prosesi pengalungan gelar juara.
Sehingga jangan sampai ada Bobotoh yang menyalakan flare dan lainnya sebelum prosesi berakhir.
"Saya paham, ada beberapa komunitas yang memang secara kultur, itu sangat mendorong ada penggunaan flare dan segala macam," beber Adhitia.
"Tapi kami sangat memohon tolong jangan dilakukan sampai perayaan angkat pialanya selesai, jika kita juara," imbuh dia.
Sebab, menurut Adhitia, penyalaan suar saat pertandingan sangat mengganggu, pandangan akan gelap dan membuat mata perih.
Baca juga: Persib Bisa Sempurnakan Gelar: Bojan Hodak, Barba dan Beckham Potensi Pelatih dan Pemain Terbaik
Ia khawatir secara visual broadcasting menjadi tidak bagus dan ujung-ujungnya tak banyak orang yang bisa menikmati.
"Mangga itu dilakukan, tapi nanti ya, tunggu sampai prosesinya selesai," ujar Adhitia.
"Kami memohon dari awal pertandingan, sampai nanti angkat piala jika kita juara tolong ikuti semua aturan yang ada, regulasi yang ada," sambungnya.
Setelah itu selesai, kata Adhitia, Bobotoh dipersilakan merayakan di luar stadion mau ada parade dan segala macam, mangga diselenggarakan.
"Tapi selama acara hingga angkat piala selesai tolong ikuti peraturan dan regulasi yang ada," ucapnya.
Adapun pada perayaan Persib Bandung juara musim lalu, selebrasi pengangkatan piala terhambat dengan adanya penyalaan flare dan banyak penonton yang turun ke lapangan.
Sehingga, pengalungan medali dan pengangkatan piala yang awalnya akan digelar di panggung yang ada di sisi lapangan, jadi dialihkan ke tribun.
(Tribunjabar.id/Rheina, Lutfi Ahmad Mauludin)