Pesta Babi, Papua dan Kita
Sudirman May 21, 2026 10:08 AM

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Apakah film dokumenter Pesta Babi mampu menjadi pemicu lahirnya kesadaran rakyat dalam menciptakan perubahan sosial?

Semua itu tergantung bagaimana kita meresponnya.

Awal film dokumenter ini hadir, saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa menontonnya secara full.

Saat di mana telah terjadi intimidasi dalam nonton bareng film dokumenter pesta babi ini.

Rasa penasaran itu makin terasa saat saya melihat komunitas, lembaga, aktivis, pegiat literasi dan seterusnya yang akan mengadakan pemutaran film ini mendapat teror, pembubaran hingga represivitas aparat.

Makin membuat saya bertanya-tanya, ada apa dengan film ini, apakah konten dan isinya begitu sangat penting hingga dianggap sebagai sebuah gangguan dan ancaman oleh pihak-pihak tertentu?

Seiring berjalannya waktu saya melihat dan menyaksikan kawan-kawan saya juga di beberapa tempat telah mengadakan nonton bareng film dokumenter ini yang diiringi dengan diskusi bersama audiens yang hadir.

Saya melihat hampir setiap komunitas dan lembaga yang turut mengapresiasi film ini dengan dirangkaikan nonton bareng dan diskusi selalu dipadati orang-orang yang ingin mengetahui isi dari filmnya.

Beruntungnya saya juga telah menonton fullnya melalui youtube.

Awal saya menontonnya, link youtube yang saya temukan juga telah ditakedown, tetapi cerdasnya karena film ini sudah tersebar di mana-mana sehingga filmya dapat dengan mudah kita temui di banyak channel youtube dan platform media sosial lainnya.

Maka, beruntunglah bagi kita semua yang telah mengaksesnya.

Dandhy Laksono sebagai seorang sutradara juga sekaligus narator dalam film ini telah mengajak kita untuk mengenal Papua lebih dalam dan lebih dekat.

Saat di mana media-media mainstream, televisi dan seterusnya mengaburkan itu semua.

Bukan tanpa alasan, melainkan karena intimidasi elite oligarki dan para pemangku kebijakan yang berkepentingan menghisap habis kekayaan alam dari Papua.

Dan pastinya mereka akan terganggu melalui fakta yang terkuak tentang Papua termasuk kehadiran film dokumenter ini. 

Selama beberapa dekade kita tidak tahu betul apa yang terjadi di Papua.

Tentang perampasan hak, perampasan lahan, pengerukan hutan, militerisme dan kejahatan kemanusiaan itu hanya terdengar melalui mulut-mulut dan pengalaman orang yang pernah ke sana.

Saya pun baru mengetahui informasi dan kenyataan hidup yang ada di Papua dari kawan-kawan saya yang pernah berkunjung di sana. Dan faktanya, selama ini masih sedikit yang kita tahu tentang Papua.

Setelah film ini saya tonton full, saya harus mengatakan bahwa kekayaan alam Papua tanpa batas itu rupanya sama sekali tidak diperuntukkan oleh orang Papua itu sendiri melainkan mereka hanya dimiskinkan, dirampas hak hidupnya, diterlantarkan oleh negara yang semestinya melindungi mereka.

Pemerintah kita kini tidak hadir sebagai simbol negara yang harusnya hadir memberi rasa aman.

Tetapi hadir sebagai wujud penjajah baru di era modern ini yang dengan sukarela ditaktis dan diatur oleh para oligarki, perusahaan industri yang notabenenya hanya milik satu keluarga.

Bayangkan kisaran 2,5 juta hektar lahan dalam rangka proyek strategis nasional untuk kepentingan swasembada pangan dan energi.

Dari kebijakan nasional ini terkesan bahwa pemerintah hanya mementingkan kemajuan berbasis data statistik belaka dan pertumbuhan ekonomi tanpa tahu bahwa pertumbuhan dan kemajuan selamanya juga tidak beriring pada kesejahteraan, pemerataan dan kelayakan hidup seperti yang tidak dirasakan oleh orang Papua selama ini.

Dalam kaitan dengan perluasan lahan ini yang paling mendapat kerugian dan menjadi korban adalah masyarakat Papua. Olehnya, sebagai simbol perlawanan ada beberapa suku dalam film ini, termasuk suku Marind, suku Yei, suku Awyu, dan suku Muyu.

Mereka hadir sebagai representasi Papua, sebagai simbol dan tentu sebagai benteng pertahanan dari bangsa dan negaranya sendiri yang memperlakukan mereka sangat tidak adil dan manusiawi.

Ada beberapa kultur dan budaya yang ditampilkan dalam film ini termausk salib merah dan pesta babi.

Salib merah sebagai suatu simbol sakral, simbol penting yang dapat dimaknai sebagai benteng pertahanan atau pembatas.

Dalam film ini salib merah dipasang sebagai penanda, palang dan pembatas agar industri dan perusahaan tidak menyerobot dan mengambil paksa hak orang Papua.

Dan juga menjadi simbol suci bahwa hanya doa, harapan dan kasih sayang Tuhan yang dapat menyelamatkan mereka.

Selain bahwa harapan itu bagi mereka tidak bisa diwujudkan oleh negara dan pemerintahnya sendiri.

Dalam konteks lain, Salib Merah bisa menjadi penanda dan simbol perlawanan bahwa hak yang dirampas akan mendapat balasan dan perlawanan. 

Selanjutnya, pesta babi sendiri diadakan kurang lebih selama sepuluh tahun sekali oleh suku Muyu di Papua Selatan. Dengan cara memelihara dan melepaskan babi secara liar hingga siap dikonsumsi.

Pesta babi sebagai judul dalam film dokumenter ini cukup memberikan saya arah dan gambaran. Setelah menontonnya saya sadar bahwa pemilihan judul Dandhy Laksono sudah sangat tepat. 

Coba kita bayangkan, tradisi adat dan kebiasaan pesta babi ini telah berjalan selama bertahun-tahun. 

Kalau hutan mereka dirampas dengan dalih kebijakan strategis nasional melalui swasembada pangan dan energi lalu pesta babi sebagai suatu kesadaran dan pandangan hidup bagi mereka pastinya tidak akan berlangsung lagi.

Sehingga, pesta babi bagi suku Muyu juga menjadi sebuah simbol perlawanan bagi negara dan industri yang sewenang-wenang merampas hak dan penghidupan mereka.

Begitupun dengan suku-suku lainnya menjadi representatif dalam perjuangan hak. 

Coba kita bayangkan dalam film ini ditampilkan sebanyak dua ribu ekskavator yang hanya dimiliki oleh satu keluarga dalam rangka proyek strategis nasional untuk melakukan perluasan lahan, pembuatan sawah, penanaman sawit dan penanaman tebu.

Dalihnya swasembada pangan dan energi dengan menciptakan bioetanol dan biodiesel. Tapi faktanya kekejaman, penindasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di tanah Papua.

Tanpa pernah benar-benar berpikir bagaimana nasib kehidupan orang Papua dan generasi mereka yang akan datang.
Bukannya melakukan dialog dengan orang Papua.

Pemerintah malah memberi respon represivitas dengan penjagaan yang ketat, melalui militerisme, aparat negara sebagai pelindung dan pengawal oligarki.

Kehadirannya hanya sebagai kaki tangan dan roda untuk melancarkan proyek industri yang didalamnya berisikan represivitas, kejahatan kemanusiaan, konflik agraria, deforestasi dan kerusakan alam, perampasan ruang hidup dan seterusnya.

Dari film dokumenter ini kita belajar persekongkolan pemerintah dan oligarki sungguh kejam dan faktanya terjadi di tanah Papua.

Dari sini kita juga belajar bahwa ambisi dari seorang pemimpin negara melalui program dan kebijakan tidak selalu berarti dan berdampak pada masyarakat kecil. 

Melainkan hanya menguntungkan oligarki dan pihak tertentu saja. 

Ringkasnya pemerintah hanya memikirkan kemajuan dan pertumbuhan dengan data dan survei umum.

Tanpa benar-benar mau mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan dan pemerataan di tanah Papua.

Akhirnya, dari film ini juga negara dan pemerintah kita telah banyak ditaktis oleh oligarki dan perusahaan yang notabenenya hanya bersumber dari satu keluarga saja.

Sekarang nasib tanah Papua ada pada kesadaran kita bersama. 

Papua sebagai suatu simbol yang harus kita perhatikan dan ikut memperdulikan nasib mereka. 

Dari sini kita bisa mengatakan bahwa negara, militer, pemerintah dengan persekongkolan oligarki memang sangat dahsyat.

Dengan dalih kebijakan strategis nasional namun perlahan menghilangkan kehidupan dan tanah orang Papua dari peta Indonesia.

Hari ini Papua, kita selanjutnya. Olehnya, Papua adalah kita, Papua bukan tanah kosong

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.