Laporan Wartawan TribunJatim.com, Febrianto Ramadani
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga Prof. Dr. Henri Subiakto, menyebut peran media massa terus mengalami penurunan drastis.
Hal tersebut disampaikan saat jadi pembicara, dalam Rapat Koordinasi Sinergi Kebijakan Media Massa yang Bertanggung Jawab, Edukatif, Jujur, Objektif, dan Sehat Industri (BEJO’S), di Hotel JW Marriot Surabaya,Rabu siang (20/5/2026).
Menurutnya, di tengah dinamika disrupsi digital dan transformasi lanskap media, dalam rangka menjaga kondusifitas situasi politik nasional, terdapat teknologi yang menghubungkan orang di dunia, dengan ratusan juta di Indonesia.
Baca juga: Viral Pembantu Rumah Tangga di Surabaya Dilaporkan Majikan, Diduga Curi Emas Batangan Puluhan Juta
Kondisi itu, lanjut dia, membuat seseorang tidak bisa terpisah, sehingga muncul fenomena Mass Self Communication. Alhasil masyarakat saling terkoneksi satu sama lain.
“Komunikasi menyebar ke banyak orang tetapi tidak lagi lewat media massa, melainkan lewat satu orang ke orang lain,” ujarnya.
Maka dari itu ia menjelaskan, dari trend tersebut lahir berbagai gaya komunikasi yang menjadikan semua orang bisa seperti wartawan.
“Pelaku-pelaku komunikasi itu adalah siapapun, bukan hanya wartawan yang sudah dilatih. Banyak yang mewarnai komunikasi publik, bahkan tidak diajari dunia jurnalistik,”urainya.
“Terlebih lagi Gen Z sekarang lebih mengikuti media sosial daripada media massa. Sekarang ini bukan lagi bahwa konten harus bagus, tapi yang penting adalah diikuti atau tidak,” imbuhnya
Tidak hanya itu, fenomena itu juga berseiring dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI.
Alhasil, terjadi dominasi platform video karena akses lebih mudah, dan tampilan lebih menarik. Serta membuat arus informasi semakin cepat dan terbuka, namun juga meningkatkan risiko hoaks, disinformasi, polarisasi, dan scam.
“Banyak wartawan pintar, bagus, sekarang terdisplace, terlempar dari tempat yang dulunya industri sekarang sudah tidak mampu lagi membayar. Oleh sebab itu, media harus bertanggung jawab, edukatif, jujur, objektif, sehat,” pungkasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam, Marsekal Muda TNI Dr. Eko D. Indarto, menegaskan, teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap komunikasi dan media global.
Baca juga: Hari Jadi Kota Surabaya 2026, PAM Surya Sembada Hadirkan Diskon Pasang Baru hingga 70 Persen
Konsekuensinya, ruang informasi menjadi tidak sepenuhnya seimbang karena pihak yang menguasai teknologi, data, dan algoritma akan memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar.
“Pertarungan hari ini bukan lagi sekadar perebutan ruang redaksi, tetapi perebutan atensi, persepsi, bahkan kesadaran publik,” ucapnya.
Ia menilai, pada era digital, stabilitas nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan pertahanan, tetapi juga kemampuan bangsa dalam menjaga ruang informasinya tetap sehat, terpercaya, dan kondusif.
“Media massa memiliki posisi strategis sebagai sumber informasi, sarana edukasi publik, kontrol sosial, penyalur aspirasi masyarakat, serta pilar penting dalam menjaga demokrasi, stabilitas politik, dan ketahanan nasional,” tandasnya.