Duduk Perkara Aman Yani Terseret Kasus Pembunuhan Sekeluarga di Indramayu Hingga Dicari Dedi Mulyadi
Weni Wahyuny May 21, 2026 11:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM - Nyanyian dari terdakwa di persidangan kasus pembunuhan berantai satu keluarga Haji Sahroni di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menuai sorotan publik.

Nama Aman Yani, seorang pensiunan pegawai perbankan, tiba-tiba mencuat dan dituding oleh terdakwa sebagai otak intelektual di balik eksekusi keji tersebut.

Kasus pembunuhan berdarah yang menewaskan Haji Sahroni, anaknya, Budi, menantunya, Euis Juwita Sari, serta dua cucunya yang masih bayi pada 29 Agustus 2025 lalu kini memang tengah bergulir di meja hijau.

Mencuat kabar jika Aman Yani sudah dinyatakan hilang misterius sejak tahun 2016 silam.

Baca juga: Detik-detik Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu Ngamuk Usai Sidang,Sebut Nama Pelaku Lain

Mengingat keberadaannya yang sudah hilang sejak tahun 2016, bahkan dari pihak keluarga sendiri sampai dengan sekarang masih mencari-cari keberadaan anggota keluarganya tersebut.

Hal ini memicu atensi khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mendesak agar keberadaan pria tersebut segera diungkap.

Duduk Perkara Kasus: Mengapa Aman Yani Dicari?

Kasus ini bermula dari penemuan jenazah satu keluarga yang terkubur dangkal di halaman belakang rumah mereka di Indramayu.

Korban tewas berjumlah lima orang, yang terdiri dari:

  • Haji Sahroni (76)
  • Budi Awaludin (40/45) (Anak Haji Sahroni)
  • Euis Juwita Sari (37/40) (Istri Budi)
  • Dua anak Budi-Euis, yakni bocah berinisial R (7) dan seorang bayi berusia 8 bulan.

Para korban dieksekusi secara keji menggunakan pukulan palu besi di bagian kepala pada Sabtu, 30 Agustus 2025.

Polisi kemudian menetapkan dua tersangka utama, yaitu Ririn Rifanto dan Priyo Bagus Setiawan.

Nyanyian Terdakwa di Persidangan

Duduk perkara menjadi pelik ketika kasus ini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Indramayu. Terdakwa Ririn Rifanto berontak dan membantah bahwa dirinya adalah pelaku utama.

Selain itu, saat tengah diseret petugas itu, Ririn juga mengaku dipaksa mengakui perbuatan agar menjadi tersangka.

Ririn mencatut nama Aman Yani dan menudingnya sebagai otak atau dalang utama di balik aksi pembunuhan tersebut.

"Saya bukan pelakunya, Pak, saya bukan pelakunya. Pak Aman Yani, Yoga, Joko, Hardi (pelakunya)," teriak Ririn Rifanto, dilansir dari Tribunnewsbogor.com.

Baca juga: Motif Masih Misteri, Teka-teki Kematian Sekeluarga di Indramayu Terkubur di Bawah Pohon Nangka

Ririn sendiri merupakan keponakan dari istrinya Aman Yani.

Terdakwa lainnya, Priyo, dalam persidangan juga sempat membacakan kronologi versi tulisan tangannya. Ia mengaku awalnya bertemu Aman Yani di kawasan Kuliner Cimanuk (Kulcim).

Di sana, Priyo diklaim ditawari pekerjaan menagih utang oleh Aman Yani dan diminta mengantarkan palu besi kepada eksekutor lain.

Namun, dalam dinamika sidang terbaru, Priyo sempat meralat kesaksiannya dan mengaku bahwa ia membantu Ririn, sementara publik menduga ada skenario kebohongan yang saling lempar.

Kejanggalan semakin menebal ketika diketahui bahwa meski Aman Yani hilang sejak 2016, ada aktivitas hukum terkait urusan utang-piutang dan pencairan dana pensiun miliknya pada Oktober 2017 yang melibatkan kuasa hukum dan nama Ririn.

Hal inilah yang membuat pihak Bank BJB akhirnya ikut melaporkan perkara ini ke kepolisian untuk memperjelas status keberadaan mantan pegawainya itu.

Menurut keterangan keluarga, pada 2016 silam, Aman Yani sempat pamit ke keluarga untuk pergi ke Bandung membuka usaha. Namun, sejak saat itu, ia menghilang tanpa jejak.

Pihak keluarga bahkan sudah berupaya mencari hingga menyebarkan informasi kehilangan orang di media sosial, namun hasilnya tetap nihil.

Hingga akhirnya kasus pembunuhan satu keluarga ini terjadi pada Agustus 2025 lalu.

Dugaan Manipulasi Identitas

Fakta terbaru soal kasus ini diungkap oleh seseorang bernama Pak Dudu dan Irfan ketika diundang oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dalam tayangan kanal YouTube milik Dedi Mulyadi, yang dikutip Kompas.com pada Jumat (8/5/2026), Pak Dudu dan Irfan mengungkapkan adanya dugaan manipulasi identitas yang dilakukan terdakwa Ririn Rifanto demi mencairkan uang pensiun milik Aman Yani.

Mendengar pengakuan tersebut, Dedi Mulyadi kemudian memberikan penekanan kepada keduanya soal kesaksian mereka tersebut.

Dedi mengingatkan segala hal yang diucapkan mesti dipertanggungjawabkan kebenarannya sesuai dengan undang-undang.

"Jadi ini cerita dan selanjutnya menurut saya sudah terbuka. Saya yakin Polres Indramayu mampu menyelesaikan ini dengan cepat,” kata Dedi Mulyadi dalam videonya.

Baca juga: Rekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga Sahroni di Indramayu, Pelaku Sempat Buatkan Susu untuk Korban

Fakta soal manipulasi identitas ini, awal mulanya dibongkar oleh Pak Dudu, seorang mantan karyawan Hotel Prima Indramayu.

Menurut Pak Dudu, sekitar tahun 2018, Ririn sering mampir ke tempat kerjanya untuk bertemu dengan temannya yang bernama Evan.

Sampai akhirnya, karena sering bertemu, Dudu pun kenal dengan Ririn. Cerita berlanjut, saat Ririn meminta tolong kepada Pak Dudu untuk meminjam foto dirinya.

Foto tersebut rupanya digunakan oleh Ririn untuk membuat KTP palsu atas nama Aman Yani, tapi fotonya menggunakan foto Pak Dudu.

Dari KTP palsu itu, kemudian dipergunakan untuk membuat ATM rekening BRI yang berisikan dana pensiun milik Aman Yani.

"Waktu itu, dibuatin Ririn KTP palsu, fotonya foto saya, tapi namanya Aman Yani untuk bikin ATM di bank,” cerita Pak Dudu kepada Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi sendiri sempat menanyakan apakah membuat KTP palsu itu dilakukan di Disdukcapil atau tidak. Kemudian dijawab Pak Dudu, ia tidak tahu-menahu.

Kala itu, diceritakan Dudu, Ririn hanya meminta izin untuk memfoto dirinya dan tiba-tiba KTP palsu atas nama Aman Yani tersebut jadi.

Setelah membuat ATM dari rekening Aman Yani, Ririn disebutkan Dudu jarang datang lagi ke hotel.

Adapun terkait aktivitas transaksi pada rekening Aman Yani yang selama ini terjadi, diduga kuat, dilakukan oleh Ririn.

Masih dalam kanal YouTube Dedi Mulyadi, keterangan dari Pak Dudu tersebut turut dikuatkan oleh Irfan yang merupakan teman dari Ririn.

Irfan mengaku sempat dimintai bantuan oleh Ririn pada Juni 2025 lalu untuk mengambil uang pensiun dari buku tabungan milik Aman Yani.

Ririn cerita bahwa saldo dalam rekening tersebut masih tersisa sekitar Rp17 juta dan ia ingin mengambil semua saldonya.

Permintaan tolong itu dilakukan Ririn karena ATM yang selama ini dipakai sudah tidak dapat digunakan lagi.

Irfan mengaku awalnya bersedia membantu Ririn, tapi urung dilakukannya setelah melihat KTP Aman Yani yang menggunakan foto Pak Dudu.

"Kenapa kita (saya) gak jadi? Karena pas kita lihat KTP-nya, jih ini mah fotonya Pak Dudu, saya kenal, jadi kita gak mau, kita balikin lagi lah persyaratannya ke Ririn,” kata Irfan.

Lebih lanjut, Irfan juga sempat menanyakan kepada Ririn ada di mana Aman Yani. Tapi selalu dijawab oleh Ririn, Aman Yani ada di Singapura dan sulit untuk dihubungi.

"Bos (panggilan ke Ririn), kok KTP KK semua ada di situ (Ririn) semua? Aman Yaninya ke mana? Di Singapura, Um (panggilan Ririn ke Irfan). Kok bisa di Singapura, di sananya pakai KTP apa? Katanya di sana itu sudah punya sendiri. Ya sudah kita tuh,” kata Irfan menceritakan percakapannya dengan Ririn.

KDM Gelar Sayembara Cari Aman Yani

Kasus pembunuhan satu keluarga ini juga menyita perhatian publik, terutama masyarakat Kabupaten Indramayu.

Hal ini memicu atensi khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mendesak agar keberadaan pria tersebut segera diungkap.

Melalui unggahan Instagramnya pada Rabu (20/5/2026), KDM sapaan akrabnya kembali mengundang adik dari Aman Yani, Titi.

Dalam kesempatan tersebut, KDM menyoroti status keberadaan Aman Yani yang hingga kini masih menjadi teka-teki.

"Saya bertemu dengan adiknya Pak Aman Yani yang hari ini (Aman Yani) tidak ada. Tidak adanya apakah tidak ada itu ada tapi tidak bisa dilihat atau memang sudah meninggal dunia," ujar Dedi Mulyadi dilansir dari Instagram pribadinya, Kamis (21/5/2026).

Untuk mempermudah proses pencarian, Titi juga memperlihatkan foto wajah sang kakak.

"Begini deh karena Pak Yani ini sosok yang misterius ada bahkan sempat disebut sebagai otak pelaku pembunuhan keluarga Budi atau Sahroni oleh Ririn,"

KDM menyatakan tidak mempermasalahkan apakah Aman Yani ditemukan dalam kondisi hidup atau sudah meninggal dunia.

"Yang pertama, apabila Pak Aman Yani masih ada di Indonesia atau di luar negeri, Bapak tahu sudah ada pengakuan dari Bapak pengacara Khotib, bahwa dana pensiun Bapak diambil oleh Ririn dan pengakuannya ada tanda tangan kuasa dari Bapak walaupun si pemberi kuasa dan yang diberi kuasa tidak bertemu. Ini peristiwa paling aneh," tuturnya.

Menyikapi hal ini, KDM mendesak Aman Yani muncul ke ruang publik. Ia berharap agar pensiunan pegawai perbankan tersebut pulang ke rumah.

"Bapak balik deh kalau masih ada. Itu dana pensiun yang kemarin Rp400 juta, saya tambahin jadi Rp750 juta deh, saya kasih buat Bapak asalkan Bapak balik," ucap KDM.

"Sekarang balik ke rumah di Indramayu temui istri, anak-anak dan keluarga walaupun istrinya sudah menjadi mantan," sambungnya.

Demi memancing titik terang, KDM secara terbuka menggelar sayembara dengan nilai fantastis bagi siapa saja yang bisa menemukan Aman Yani, baik dalam kondisi hidup maupun mati.

"Kalau ada yang menemukan Pak Aman Yani, saya kasih juga Rp750 juta. Silakan bawa Bapak Aman Yani balik ke Indramayu. Itu pesan saya untuk semua," katanya.

Ia berharap dari sayembara ini dapat menuntaskan kasus pembunuhan yang menimpa Haji Sahroni dan empat keluarganya.

Ia tidak peduli apakah Aman Yani masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.