Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Foodbank of Indonesia (FOI) menggelar kegiatan Rembug Pangan Indonesia di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI), Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema ‘Robohnya Lumbung Kami’ yang mengangkat isu krisis pangan hingga permasalahan gizi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, puluhan peneliti hingga guru besar dari berbagai universitas ternama dijadikan.
Baca juga: Hutan dan Lahan di Film Pesta Babi Tak Terkait Proyek Food Estate Wanam Papua Selatan
Pendiri FOI Muhammad Hendro Utomo, menjelaskan, masalah kelaparan dan gizi (stunting) masih menjadi sorotan utama karena angkanya masih berada di atas standar WHO, sekitar 18 persen.
“Sementara kalau kondisi Indonesia, makanan itu melimpah, ada di mana-mana, artinya ada sesuatu yang keliru,” kata Hendro di lokasi.
Di sisi lain, penyakit degeneratif seperti diabetes pada usia muda, jantung, dan hipertensi juga dipicu oleh masalah pangan.
FOI berfokus pada upaya memerangi kelaparan dan kurang gizi dengan mengembalikan masyarakat Indonesia kepada konsumsi makanan lokal serta meningkatkan akses pangan dan gizi yang baik.
Menurut Hendro, penting untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan sumber pangan di sekitarnya.
Contohnya adalah memanfaatkan daun jambu atau daun kelor yang kaya manfaat, seperti untuk melancarkan ASI guna mendukung 1000 Hari Pertama Kehidupan/HPK).
“Namun saat ini banyak yang tidak mengenali fisik dan manfaat tumbuhan tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, terkait tema ‘Robohnya Lumbung Kami’ merujuk pada hilangnya lumbung pangan atas inisiatif warga di desa-desa.
Dampak dari hilangnya lumbung ini memicu hilangnya kearifan budaya, teknologi lokal, semangat gotong royong, serta hilangnya benih-benih pangan lokal.
Menurut Hendro, Indonesia memiliki kekayaan luar biasa berupa 27.000 varietas tumbuhan pangan dan 9.000 tanaman obat.
Lumbung pangan, baik dalam bentuk fisik rumah, hutan obat, maupun hutan adat berfungsi untuk menyimpan dan melestarikan kekayaan ini agar peradaban dan masyarakatnya tetap kuat.
“Kegiatan ini melibatkan berbagai akademisi dari IPB dan UGM, Fakultas Teknologi Pertanian, ahli antropologi, budayawan Jawa dari FIB UI, ahli arkeologi, psikolog, hingga ahli gizi,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, arkeologi menunjukkan lumbung pertama di Indonesia sudah ada sejak sekitar 3.000 tahun lalu di Kerinci, Sumatra. (m38)