Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang
Mawaddatul Husna May 21, 2026 12:54 PM

Oleh : Zakiul Fuady Muhammad Daud *)

Ada ironi yang berulang hampir setiap tahun di tengah masyarakat Muslim kita.

Ketika jutaan jamaah haji sedang berdiri di Padang Arafah dengan air mata, doa, dan penghambaan yang begitu dalam kepada Allah.

Sebagian masyarakat di kampung justru sibuk dengan hiruk-pikuk meugang, memasak daging, berbelanja besar, dan pesta makan yang nyaris menghilangkan ruh spiritual Zulhijjah itu sendiri. 

Padahal hari Arafah bukan sekadar momentum kuliner tahunan. Ia adalah salah satu hari paling agung dalam Islam.

Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah sebagai ibadah yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda: “Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”

Ini bukan keutamaan kecil. Ini tawaran pengampunan yang sangat besar dari Allah kepada umat Muhammad SAW.

Tetapi lihatlah yang sering terjadi. Banyak rumah lebih sibuk menyiapkan menu daging dibanding menyiapkan hati untuk ibadah.

Dapur hidup semalaman, tetapi masjid justru sepi dari zikir dan munajat.

Orang rela menghabiskan jutaan rupiah untuk makanan, tetapi terlalu berat menahan lapar satu hari demi puasa sunnah yang luar biasa itu.

Inilah yang perlu direnungkan bersama: jangan sampai budaya mengalahkan sunnah. Jangan sampai tradisi lebih hidup daripada syariat.

Sebab agama ini tidak melarang makan enak, tidak melarang megang, dan tidak melarang kegembiraan keluarga.

Tetapi ketika seluruh energi spiritual Zulhijjah habis hanya untuk urusan perut, sementara ruh ibadahnya mati, maka ada yang sedang salah dalam orientasi keberagamaan kita.

Zulhijjah Bulan Mulia

Zulhijjah adalah bulan haram, bulan mulia, bulan yang diagungkan Allah sejak dahulu.

Bahkan hari pertamanya disebut Rasulullah SAW sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi menegaskan bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijjah.

Perhatikan kalimat itu: lebih dicintai Allah.

Artinya, ini adalah musim pahala. Musim ketika langit terbuka untuk amal-amal terbaik manusia.

Tetapi ironisnya, sebagian masyarakat justru melewatinya tanpa ruh ibadah yang serius.

Malam-malam Zulhijjah tidak dihidupkan dengan tahajud. Hari-harinya tidak dipenuhi puasa, tilawah, dan sedekah. 

Yang ramai justru pusat belanja, pasar daging, dan obrolan tentang menu masakan.

Kita perlu jujur mengatakan bahwa masyarakat modern perlahan sedang mengalami pergeseran orientasi beragama.

Ritual tetap ada, simbol tetap hidup, tetapi kedalaman spiritual mulai memudar.

Agama semakin sering dirayakan secara budaya, tetapi semakin sedikit dihayati sebagai jalan penyucian jiwa.

Padahal hakikat puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar.

Ia adalah latihan menundukkan hawa nafsu.

Ketika jutaan jamaah haji menangis di Arafah memohon ampunan Allah, umat Islam di seluruh dunia sebenarnya diajak ikut masuk dalam suasana spiritual yang sama.

Yaitu memperbanyak istighfar, menahan diri, memperbaiki hati, dan mendekat kepada Allah.

Karena itu, sangat disayangkan jika hari sebesar Arafah justru dipenuhi perilaku konsumtif berlebihan.

Kita kadang lupa bahwa terlalu sibuk dengan makanan juga dapat mematikan kepekaan ruhani. Perut terlalu kenyang sering membuat hati sulit khusyuk. 

Meja makan terlalu ramai terkadang membuat zikir menjadi sepi. Yang lebih menyedihkan lagi, ada orang yang begitu semangat memasak daging, tetapi tidak tahu kapan puasa Arafah dimulai.

Ada yang sibuk mencari bumbu terbaik, tetapi tidak pernah serius mencari keutamaan hari-hari terbaik di sisi Allah. Ini bukan sekadar soal tradisi, tetapi soal prioritas spiritual umat.

Islam sesungguhnya mengajarkan keseimbangan. Bergembira boleh. Memasak untuk keluarga boleh.

Menyambut Iduladha dengan suka cita juga bagian dari syiar. Tetapi jangan sampai kebahagiaan fisik membunuh kesadaran ruhani.

Jangan sampai dapur lebih hidup daripada hati. Maka sudah saatnya masyarakat Muslim menghidupkan kembali ruh sepuluh awal Zulhijjah. 

Hidupkan malamnya dengan doa. Hidupkan siangnya dengan puasa. Perbanyak takbir, istighfar, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

Ajarkan anak-anak bahwa kemuliaan Zulhijjah bukan pada banyaknya daging yang dimakan, tetapi pada banyaknya dosa yang diampuni Allah.

Sebab boleh jadi, inilah Zulhijjah terakhir dalam hidup kita.

Boleh jadi, tahun depan kita bukan lagi orang yang sibuk memasak di dapur, tetapi sudah menjadi nama yang disebut dalam doa keluarga. 

Dan ketika ajal datang, yang akan menyelamatkan manusia bukan aroma masakan yang pernah ia nikmati, tetapi amal-amal ikhlas yang pernah ia hidupkan. 

Karena itu, sebelum gema takbir Iduladha memenuhi langit, mari bertanya kepada diri sendiri dengan jujur.

Di sepuluh hari paling mulia ini, apakah kita sedang mendekat kepada Allah, atau justru semakin sibuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri?

*) Penulis adalah Dosen IAIN Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Baca juga: Jangan Nekat! Ini Sanksi Berat Arab Saudi untuk Jemaah Haji Ilegal

Baca juga: Menjelang Puncak Haji, Jamaah Mulai Berangkat ke Arafah 25 Mei 2026

Baca juga: Musim Haji 2026: Jemaah Aceh Terima Dana Wakaf Baitul Asyi Rp 9,2 Juta per Orang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.