Detik-detik Proses Evakuasi Buaya Panjang 4,6 Meter Bobot 500 Kilogram di Sambas
Sesri May 21, 2026 01:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Detik-detik buaya dengan panjang 4,6 meter dievakuasi warga Dusun Sange Mangge, Desa Teluk Kembang, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Buaya besar yang diperkirakan memiliki bobot mencapai 500 kilogram tersebut berhasil ditangkap warga sekitar pukul 01.00 WIB dini hari di tepi sungai Sange Mangge.

Ferdi warga Dusun Sange Mangge menceritakan dirinya berhasil menjerat moncong buaya dengan tali tambang.

Ia lalu dibantu teman-temannya untuk menarik buaya yang masih berada di sungai.

Setelah moncong buaya terikat kuat, kata Ferdi, datang warga lainnya mencapai belasan orang membantu evakuasi buaya. Total belasan hingga dua puluh warga menarik buaya ke darat.

"Belasan orang bahkan 20 orang ada. Supaya dia naik, Naikannya dari sungai kondisi air kering. Jadi otomatis kan tinggi dekat batang sagu," katanya seperti yang dikutip dari Tribun Pontianak.

Ferdi mengaku, mereka agak kesulitan menarik dan mengangkat tubuh buaya yang besar itu.

"Jadi sulit naiknya, perlu warga ramai lah baru berhasil. Buaya lalu diikat, dievakuasi lah," jelasnya.

Baca juga: Sudah 2 Bulan Buaya Tak Menampakkan Diri di Rimba Sekampung, Camat Dumai Kota Imbau Tetap Waspada

Baca juga: Penampakan Buaya Gegerkan Warga Rimba Sekampung, Camat Dumai Kota Imbau Warga Berhati-Hati

Selama proses evakuasi buaya, Ferdi bilang, seluruh arahan mengikuti instruksi kepala dusun yang punya pengalaman ikut pelatihan penanganan buaya.

"Prosesnya semuanya dari arahan Pak Dusun kami yang udah mengajarkan, waktu dia dari Pontianak pernah ikut pelatihan penanganan buaya," tegasnya.

Ferdi bercerita, ketika menangkap buaya mereka juga mendapati perlawanan dari satwa predator itu. Menurut dia, sempat terbesit perasaan takut saat menangkap buaya itu.

"Perlawanan pasti ada, rasa takut siapa pun pasti ada, ada rasa takut juga sebenarnya, rasanya takut pasti ada cuman tadi kelebihan kita ramai," katanya.

Dia menyebutkan, alasan pihaknya sepakat menangkap buaya karena buaya itu kerap muncul di sungai dekat pemukiman warga.

"Takut terjadi hal yang tidak terduga. Sudah ramai yang lihat kemunculannya, takut kita kan ada korban, hilang, ditangkap untuk antisipasi korban. Takut kan kalau sudah makan orang," jelasnya.

Dia menyebutkan, sebelum berhasil ditangkap buaya itu kerap muncul dua hingga tiga belakangan ini. Warga bahkan melihatnya di belakang rumah dekat lanting warga.

"Buaya itu telah diketahui warga dan ditakutkan, meresahkan warga, sekitar dua bulan tiga bulan belakangan ini kerap muncul," ucapnya.

Dia bilang, buaya sering muncul sehingga orang-orang sering resah dan khawatir terhadap ancaman buaya. Namun warga kerap juga memberinya makanan setiap kali muncul.

"Kalau dia naik dari sungai di belakang rumah, ke daratan di tepi sungai, jamban kan sering juga. Tapi selama ini orang biasanya masih beri makan," katanya.

Warga menyebut buaya itu dengan nama Putri atau Puput.

"Katanya, namanya puput gelaran orang kampung sini kasihnya nama, warga-warga kampung lah yang bilang," katanya.

Menurut Ferdi, karena buaya itu kerap muncul dan dikasih makanan warga juga akrab dan menamainya Puput.

"Karena warga kerap beri makan, diberi nama Puput, ada juga Putri dipanggil Puput, kata warga jenis betina," ungkapnya.

Ferdi juga menyebutkan bahwa aksi menangkap buaya yang ia lakukan menjadi pengalaman pertama yang berkesan di hidupnya.

"Ini pengalaman pertama lah bisa nangkap buaya, itupun awalnya katena iseng, hanya main-main awalnya," tuturnya.

( Tribunpekanbaru.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.