Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp 17.653,70 per Dolar AS berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Karanganyar.
Kondisi ini terlihat dari menurunnya daya beli warga di Pasar Jungke.
Kondisi pasar tradisional tersebut tampak lebih sepi dibanding hari-hari sebelumnya.
Penurunan aktivitas jual beli disebut mulai terasa sejak nilai Rupiah terus melemah terhadap Dolar AS.
Kepala Pasar Jungke, Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar, Sri Hartoyo mengatakan, kenaikan Dolar AS turut mempengaruhi harga sejumlah bahan pangan di pasar tradisional.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat mengurangi pengeluaran belanja harian.
Dampaknya, jumlah pengunjung pasar tradisional ikut menurun.
"Naiknya dolar juga mempengaruhi harga pangan lainnya, seperti gandum, cabai, dan kenaikan sekira 5 sampai 10 persen," kata Sri Hartoyo, Kamis (21/5/2026).
Sri Hartoyo menjelaskan, penurunan daya beli masyarakat dapat dilihat dari kondisi area parkir Pasar Jungke yang kini tidak lagi seramai sebelumnya.
Ia menyebut, sebelum Rupiah melemah hingga Rp 17.653,70 per Dolar AS, aktivitas di pasar masih cukup ramai.
Sementara itu, berdasarkan pantauan TribunSolo.com pada pukul 10.45 WIB, kondisi Pasar Jungke tampak lengang. Hanya sedikit kendaraan yang terparkir di area depan pintu masuk pasar.
Di dalam pasar, jumlah pengunjung yang berbelanja juga terlihat tidak terlalu banyak. Beberapa lorong pasar tampak sepi dari aktivitas jual beli.
"Daya beli masyarakat menurun. Perbedaan bisa dilihat dengan parkir yang sebelumnya ramai, sekarang menjadi sepi," kata Sri Hartoyo.
Baca juga: Dampak Kenaikan Dolar, Buruh di Karanganyar Khawatir Harga Sembako hingga Potensi PHK
Sri Hartoyo berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik agar aktivitas perdagangan di pasar tradisional kembali normal.
"Harapan kami, ditingkat pasar yang paling rendah itu bisa berkembang kembali. Pemerintah bisa melihat perekonomian paling rendah itu di Pasar Tradisional," kata dia.
(*)