Abrasi di Bali Makin Parah, Pura Rambut Siwi Terancam Runtuh!
GH News May 21, 2026 04:09 PM
Jembrana -

Abrasi yang menerjang pesisir pantai Bali makin parah. Pura Rambut Siwi yang berada di Jembrana terancam runtuh akibat gerusan abrasi.

Abrasi yang terjadi di kawasan Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, kian memprihatinkan. Gempuran ombak semakin merusak kawasan suci Pura Tirta Rambut Siwi hingga menyebabkan sejumlah bangunan pura hancur dan nyaris ambruk.

Titik abrasi terparah berada tepat di bawah Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi. Tembok penyengker dan Kori Pura Tirta kini telah hancur tersapu ombak pantai.

Tak hanya itu, bangunan Bale Pesandegan di dalam pura juga sudah jebol dan posisinya nyaris ambruk. Kondisi ini memicu kekhawatiran bagi para pemedek yang datang untuk bersembahyang. Jika dibiarkan lebih lama, dipastikan seluruh bangunan pura akan rata dengan tanah.

"Abrasi sudah sangat parah, banyak bagian dari Pura Tirta sudah hancur. Ini terjadi sejak lama, harus segera mendapat penanganan biar tidak tambah parah," ungkap Juru Sapuh Pura Tirta, Mangku Widi saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

Mangku Widi menegaskan jika tidak ada tindakan dalam waktu dekat, keberadaan Pura Tirta benar-benar terancam musnah. Pihaknya berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap ancaman yang kian nyata ini.

"Saya dengar sih pemerintah kabupaten sudah mengusulkan penanganan abrasi ke pemerintah pusat. Mudah-mudahanlah segera bisa terealisasi," jelasnya..

Perbekel Yehembang Kangin, Gede Suardika, membenarkan parahnya kondisi abrasi tersebut. Pihaknya bersama pengempon pura mengaku sudah melaporkan situasi ini ke Pemerintah Daerah (Pemda) Jembrana dan mengajukan permohonan penanganan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.

"Kondisi kerusakan dan faktor penyebabnya sudah skala besar, sehingga penanganan yang efektif harus sesuai secara teknis. Jadi ini kewenangannya ada di BWS," ujar Suardika.

Menurut Suardika, tim dari BWS Bali Penida sebenarnya sudah sempat turun ke lokasi untuk melakukan survei. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan atau penanganan fisik yang dilakukan di lapangan.

Sebelumnya, upaya darurat sempat dilakukan secara bergotong royong oleh pihak kecamatan, TNI/Polri, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat. Mereka bahu-membahu menahan laju abrasi dengan menggunakan tanggul darurat.

"Kami sempat gotong royong bersama. Kami tambal (pesisir) dengan pasir yang ditaruh dalam kampil (karung). Namun, karena tingkat kerusakan dan faktor penyebabnya skala berat, maka giat tersebut tidak efektif," imbuhnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.