Orang Asli Papua Papua Diprioritaskan Masuk Kedokteran Uncen lewat Kerja Sama Pemerintah Daerah
Paul Manahara Tambunan May 21, 2026 04:15 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai

TRIBUNPAPUA.COM, JAYAPURA – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Cenderawasih (Uncen) menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan kedokteran bagi generasi muda Papua, khususnya Orang Asli Papua (OAP), melalui jalur mandiri berbasis kerja sama dengan pemerintah daerah di seluruh Tanah Papua.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul polemik terkait penutupan Jalur Mandiri Seleksi Bersama (JMSB) pada Program Studi Kedokteran Uncen yang sempat menuai perhatian dan kritik dari sejumlah mahasiswa.

Kebijakan itu dinilai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Papua, terutama bagi calon mahasiswa dari daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses pendidikan dan teknologi untuk mengikuti seleksi nasional berbasis komputer.

Di tengah perdebatan tersebut, pihak Fakultas Kedokteran Uncen memastikan bahwa peluang bagi anak-anak Papua untuk menempuh pendidikan dokter tetap terbuka.

Baca juga: Tidak Perlu ke Jawa Lagi, Anak Papua Kini Bisa Jadi Dokter Spesialis di FK Uncen

Bahkan, skema penerimaan saat ini disebut lebih diarahkan untuk memastikan kuota mahasiswa benar-benar menjangkau putra-putri asli Papua dari berbagai kabupaten dan wilayah pedalaman.

Dekan Fakultas Kedokteran Uncen, Inneke Viviane Sumolang, mengatakan sistem penerimaan mahasiswa baru di FK Uncen saat ini dilakukan melalui dua jalur utama, yakni jalur nasional dan jalur mandiri kerja sama pemerintah daerah.

“Penerimaan mahasiswa untuk FK Uncen terdiri dari dua jalur, yaitu jalur nasional melalui ujian serentak nasional dan jalur mandiri kerja sama dengan pemerintah daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (13/5/2026).

Menurut Inneke, jalur mandiri berbasis kerja sama pemerintah daerah tersebut telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan secara khusus diprioritaskan bagi Orang Asli Papua.

“Yang diutamakan adalah Orang Asli Papua,” katanya.

Ia menjelaskan, pola penerimaan mahasiswa dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Fakultas Kedokteran Uncen dengan pemerintah provinsi, kabupaten, maupun kota yang kemudian dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama teknis.

Melalui skema tersebut, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk merekomendasikan dan menyeleksi calon mahasiswa dari daerah masing-masing sebelum mengikuti tes akademik yang difasilitasi langsung oleh pihak FK Uncen.

Sejumlah pemerintah daerah di Tanah Papua disebut telah memanfaatkan program tersebut untuk mengirim putra-putri terbaik mereka menempuh pendidikan kedokteran di Uncen.

Kabupaten Jayawijaya tercatat telah mengirim 34 mahasiswa dalam dua tahun terakhir.

Sementara Kabupaten Sarmi mengirim lima mahasiswa dan Pemerintah Provinsi Papua Selatan mengirim 10 mahasiswa melalui jalur kerja sama tersebut.

Selain itu, kerja sama serupa saat ini tengah diproses bersama Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Boven Digoel. Pelaksanaan tes akademik bagi calon mahasiswa dari kedua daerah tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pekan depan.

Inneke menegaskan, pola penerimaan melalui kerja sama pemerintah daerah menjadi strategi FK Uncen untuk memastikan akses pendidikan kedokteran benar-benar menjangkau anak-anak Papua, terutama mereka yang berasal dari daerah pedalaman dan wilayah dengan keterbatasan sarana pendidikan maupun teknologi digital.

Menurutnya, selama ini tidak semua siswa di Papua memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi sistem seleksi nasional berbasis komputer. Karena itu, pendekatan berbasis daerah dianggap lebih efektif untuk memberikan kesempatan yang merata bagi generasi muda Papua.

“Jadi sampaikan saja bahwa sekarang ada jalur mandiri melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, supaya betul-betul yang masuk adalah Orang Asli Papua,” ujarnya.

Ia juga menyebut pelaksanaan tes akademik dilakukan langsung di daerah asal peserta, bukan terpusat di Kota Jayapura. Langkah itu dilakukan agar calon mahasiswa dari daerah terpencil tidak terbebani biaya perjalanan maupun keterbatasan akses transportasi.

Baca juga: Victhoria Paragaye, Dokter Spesialis Pertama OAP dari Lapago Setelah 62 Tahun Papua Gabung NKRI

“Biasanya tes dilakukan di daerah. Minggu depan kami akan ke Mamberamo Tengah dan tes dilaksanakan di sana, bukan di Jayapura,” katanya.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Uncen meminta pihak rektorat dan Fakultas Kedokteran kembali membuka akses penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri umum.

Sekretaris Umum BEM FISIP Uncen 2026, Vian Gobay, menilai banyak lulusan SMA/sederajat di Papua memiliki cita-cita menjadi dokter, namun menghadapi keterbatasan dalam mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) berbasis komputer, terutama siswa dari wilayah pedalaman dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menanggapi aspirasi tersebut, FK Uncen memastikan bahwa jalur mandiri tetap tersedia melalui skema kolaborasi dengan pemerintah daerah sebagai upaya memperluas akses pendidikan kedokteran bagi Orang Asli Papua di seluruh Tanah Papua.

“Yang paling penting adalah kesempatan anak-anak Papua untuk menjadi dokter tetap ada dan bisa dijangkau sampai ke daerah-daerah,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.