Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Pemberangkatan jemaah calon haji Embarkasi Solo tahun 2026 resmi berakhir, Kamis (21/5/2026).
Hingga akhir proses keberangkatan, tercatat enam jemaah calon haji meninggal dunia, sementara puluhan lainnya gagal berangkat karena faktor kesehatan dan pendampingan.
Kloter terakhir atau Kelompok Terbang (Kloter) 81 diterbangkan menuju Tanah Suci pada pukul 07.45 WIB dengan membawa 360 jemaah calon haji.
Kloter 81 merupakan gabungan jemaah dari 16 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Di antaranya Kabupaten Magelang, Demak, Boyolali, Cilacap, Tegal, Kota Tegal, Sukoharjo, Solo, Klaten, Jepara, Grobogan, Pati, Blora, hingga Wonogiri.
Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, menjelaskan total jemaah calon haji yang diterima PPIH Embarkasi Solo tahun ini mencapai 29.116 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 29.039 jemaah berhasil diberangkatkan ke Arab Saudi.
"Memang ada selisih antara jemaah yang masuk dan yang kita terbangkan. Karena satu dan lain hal, ada yang sakit dan lain hal. Dan pendamping sehingga jemaah itu kita pulangkan," kata Fitriyanto.
Ia menyebut ada 77 jemaah yang gagal berangkat karena alasan kesehatan maupun sebagai pendamping jemaah yang dipulangkan.
Menurutnya, jumlah jemaah gagal berangkat tahun ini lebih rendah dibandingkan musim haji tahun sebelumnya.
Hingga akhir pemberangkatan haji Embarkasi Solo 2026, tercatat enam jemaah calon haji meninggal dunia.
Jumlah tersebut dinilai jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi itu disebut tak lepas dari peran berbagai pihak dalam menjaga kesehatan jemaah sebelum keberangkatan.
Fitriyanto mengapresiasi kerja sama dinas kesehatan daerah, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), hingga PPIH Embarkasi Solo dalam memastikan kondisi kesehatan para calon haji tetap terjaga.
"Kami berharap, jemaah di arab Saudi juga menjaga pola makan, pola istirahat dan sebagainya," ujarnya.
Baca juga: Kloter 81 Jadi Penutup, Embarkasi Solo Berangkatkan 29.039 Jemaah Calon Haji
Ia mengingatkan para jemaah untuk menjaga stamina selama berada di Tanah Suci, terutama menjelang puncak ibadah haji yang membutuhkan tenaga dan energi besar.
"Jemaah haji yang meninggal dunia akan dibadal hajikan dan ahli waris akan mendapatkan asuransi sebesar BIPIH," pungkasnya.
(*)