KLB Malaria Muncul di Bangka, Kolong Bekas Tambang Timah Berisiko Kembangbiakan Nyamuk Anopheles 
Rusaidah May 21, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Kasus malaria kembali menjadi ancaman kesehatan serius di sejumlah wilayah Bangka Belitung. 

Munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, memunculkan kecemasan di tengah masyarakat. 

Terutama bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan tambang dan kolong bekas penambangan timah.

Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bangka Barat, Muhammad Putra Kusuma mengatakan, seberapa besar hubungan antara keberadaan kolong bekas tambang timah dengan peningkatan kasus malaria di Bangka Belitung.

"Secara epidemiologis, keberadaan kolong bekas tambang timah memiliki hubungan yang cukup kuat, dan signifikan terhadap peningkatan risiko penularan malaria. Terutama bila kolong tidak direklamasi dan berada dekat permukiman atau lokasi aktivitas tambang masyarakat," kata Putra kepada Bangkapos.com, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Beraksi 4 Kali Selama Mei 2026, Pencuri Gasak Sejumlah Toko di Koba Diringkus Polisi 

Menurutnya, hubungan tersebut bukan bersifat langsung sebagai penyebab tunggal. 

Melainkan melalui pembentukan ekosistem yang ideal bagi vektor malaria atau nyamuk Anopheles.

"Berdasarkan kajian epidemiologi lingkungan dan entomologi kesehatan, genangan air pada kolong bekas tambang timah. Memiliki banyak karakteristik yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, sebagai vektor malaria, meskipun tingkat kesesuaiannya dapat berbeda tergantung kondisi fisik, kimia, dan biologis kolong," lanjutnya.

Dijelaskannya, dalam epidemiologi malaria, habitat larva merupakan faktor penting dalam rantai transmisi. 

"Kolong bekas tambang termasuk bentuk man-made breeding site atau habitat buatan manusia yang terbentuk akibat perubahan lingkungan oleh aktivitas pertambangan," terangnya.

Baca juga: Oknum Wartawan Online Ditetapkan Tersangka, Bawa Sajam di Lokasi Tambang Ponton Selam Laut Enjel

Putra menyampaikan, berdasarkan kajian epidemiologi spasial dan epidemiologi lingkungan. 

Pola penyebaran malaria di wilayah yang dekat dengan kolong bekas tambang umumnya menunjukkan tingkat penularan yang lebih tinggi. 

"Lebih persisten, dan lebih terkonsentrasi dibandingkan daerah yang tidak memiliki kolong," terangnya. 

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.