TRIBUNJATENG.COM - Seorang warga Desa Paraili, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, melaporkan kasus dugaan hipnotis yang dialaminya ke pihak kepolisian setelah keluarganya kehilangan uang tunai Rp15 juta.
Korban bernama I Komang Suartana mengaku langsung mendatangi Polres Mamuju Tengah usai kejadian untuk membuat laporan resmi.
"Hari itu juga Pak, saya langsung melapor," uajrnya saat ditemui di Desa Kabubu, Kecamatan Topoyo, Kamis (21/5/2026).
Komang mengatakan dirinya juga telah dimintai keterangan oleh penyidik guna membantu proses penyelidikan.
Ia mengaku menyerahkan sejumlah bukti pendukung kepada polisi, mulai dari rekaman CCTV milik tetangga hingga nota pembayaran yang diduga berkaitan dengan aksi pelaku.
"Semoga polisi segera mengungkap pelaku, agar tidak ada lagi korban seperti saya," harapnya.
Baca juga: Geger Mempelai Wanita Umur 19 Tahun di Pati Kabur dari Rumah Jelang Akad Nikah dengan Pria 33 Tahun
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 12.00 Wita di rumah korban di Desa Paraili, Kecamatan Karossa.
Saat itu, dua perempuan tak dikenal datang ke rumah korban dengan mengaku sebagai petugas yang melakukan sensus kesehatan.
Salah satu pelaku disebut mengenakan jilbab, sedangkan pelaku lainnya memakai masker.
Komang mengaku mulai percaya karena kedua perempuan tersebut mengetahui identitas ayahnya, Made Dira (70), termasuk riwayat penyakit yang pernah diderita.
"Data bapak saya dia tahu, sembari bertanya 'disini rumahnya Pak Made Dira, ya?' Lantas saya jawab 'iya'.
Kemudian dia bertanya lagi, 'pernah dirawat di rumah sakit?' Saya jawab pernah," tutur Komang menirukan awal pembicaraan dengan pelaku saat ditemui di Desa Kabubu, Kamis (21/5/2026).
Karena mengetahui data pribadi keluarganya, Komang mengira kedua perempuan itu benar-benar petugas kesehatan resmi sehingga tidak menaruh curiga.
Setelah masuk ke rumah, pelaku disebut mengeluarkan perlengkapan seperti laptop dan alat kesehatan untuk memeriksa kondisi ayah korban.
Menurut Komang, riwayat penyakit ayahnya bahkan muncul di layar laptop yang dibawa pelaku.
Pemeriksaan kemudian dilakukan terhadap ibu korban dan juga dirinya dengan prosedur serupa.
"Setelah mereka memeriksa kami, dia berkata semua bisa disembuhkan," ucapnya.
Tak lama kemudian, pelaku menawarkan obat berbentuk pil dengan pilihan paket pengobatan keluarga maupun individu.
Komang mengaku saat itu dirinya merasa bingung dan tidak bisa berpikir jernih.
"Saat itu pikiran saya kayak linglung dan kosong," kata Komang menggambarkan kondisinya.
Pelaku kemudian menawarkan paket pengobatan senilai Rp15 juta dan menuliskan nota pembayaran.
"Dia tawarkan saya tetapi perasaan saya seperti tidak sadar.
Dia bilang, 'kalau paket mandiri untuk bapak, itu Rp15 juta dirawat selama dua bulan, kalau paket keluarga juga Rp15 juta'," kenang Komang.
Meski sempat mengatakan tidak memiliki uang sebanyak itu, korban mengaku tanpa sadar justru menunjukkan bahwa ibunya kemungkinan menyimpan uang di rumah.
"Saya juga tidak sadar menyampaikan seperti itu," ujarnya.
Tak lama kemudian, ibu korban mengambil uang tunai Rp15 juta dari kamar dan menyerahkannya kepada pelaku.
Setelah menerima uang, kedua pelaku langsung meninggalkan rumah korban sambil memberikan obat dan resep.
Sekitar 30 menit kemudian, korban dan kedua orang tuanya baru menyadari bahwa mereka diduga telah menjadi korban penipuan bermodus hipnotis.
Komang sempat berusaha mencari pelaku, namun keduanya sudah tidak ditemukan.
"Kalau tidak salah, pelaku menggunakan mobil hitam," ingatnya.
Saat ini kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Mamuju Tengah.
Polisi juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap orang tak dikenal yang datang dengan modus pemeriksaan kesehatan atau menawarkan pengobatan tertentu.