TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Budayawan dan fotografer senior, Widnyana Sudibya berpulang.
Ia adalah sosok yang selama puluhan tahun dikenal konsisten mengabadikan denyut budaya dan tradisi Bali lewat kamera.
Ia meninggalkan jejak pengabdian panjang bagi dunia seni, adat, dan fotografi di Pulau Dewata.
Kepergian Widnyana Sudibya membawa duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga kalangan seniman, fotografer, akademisi, hingga pegiat budaya Bali.
Baca juga: 7 Rekomendasi Handphone Rp4 Jutaan Mei Terbaru 2026, Mid-Level Tapi Kualitas Kamera Bersaing
Sosok yang akrab disapa Pak Wid itu dikenal sebagai pribadi multitalenta yang mampu memadukan pemikiran rasional sebagai insinyur dengan kecintaan besar terhadap seni dan tradisi Bali.
Ketua Perhimpunan Fotografer Bali (PFB), Made Dana, menuturkan almarhum merupakan figur yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Bali di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Baca juga: Pembagian Jalur Masuk SPMB Sekolah Dasar Tahun Ajaran 2026/2027: lengkap Jadwal Resmi Terbaru
“Beliau bukan hanya fotografer, tetapi budayawan yang sangat peduli menjaga identitas Bali. Cara berpikirnya sistematis, namun memiliki jiwa seni dan kepedulian budaya yang sangat kuat,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Semasa hidupnya, almarhum juga tercatat sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Fotografer Bali (PFB).
Bagi almarhum, fotografi bukan sekadar aktivitas visual, melainkan bagian dari pengabdian untuk merekam perjalanan budaya Bali agar tetap hidup lintas generasi.
Lewat kameranya, ia aktif mendokumentasikan berbagai pertunjukan seni, ritual adat, upacara keagamaan, hingga dinamika kehidupan masyarakat Bali.
Hampir setiap kegiatan budaya besar di Bali tidak pernah luput dari perhatian almarhum.
Sementara itu, anak almarhum, Gde Jiesta Sudibya dan Nadia Sudibya, menuturkan sang ayah memiliki kecintaan luar biasa terhadap budaya Bali, terutama dalam mendokumentasikan berbagai momentum penting kebudayaan dan ritual keagamaan.
“Bapak hampir tidak pernah absen hadir langsung di kegiatan budaya seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), upacara besar di Pura Besakih, dan pura-pura lainnya di Bali. Beliau memang sangat cinta budaya,” ungkapnya.
Menurut pihak keluarga, sebelum meninggal dunia almarhum sempat mengalami gangguan kesehatan pada bagian pencernaan.
“Beliau mengalami masalah di usus, susah buang air besar dan sempat divonis tumor,” ujarnya.
Bagi Widnyana Sudibya, fotografi memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar menangkap gambar.
Melalui karya-karyanya, ia berusaha merekam nilai, filosofi, dan spiritualitas budaya Bali agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain aktif di dunia fotografi, almarhum juga dikenal kerap menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian tradisi.
Pemikirannya banyak dituangkan melalui diskusi budaya, tulisan, serta keterlibatannya dalam berbagai forum seni dan adat di Bali.
Sosoknya dikenal sederhana, rendah hati, dan tidak pernah lelah mendorong generasi muda agar tetap mencintai budaya serta tradisi leluhur Bali.
Ia meninggal pada Senin 19 Mei 2026 malam di RSUP Prof Ngoerah.
Kini, jenazah almarhum masih disemayamkan di Rumah Duka RSAD Sudirman Denpasar hingga 24 Mei mendatang.
Sementara prosesi pengabenan dan memukur dijadwalkan berlangsung pada Senin 25 Mei 2026 di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung. (*)