TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Asap kayu bakar terlihat mengepul dari tungku tradisional di area GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Kamis (21/5/2026), saat peserta mengikuti Lomba Mangenta dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026.
Aroma ketan sangrai memenuhi area perlombaan, sementara peserta tampak sibuk membagi tugas mengolah makanan tradisional khas Dayak tersebut. Ada yang menyangrai ketan menggunakan kuali besar, menumbuk memakai lesung kayu, hingga menyiapkan wadah anyaman tradisional untuk penyajian.
Baca juga: Pesona Tambun Bungai 2026 Jadi Strategi BI Kalteng Kembangkan UMKM, Tak Sekadar Pameran
Suasana perlombaan semakin terasa kental dengan nuansa budaya Dayak karena para peserta tampil mengenakan busana dan ornamen khas daerah masing-masing.
Kekompakan antarpeserta pun terlihat saat mereka bergantian menggunakan alu dan lesung kayu besar selama proses Mangenta berlangsung.
Lomba Mangenta menjadi satu-satunya cabang perlombaan kuliner tradisional yang dipertandingkan dalam FBIM 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan warisan kuliner masyarakat Dayak Kalimantan Tengah.
Koordinator Lomba Mangenta, Theresia Evita mengatakan, Mangenta merupakan tradisi mengolah makanan khas bernama Kenta yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak.
“Mangenta tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga merepresentasikan semangat kebersamaan, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kenta dibuat dari bahan dasar ketan yang melalui beberapa tahapan tradisional. Proses dimulai dari menyangrai ketan, kemudian ditumbuk hingga terpisah dari kulitnya, lalu dimasak dan disajikan bersama parutan kelapa muda.
Menurutnya, pada zaman dahulu makanan tersebut kerap disantap masyarakat saat beristirahat di sawah maupun menjadi teman minum teh setelah bekerja di ladang.
“Dulu biasanya dimakan sambil minum teh atau saat beristirahat di sawah. Proses pembuatannya dimulai dari menyangrai ketan, ditumbuk, dimasak hingga matang, kemudian disajikan dengan parutan kelapa muda,” jelasnya.
Theresia menambahkan, tradisi Mangenta dulunya juga menjadi bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas datangnya musim panen padi.
Dalam perlombaan tahun ini, peserta diberikan waktu selama empat jam untuk menyelesaikan seluruh proses memasak hingga penyajian akhir atau plating.
Penilaian dilakukan berdasarkan cita rasa dengan bobot 30 persen, kreativitas dan inovasi 20 persen, tekstur dan tingkat kematangan 20 persen, penyajian 20 persen, kebersihan 5 persen, serta ketepatan waktu 5 persen.
Melalui perlombaan tersebut, FBIM 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan budaya, tetapi juga memperkenalkan kembali kuliner tradisional khas Dayak kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
(TRIBUNKALTENG.COM/ARAI NISARI)