BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pagi itu, matahari baru naik di perairan Desa Pongok, Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.
Di sebuah parak atau tempat pengolahan ikan asin berbahan kayu di tepi laut, Arman (36) sibuk memeriksa ikan laisi yang dijemur di bawah terik matahari.
Di pulau kecil yang terpisah dari daratan Bangka itu, Arman bukan hanya seorang nelayan. Ia juga pelaku usaha pengolahan ikan asin yang hasil produksinya telah dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta, Lampung, Palembang hingga Pontianak.
Namun di balik aktivitasnya mengelola hasil laut dari wilayah kepulauan, ada perubahan besar yang dirasakan Arman dalam beberapa tahun terakhir yakni cara bertransaksi.
Jika dulu transaksi dilakukan serba tunai dan harus menunggu kepastian pembayaran secara manual, kini semuanya berubah lebih cepat lewat digitalisasi perbankan.
"Sekarang lebih mudah pakai BRImo, tinggal cek langsung kalau uang sudah masuk, kadang bahkan notifikasi nyala duluan sebelum dicek," kata Arman kepada Bangkapos.com saat ditemui di lokasi pengolahan ikan asin miliknya, Kamis (21/5/2026).
Bagi Arman yang tinggal di wilayah kepulauan dengan akses terbatas, kemudahan transaksi digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.
Pembayaran hasil penjualan ikan asin dari luar daerah kini sebagian besar langsung ditransfer ke rekening miliknya. Dari telepon genggam, ia dapat mengecek transaksi kapan saja tanpa perlu datang ke kantor bank di daratan.
"Kalau ada pembayaran dari Jakarta atau luar daerah, langsung masuk. Tinggal buka BRImo, kelihatan uangnya sudah masuk atau belum," ujarnya.
Kemudahan itu sangat membantu usahanya yang bergerak cepat mengikuti permintaan pasar.
Terlebih, pengiriman ikan asin ke luar daerah dilakukan rutin setiap pekan dengan permintaan yang bisa mencapai satu hingga dua ton.
Tak hanya untuk menerima pembayaran, Arman juga memanfaatkan aplikasi BRImo untuk kebutuhan sehari-hari.
Mulai dari membeli token listrik PLN hingga kebutuhan transaksi lainnya dilakukan langsung melalui aplikasi di telepon genggam.
"Kalau beli token listrik gampang, tinggal klik-klik selesai. Tidak perlu keluar jauh," katanya.
Bagi warga di wilayah kepulauan seperti Pongok, kemudahan layanan digital menjadi penting lantaran akses menuju pusat layanan di daratan membutuhkan perjalanan laut berjam-jam.
Kehadiran layanan digital perbankan membuat sejumlah aktivitas keuangan menjadi lebih praktis tanpa harus meninggalkan pulau.
Tak hanya soal transaksi digital, Arman juga mengaku terbantu melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Tahun lalu, ia mengajukan pinjaman modal untuk memperbaiki parak ikan asin miliknya yang mulai rusak akibat terjangan air laut.
Sebagai bangunan kayu yang berdiri di tepi laut, parak milik Arman memang membutuhkan perawatan rutin.
Saat gelombang tinggi datang, air laut kerap menghantam bagian bawah bangunan sehingga kayu cepat lapuk.
"Kalau gelombang besar, kayu cepat kena air laut. Jadi memang harus sering diperbaiki," katanya.
Melalui KUR BRI, Arman mengaku memperoleh pembiayaan sekitar Rp40 juta yang digunakan untuk memperbaiki fasilitas usaha pengolahan ikan asin miliknya.
Menurut dia, proses pengajuan tidak terlalu rumit dan bunga pinjaman dinilai cukup ringan bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya.
"Alhamdulillah kemarin ada KUR BRI, lumayan membantu untuk membetulkan parak yang sudah mulai rusak," ujarnya.
Bagi Arman, modal usaha itu tak hanya membantu renovasi tempat produksi, tetapi juga menjadi penyangga perputaran usaha ketika pembayaran pengiriman belum cair atau pesanan sedang sepi.
"Kadang pembayaran telat, atau belum ada pesanan. Jadi ada modal operasional buat mutar dulu," katanya.
Di ujung selatan Bangka, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, digitalisasi perlahan mengubah cara masyarakat pulau menjalankan usaha.
Bagi Arman, teknologi perbankan bukan lagi sesuatu yang jauh.
Lewat layar ponsel di tangan, nelayan pengolah ikan asin di Pulau Pongok itu kini bisa menerima pembayaran dari Jakarta, membeli token listrik, hingga mengelola perputaran modal usahanya dengan lebih cepat.
"Jadi lebih sat set sekarang," ucapnya sambil tersenyum.
BRI Sebut Digitalisasi Penting untuk Nelayan di Wilayah Kepulauan
Kehadiran layanan digital perbankan dinilai semakin penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, termasuk nelayan dan pelaku usaha mikro di Desa Pongok, Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.
Kepala Unit BRI Toboali, Dodi, mengatakan layanan digital seperti BRImo memiliki peran penting dalam memperluas inklusi keuangan di wilayah kepulauan terpencil yang akses kantor layanan perbankannya terbatas.
Menurut dia, masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan laut untuk melakukan berbagai transaksi keuangan dasar.
"Di daerah kepulauan dengan mobilitas masyarakat yang masih bergantung pada transportasi laut, digitalisasi layanan memungkinkan transaksi dilakukan tanpa harus menyeberang ke kota," kata Dodi kepada Bangkapos.com, Kamis (21/5/2026).
Dodi menjelaskan, manfaat layanan digital paling terasa bagi nelayan dan pelaku usaha mikro, termasuk pengolah hasil laut seperti ikan asin.
Melalui aplikasi BRImo, masyarakat kini dapat melakukan transfer, menerima pembayaran usaha, membeli token listrik, membayar tagihan, hingga mencicil pinjaman tanpa harus datang ke kantor unit bank.
"Jadi lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya perjalanan antarpulau," ujarnya.
Menurut dia, layanan digital juga menjadi jawaban atas tantangan geografis di wilayah kepulauan yang secara operasional membutuhkan biaya tinggi untuk dijangkau.
Bahkan, kata Dodi, BRI selama ini juga telah mengembangkan berbagai model layanan untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, salah satunya melalui konsep layanan bergerak seperti Teras Kapal BRI di sejumlah daerah di Indonesia.
Dodi mengatakan, kelompok masyarakat pesisir menjadi salah satu sektor yang potensial dalam pemanfaatan layanan digital perbankan.
Mulai dari nelayan, pedagang hasil laut, pengolah ikan asin, hingga pelaku usaha rumahan berbasis perikanan.
Apalagi aktivitas perdagangan hasil laut kini tak lagi terbatas pada pasar lokal, melainkan mulai menjangkau pembeli lintas daerah.
"Kalau pelaku usaha seperti pengolah ikan asin menerima pembayaran dari luar daerah, tentu layanan digital akan jauh mempermudah karena bisa langsung mengecek transaksi yang masuk," katanya.
Menurut dia, meningkatnya penggunaan transaksi non-tunai, pembayaran cicilan kredit, hingga aktivitas jual beli berbasis media sosial dan marketplace menjadi faktor yang turut mendorong penggunaan layanan digital di wilayah kepulauan.
Selain digitalisasi transaksi, BRI juga terus mendorong penguatan sektor produktif melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada masyarakat pesisir dan pelaku UMKM perikanan.
Dodi mengatakan, sektor nelayan dan pengolahan hasil laut menjadi salah satu fokus pembiayaan produktif BRI.
"Seperti usaha tangkap ikan, pengolahan hasil laut, pengasinan ikan, perdagangan ikan hingga usaha pendukung logistik nelayan," ujarnya.
Menurut dia, skema KUR menjadi penting bagi pelaku usaha di wilayah pesisir yang sebelumnya kesulitan mengakses pembiayaan formal karena faktor geografis maupun keterbatasan agunan.
Melalui akses modal berbunga ringan, diharapkan pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat keberlanjutan usahanya.
Meski demikian, Dodi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam menghadirkan layanan digital dan pembiayaan di wilayah kepulauan seperti Pongok.
Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur jaringan internet yang belum selalu stabil.
Padahal layanan digital seperti BRImo sangat bergantung pada konektivitas.
Selain itu, biaya operasional dan logistik menuju pulau kecil juga relatif lebih tinggi karena bergantung pada transportasi laut dan kondisi cuaca.
"Tantangan lain juga soal literasi digital dan keuangan masyarakat, sehingga edukasi tetap perlu dilakukan," katanya.
Di sisi lain, karakteristik pekerjaan nelayan yang sangat dipengaruhi musim dan cuaca juga menjadi pertimbangan dalam pembiayaan usaha karena pendapatan masyarakat cenderung fluktuatif.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Dodi menilai transformasi digital menjadi langkah penting agar masyarakat di wilayah kepulauan tetap mendapatkan akses layanan keuangan yang setara dengan masyarakat di perkotaan.
"Harapannya, masyarakat di pulau-pulau kecil tetap bisa berkembang secara ekonomi meski berada jauh dari pusat kota," ujarnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)