SURYA.CO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump blak-blakan tak peduli ekonomi warga AS.
Trump lebih memilih fokus menjegal nuklir Iran meski biaya perang sudah membengkak hingga Rp1.506 triliun. Angka ini melonjak tiga kali lipat dari estimasi awal Pentagon.
Berdasarkan data Iran War Cost Tracker, biaya operasi militer AS setelah 79 hari kini telah menembus 85 miliar dolar AS (kurs Rp17.723 per USD).
Pengeluaran harian Washington bahkan dilaporkan mencapai Rp17,7 triliun per hari. Lonjakan ini memicu tekanan berat pada anggaran pertahanan domestik.
Namun, Donald Trump tetap menegaskan bahwa menghentikan nuklir Iran adalah harga mati bagi keamanan global.
“Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya hanya memikirkan satu hal: kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” ujar Trump seperti dikutip The New York Times.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Larang Uranium Iran Keluar Negeri, Negosiasi Damai Terancam Gagal?
Biaya riil yang dikeluarkan saat ini tercatat hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan estimasi awal Pentagon.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Asisten Menteri Angkatan Darat AS untuk Manajemen Keuangan, Jules Hurst, memprediksi biaya operasi hanya berkisar di angka 29 miliar dolar AS.
Namun, laporan dari CBS News mengungkap adanya miskalkulasi besar dalam perhitungan awal tersebut.
Pihak internal Pentagon mengakui bahwa estimasi awal belum memasukkan biaya penggantian amunisi yang habis, kerusakan alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta perbaikan instalasi militer di Timur Tengah.
“Sebagian besar kesenjangan biaya berasal dari amunisi yang telah digunakan dan harus segera diganti,” tulis CBS News dalam laporannya.
Salah satu kerugian alutsista terbesar AS adalah hancurnya 24 unit drone tempur canggih MQ-9 Reaper selama operasi berlangsung.
Sebagai catatan, harga satu unit drone ini diperkirakan mencapai lebih dari 30 juta dolar AS (sekitar Rp531 miliar).
Baca juga: Mojtaba Khamenei Diisukan Harus Pakai Kaki Palsu, Pemerinah Iran Tegaskan Kondisi Sebenarnya
Pembengkakan biaya ini memaksa Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengajukan tambahan anggaran Pentagon hingga 1,5 triliun dolar AS.
Melansir laporan Forbes, para ekonom memperingatkan bahwa perang berkepanjangan ini berisiko memicu inflasi, kenaikan harga bahan bakar, dan mengganggu pengeluaran publik di AS.
Di tingkat global, konflik ini mengancam stabilitas energi karena Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia.