Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Pramita Kusumaningrum
SURYAMALANG.COM, PONOROGO - Suasana haru dan rasa lega luar biasa menyelimuti keluarga Herman Budianto di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Jawa Timur.
Keluarga Herman Budianto bisa bernapas lega setelah menerima kepastian bahwa sang kakak bersama delapan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya telah resmi dibebaskan oleh militer Israel, Kamis (21/5/2026).
Kesembilan relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla tersebut, kini dilaporkan telah keluar dari fasilitas Penjara Ktziot, dan tengah menjalani proses deportasi menuju Istanbul, Turki, sebelum dipulangkan ke tanah air.
“Iya mbak plong rasanya. Alhamdulillah sudah bebas Mas Herman. Kabar itu yang kami terima,” ungkap Diah Puspasari, adik Herman Budianto, Kamis (21/5).
Herman Budianto berangkat ke Palestina pada 21 April 2026 dengan misi kemanusiaan, setelah pamit kepada keluarga, dan ini bukan kali pertama ia ke sana.
Berdasarkan penelusuran, Herman Budianto berasal dari Jalan Cindewilis, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Rumah asal (keprabon) Herman tersebut saat ini ditinggali oleh adik kandungnya, Diah Puspasari (48).
Baca juga: Respons Kenaikan Harga Plastik Dampak Perang Iran-Israel, Pemprov Mulai Petakan UMKM yang Terdampak
Sebelum ditahan militer Israel, Herman Budianto sempat live Instagram, yang juga dilihat oleh keluarga, namun saat live itu suaranya tidak jelas.
Herman berangkat ke Palestina tidak sendirian, ia pergi bersama delapan WNI lain, yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis untuk mengikuti misi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Berdasarkan informasi yang beredar, para WNI sempat mengirimkan pesan darurat berupa video yang menyatakan mereka telah ditangkap.
Kronologi penangkapan bermula ketika sembilan WNI berlayar bersama kapal Global Sumud Flotilla untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina.
Awalnya, lima WNI yakni Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, dan Abeng lebih dulu ditangkap pada Senin (18/5/2026).
Kemudian Herman dan Ronggo yang sebelumnya mengaku lolos dari pengejaran juga akhirnya ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.
Beberapa jam setelahnya, Asad dan Hendro turut mengunggah pesan darurat yang mengabarkan mereka telah ditahan oleh tentara Israel.
Baca juga: Jeritan Pedagang Tempe di Kota Malang, Kena Imbas Perang Iran vs Amerika-Israel di Timur Tengah
Lalu, video Herman Budianto berdurasi 39 detik soal penangkapan dirinya juga telah tersebar di berbagai media sosial.
“Assalamualaikum. Saya Herman Budianto dari Indonesia. Apabila melihat video ini berarti saya sudah ditangkap IOF. Kami adalah tim kemanusian dari Indonesia dan menembus blokade. Bertujuan menyampaikan kedamaian, bantuan berupa obat makanan dll. Untuk itu kami meminta pemerintah Indonesia dll membantu membebaskan kami dari tangkapan sergapan,” sebut Herman.
Setelah kabar mengenai penangkapan 9 WNI tersebut, Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono mengatakan penangkapan itu bukan aksi penculikan, melainkan hanya larangan.
Sugiono menuturkan, Israel memang melarang kapal apa pun masuk ke perairan Gaza.
"Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ini di-intercept karena memang mereka melarang, Israel melarang kapal apa pun masuk ke wilayah tersebut untuk, kepentingan apa pun," ungkap Sugiono di Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026) mengutip Tribunnews.com (grup suryamalang).
Baca juga: Cerita Eks TNI UNIFIL Soal Bahaya Misi Lebanon: Drone Israel Awasi Titik Koordinat Pasukan PBB
Sugiono mengungkapkan, pihaknya terus memonitor perkembangan situasi di lapangan sejak laporan pertama diterima, dan menyebut pemerintah telah meminta bantuan Turki dan Yordania untuk membebaskan sembilan WNI.
Meski Sugiono menyebut penangkapan sembilan WNI bukan penculikan, ia mengecam keras aksi yang dilakukan militer Israel. Sebab, ujarnya, para relawan murni melakukan misi kemanusiaan untuk membantu warga Gaza.
"Kita sudah engage (melibatkan) pengacara yang juga pada kasus-kasus sebelumnya, yang adalah ya, namanya Adalah (Lembaga Hukum HAM). Jadi lewat jalur tersebut kita pakai, lewat jalur rekan-rekan kita yang di Yordania dan Turki kita pakai," urainya.
Titik terang muncul pada Kamis (21/5/2026). Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengonfirmasi semua relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF), termasuk sembilan WNI yang sempat ditahan oleh militer Israel, telah dibebaskan.
Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, menyampaikan para relawan sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot oleh otoritas Israel, telah dibebaskan dari fasilitas penahanan itu.
Kini mereka sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel melalui Bandara Ramon/Eilat menuju Istanbul, Turki.
Ditemui di rumahnya, Diah sebagai adik Herman Budianto tak kuasa menahan tangis.
Diah mengaku keluarga menerima kabar pembebasan tersebut pada Kamis (21/5/2026) sore, sekitar waktu Ashar, melalui istri Herman yang ikut memantau perkembangan kondisi para WNI dalam grup komunikasi keluarga dan relawan pendamping.
“Jam berapa ya tadi. Kayaknya setengah empat sore saya mendapatkan informasi,” papar Diah ketika dikonfirmasi, Kamis.
“Iya mbak plong rasanya. Alhamdulillah sudah bebas Mas Herman. Kabar itu yang kami terima,” ungkapnya.
Ketika ditanya, rasanya seperti apa, Diah menjawab sangat lega.
Baca juga: Said Abdullah: 3 Prajurit TNI Gugur, Dunia harus Menghukum Israel
“Rasane pripun mbak? plong mbakkk plong,” tegasnya.
Meski belum dapat bertemu langsung, pihak keluarga merasa lega setelah mendapat kepastian Herman sudah dibebaskan.
Keluarga kini berharap proses kepulangan berjalan lancar dan kondisi kesehatan Herman tetap baik, mengingat muncul informasi sejumlah korban membutuhkan perawatan medis usai mengalami pemeriksaan selama penahanan.
“Iya sudah dibebaskan cuma ini proses perpulangannya masih mantau proses perpulangannya,” tambah Diah.