TRIBUNJAMBI.COM - Keamanan dan keselamatan di jalur ekstrem legendaris Sumatera Barat, tepatnya di jalur Sitinjau Lauik.
Pemerintah melalui sinergi dengan PT Hutama Karya (Persero) serta anak perusahannya, PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), terus menggenjot pengerjaan megaproyek Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I).
Langkah besar ini diambil sebagai jawaban konkret atas tingginya angka kecelakaan fatal, seperti rentetan insiden truk rem blong dan kendaraan masuk jurang yang kerap melanda kawasan tanjakan terjal tersebut.
Progres Lahan Nyaris Rampung
Memasuki akhir April 2026, proyek ini mencatatkan capaian krusial pada sektor pengadaan tanah.
Dukungan masif dari berbagai instansi hukum dan warga lokal membuat progres pembebasan lahan kini telah menyentuh angka 99,58 persen.
Di sisi lain, pengerjaan fisik di lapangan terus menunjukkan tren positif.
Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael AP Rumenser, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen yang mengawal proyek strategis ini sejak awal.
Baca juga: Wajah Baru Kota Jambi 2027: Maulana Pastikan Pembangunan Flyover Paal 10, Kunci PAD Rp1 Triliun
Baca juga: Bensin Campur Etanol 5 Persen Berlaku Juli 2026, Ini Daftar 7 Wilayah yang Wajib Beralih
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, instansi-instansi terkait, khususnya pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat dan masyarakat sekitar pemilik lahan, atas dukungan terkait pembebasan lahan ini untuk memastikan keberlanjutan pembangunan flyover ini," ujar Michael dilansir dari unggahan video di akun Instagram @PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik.
Secara fisik, progres konstruksi jembatan layang ini telah berada di angka 17,11 persen.
Berdasarkan pantauan udara dan data lapangan, sejumlah alat berat dan mesin pancang telah dikerahkan secara paralel untuk membangun pilar-pilar kokoh di area perbukitan.
Michael menambahkan bahwa manajemen optimistis jalur ini bisa segera dinikmati oleh pengendara dalam beberapa tahun ke depan.
"Untuk progres konstruksi sendiri, hingga April 2026 sudah mencapai 17,11 persen."
"Diharapkan akhir tahun 2027 atau awal 2028 flyover sudah selesai, sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena keselamatan di setiap perjalanan adalah yang utama," lanjut Michael.
Keberadaan flyover ini diproyeksikan memangkas sudut kemiringan tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik secara signifikan.
Dengan demikian, risiko gagal nanjak bagi kendaraan bertonase besar dapat diminimalisasi secara permanen demi kenyamanan mobilitas logistik dan pariwisata lintas Sumatera.
Baca juga: Jokowi Siap Hadiri Sidang Ijazah, Bakal Bawa Dokumen Asli dari SD Sampai S1
Baca juga: Cara Daftar Beasiswa Pemrov Jambi 2026 untuk S1, Total ada 500 Kursi
Baca juga: Militer AS Tekor Bela Israel: Stok Rudal THAAD Kritis Dikuras Iran