Klub Nonton Lampung Gelar Pemutaran Fim Crocodile Tears, Kisah Ibu-Anak yang Tak Biasa
Teguh Prasetyo May 22, 2026 05:19 PM

 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Untuk menghadirkan tontonan berkualitas, komunitas pengapresiasi film asal Lampung, Klub Nonton melalui program Bioskop Kuy gelar pemutaran film Crocodile Tears. Pemutaran film yang World Premiere-nya digelar di Toronto International Film Festival 2024 dan masuk nominasi Sutherland Trophy BFI London Film Festival 2024 ini, dihelat Kamis (21/5) malam di XXI Mal Kartini Lampung. 

Koordinator Klub Nonton, Nada Bonang mengatakan, kegiatan ini digelar dalam upaya memperluas akses masyarakat terhadap karya sinema Indonesia. Selain itu juga, ia mengatakan, kegiatan ini sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan film-film Indonesia berkualitas kepada publik di luar pusat-pusat distribusi utama. 

Nada mengatakan, pemutaran film ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dukungan tersebut diberikan karena pemutaran ini tidak hanya sekadar agenda eksebisi film, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat pemerataan akses kebudayaan, khususnya dalam konteks apresiasi sinema nasional. 

Sebab, di tengah masih terbatasnya distribusi film Indonesia tertentu ke berbagai kota di luar pusat industri, ruang inisiatif komunitas jadi jembatan penting agar publik tetap dapat mengakses karya sinema yang memiliki nilai artistik, gagasan, dan pencapaian penting dalam lanskap perfilman nasional. Dan film Crocodile Tears yang menjadi salah satu karya yang mendapat perhatian luas, baik dari publik film maupun ekosistem festival. 

Saat ini, kata Nada, film yang merupakan debut penyutradaraan film panjang dari Tumpal Tampubolon dan dipersembahkan Tala Media dan E Motion Entertainment ini, akhirnya hadir untuk penonton umum melalui jaringan bioskop mulai 7 Mei 2026 silam. Sayangnya distribusi layar film ini belum menjangkau Bandar Lampung. 

"Akhirnya hal itu yang mendorong Klub Nonton menghadirkannya melalui program Bioskop Kuy!. Karena selama ini kegiatan tersebut dirancang sebagai medium untuk mempertemukan masyarakat dengan film-film Indonesia yang memiliki kualitas artistik maupun relevansi budaya, tetapi belum tentu dapat diakses secara merata di berbagai daerah," kata Nada.   

Ia mengatakan, Crocodile Tears dipilih karena merepresentasikan pentingnya memperluas pengalaman menonton publik terhadap karya-karya sinema Indonesia yang memiliki kualitas artistik kuat dan kontribusi penting dalam perkembangan perfilman nasional. 

“Crocodile Tears adalah karya yang menunjukkan bagaimana sinema Indonesia terus berkembang dengan pendekatan artistik yang matang, keberanian naratif, dan kualitas pencapaian yang mendapat pengakuan luas. Bagi kami, menghadirkan film ini bukan semata soal pemutaran, tetapi tentang membuka akses budaya yang lebih setara," ujarnya. 

"Ketika karya-karya penting seperti ini belum sampai ke kota kami melalui distribusi reguler, komunitas perlu mengambil peran agar masyarakat tetap dapat terhubung dengan perkembangan sinema nasional,” sambung Nada. 

Ia menambahkan, melalui program Bioskop Kuy!, Klub Nonton ingin menegaskan bahwa film bukan hanya medium hiburan, tetapi juga bagian dari praktik kebudayaan yang mampu membuka ruang dialog, refleksi sosial, serta mempertemukan penonton dengan perspektif dan pengalaman yang lebih luas. 

Sejak berdiri pada 2012, Klub Nonton konsisten menjadi salah satu ruang apresiasi film di Lampung yang berfokus pada eksebisi dan literasi film. Dalam lebih dari satu dekade perjalanannya, komunitas ini telah menyelenggarakan puluhan kegiatan yang memutarkan ratusan film karya sineas Lampung maupun sineas Indonesia lainnya. 

Nada mengatakan, kehadiran pemutaran Crocodile Tears melalui Bioskop Kuy! diharapkan tidak hanya memperluas pengalaman menonton masyarakat Lampung, tetapi juga memperkuat ekosistem apresiasi film daerah, serta menegaskan pentingnya peran komunitas sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan yang inklusif dan merata. 

Sinopsis

Crocodile Tears menceritakan tentang ibu dan anak yang diperankan oleh Marissa Anita (Mama) serta Yusuf Mahardika (Johan). Keduanya telah puluhan tahun hidup berdua di sebuah rumah yang memiliki penangkaran buaya sekaligus tempat wisata atraksi buaya.  

Karena hidup hanya berdua, Mama berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Sehingga kehidupan keseharian mereka hanya berisi kehidupan yang tenang dan monoton. 

Namun kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan ketika Arumi (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan, segera. 

Film ini pernah mendapatkan nominasi film terbaik, sutradara terbaik, pemeran utama wanita terbaik, pemeran pendukung wanita terbaik, dan skenario asli terbaik pada Festival Film Indonesia 2024, Selain itu, juga mendapatkan nominasi Film Pilihan Tempo dan Sutradara Pilihan Tempo di Film Pilihan Tempo 2025. 

Tidak hanya itu saja, Crocodile Tears juga menjadi pemenang Direction Award dan Nongshim Award for Feature Film pada Jakarta Film Week 2025. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.