Kebocoran Jaringan SPAM Terungkap di Sidang, PDAM Akui Distribusi Air Belum Maksimal
Reny Fitriani May 22, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang menghadirkan sejumlah saksi, Kamis (22/5/2026).

Fakta soal distribusi air yang belum berjalan maksimal hingga adanya kebocoran jaringan mencuat dalam persidangan tersebut.

Empat saksi dihadirkan jaksa penuntut umum, yakni Kepala Unit PDAM Pesawaran Maidi, Kepala Desa Kubu Batu Siswanto, Kepala Desa Way Kepayang Zayadi, dan Kepala Desa Pasar Baru Fitri Nur Huda. Sementara Kepala Desa Kedondong, M Fadhil, tidak hadir dalam sidang.

Sidang dipimpin hakim Enan Sugiarto dengan menghadirkan para terdakwa, termasuk mantan Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona.

Suami dari Bupati Pesawaran, Nanda Indira Bastian mendatangi Pengadilan Tipikor Tanjungkarang dengan mengenakan pakaian serba hitam. Mulai dari baju, sepatu hingga topi.

Baca Juga: Kuasa Hukum Dendi Ramadhona Eksepsi Dakwaan JPU, Nilai Dasar Hukum Kurang Tepat

Dendi tampak mengikuti jalannya persidangan dengan tenang dari kursi terdakwa bersama tim kuasa hukumnya.

Di ruang sidang Garuda, sejumlah kerabat dan simpatisan juga terlihat hadir memberikan dukungan.

Sorotan utama sidang datang dari keterangan Maidi selaku Kepala Unit PDAM Pesawaran.

Di hadapan majelis hakim, ia mengungkapkan distribusi air dari proyek SPAM hingga kini belum berjalan optimal karena masih ditemukan kebocoran pada jaringan pipa.

“Aliran air ke pelanggan belum maksimal. Saat uji coba masih ditemukan kebocoran di jaringan,” ujar Maidi di persidangan.

Menurut dia, sumber air untuk empat desa berasal dari Cangkuang.

Dari hasil pelaksanaan proyek, sambungan rumah atau SR yang terpasang belum seluruhnya aktif menjadi pelanggan PDAM.

Maidi menjelaskan, kuota distribusi air yang tersedia hanya mampu melayani 235 sambungan rumah aktif di tiga desa.

Rinciannya, Desa Pasar Baru sebanyak 76 SR, Way Kepayang 54 SR, dan Umbul Batu 105 SR.

Ia juga menyebut sebagian pelanggan lama kemudian dipindahkan ke jaringan pipa baru SPAM.

Untuk sementara, distribusi air dilakukan menggunakan pipa 4 inch dari sumber air Cangkuang.

Dalam persidangan, Maidi mengaku sempat ada keraguan dari pihak PDAM saat proses serah terima pengelolaan jaringan pada 31 Juli 2023.

Penyebabnya, kondisi jaringan saat itu masih mengalami kebocoran.

“Masih ada kebocoran, sehingga pimpinan kami sempat membahas rencana menghadiri serah terima itu,” katanya.

Selain kebocoran, distribusi air juga terkendala posisi jaringan dan kontur wilayah pelanggan yang lebih tinggi. Akibatnya, pengaliran air harus dilakukan bergiliran agar tekanan air tetap bisa menjangkau permukiman warga.

“Informasi ke pelanggan, pengaliran dilakukan sekitar 12 jam supaya tekanan air bisa naik ke wilayah yang lebih tinggi,” ujar Maidi.

Ia menambahkan, warga di Desa Kedondong dan Pasar Baru sudah sekitar satu tahun menerima distribusi air secara bergiliran setelah dilakukan migrasi dari jaringan lama ke jaringan baru SPAM.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.