TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Novitasari Mulat Ratri menjadi satu di antara segelintir perempuan yang terjun di dunia sepak bola.
Memulai karier sebagai wasit futsal, Novita, sapaannya kini mantap menekuni sebagai hakim garis pertandingan sepak bola.
Bahkan, perempuan kelahiran Boyolali, 7 November 1998 itu kerap memimpin sejumlah pertandingan sepak bola di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Novita mengaku, tertarik menjadi pimimpin pertandingan lantaran pernah bergabung sebagai pemain futsal di salah satu klub di Kota Lumpia.
"Awalnya, dari saya yang dulunya pemain futsal di salah satu klub di Semarang, di ajak wasit lokal untuk gabung menjadi wasit," kata Novita, Jumat (22/5/2026).
"Kemudian, saya berpikir, semisal nanti saya sudah tidak jadi pemain, saya masih ingin tetap di dunia sepak bola atau futsal."
"Akhirnya, saya memilih menjadi wasit," kata dia.
Baca juga: Benarkah Indonesia Lebih Takut Wasit Ketimbang Pemain Arab Saudi?
Berjalannya waktu, Novita kemudian mencoba mengambil lisensi wasit futsal pada tahun 2019.
Kemudian, mengambil lisensi wasit sepak bola pada tahun 2022.
Dia menilai, perkembangan sepak bola nasional, terutama dukungan dari federasi terhadap program pengembangan sepak bola wanita, membuatnya mantap berkarier sebagai wasit.
"Berjalannya waktu, saya melihat di dunia perwasitan sepak bola mulai berkembang."
"Saya juga mengambil lisensi wasit bola juga karena melihat potensi wasit wanita di dunia sepak bola dan futsal sangat di butuhkan," kata sosok yang juga mengidolakan wasit FIFA asal Indonesia, Thoriq Alkatiri itu.
Jam terbang Novita pun tercatat dalam pertandingan level amatir hingga profesional.
Novita juga menjadi satu di antara wasit yang bertugas dalam sebuah ajang pengembangan sepak bola usia dini yang digelar setiap tahun di Kota Semarang.
Dia menyebut, dari deretan pertandingan yang ia pimpin, ada sejumlah ajang yang cukup berkesan baginya.
"Untuk kompetisi yang berkesan, saat memimpin pertandingan Women Profesional Futsal League (WPFL) karena itu titik tertinggi saya saat ini."
"Memimpin pemain Timnas Indonesia yang bergabung di salah satu klub WPFL menjadi pertandingan yang berkesan untuk saya," kata dia.
"Untuk event-event lain, masih banyak, ada Piala Soeratin, Piala Pertiwi, Campus League Nasional, Piala By U nasional, Liga Nusantara, Kejurprov, dan event-event yang ada di kota Semarang," lanjut dia.
Dia mengakui, masih ada anggpan subjektif terhadap wasit wanita.
"Kalau di pertandingan laki-laki, sering dianggap 'emang bisa seorang wanita memimpin pertandingan sekelas laki-laki?', suka dukanya seperti itu," ungkapnya.
Baca juga: Jadi Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman Ingin Gali Potensi dan Muliakan Sepak Bola Indonesia
Padahal, kata dia, proses menjadi wasit harus melalui serangkaian tes.
Selain harus memahami Laws Of The Game, diperlukan juga fisik yang kuat.
"Untuk menjadi wasit, nggak cuma paham LOTG, kita juga harus punya fisik yang bagus."
"Kita saja harus tes fisik yang tidak di bedakan untuk instrumen tesnya."
"Standarnya, seperti tes pada wasit pria," ujar penghobi olahraga itu.
Melihat perkembangan sepak bola wanita saat ini, dia berharap, semakin bertambah wasit wanita di Indonesia.
Dia juga berharap, anak-anak muda yang tertarik sebagai hakim garis terus meningkatkan kemampuan yang dimiliki.
"Salah satunya, Kota Semarang dengan bertambahnya sumber daya wasit wanita di Indonesia pasti pertandingan pertandingan sepak bola atau futsal untuk wanita juga akan berkembang lebih pesat," ungkapnya. (*)