TRIBUNJOGJA.COM - Tiga sungai di wilayah Kota Yogyakarta menjadi sasaran normalisasi. Tiga sungai prioritas tersebut adalah Sungai Code, Winongo, hingga Gajah Wong.
Normalisasi terhadap tiga sungai di Kota Yogyakarta itu sebagai upaya antisipasi kebencanaan dan perlindungan infrastruktur di sepanjang bantaran.
Sayangnya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak yang berwenang terhadap wilayah sungai sedang tidak memilik anggaran cukup untuk melanjutkan normalisasi sungai itu.
BBWSSO mengalami keterbatasan dana akibat efisiensi anggaran yang cukup signifikan pada tahun ini.
Agar rencana normaliasi tiga sungai itu tetap berjalan, kerja sama antara BBWSSO dan Pemkot Yogyakarta pun jadi solusi, baik dalam hal ketersediaan anggaran maupun eksekusi di lapangan.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Serayu Opak, Vicky Ariyanti, mengakui jajarannya tengah menghadapi periode berat dalam membagi porsi anggaran.
Kendala itu diantisipasi dengan menggandeng Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta untuk melanjutkan program.
"Tahun ini kita memang baru kerja di (Sungai) Winongo. Nanti kita lihat kemampuan anggaran kita karena tahun ini kan sepertinya banyak pemotongan-pemotongan," ungkapnya, Jumat (22/5/26).
DPUPKP Kota Yogyakarta bakal mengambil peran penting dengan menyiagakan armada alat berat agar pengerukan sedimen tetap bisa dieksekusi.
Sementara, BBWS Serayu Opak akan bertindak sebagai pengarah teknis untuk memastikan kapasitas daya tampung sungai tetap ideal dan sesuai regulasi.
"Jadi nanti kolaborasi di situ. DPUPKP menyediakan dan mengoperasikan alat berat, kemudian teman-teman kami yang juru ukur sungai juga bisa bantu turun," katanya.
Vicky menegaskan, karena kewenangan pengelolaan sungai berada di bawah balai, DPUPKP Kota Yogyakarta tinggal mengajukan izin resmi untuk memulai pengerjaan.
Setelah merampungkan penataan sepanjang lebih kurang 500 meter di aliran Sungai Winongo, fokus normalisasi berikutnya adalah menyasar Sungai Code.
Salah satu target area yang dibidik ialah aliran yang membentang sepanjang 1,5 kilometer, mulai dari kawasan batas kota di utara Hotel Tentrem hingga Jembatan Kewek.
Dari hasil pemetaan langsung di lapangan, kondisi kedalaman Sungai Code saat ini sangat beragam, mulai dari yang hanya sebatas mata kaki, selutut, hingga mencapai kedalaman 2 meter.
"Yang kedalaman 2 meter ini mungkin yang kalau nanti ada alat bergerak kita ratakan yang dalam jadi agak landai. Lalu, yang terlalu cetek (dangkal) bisa diperdalam dan ditata di samping lagi," jelas Vicky.
Demi kelanjutan normalisasi sungai tersebut, DPUPKP Kota Yogyakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 juta.
Anggaran tersebut dikucurkan khusus untuk menyewa alat berat berupa ekskavator guna mengeruk sedimen di tiga sungai utama yang melintasi wilayah Kota Pelajar.
Tiga sungai yang menjadi sasaran prioritas tersebut adalah Sungai Code, Winongo, hingga Gajah Wong, sebagai upaya antisipasi kebencanaan dan perlindungan infrastruktur di sepanjang bantaran.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi, mengungkapkan, skema sewa alat berat dipilih karena pihaknya tidak memiliki armada sendiri.
"Kami sudah anggarkan Rp200 juta untuk normalisasi sungai di tiga sungai utama. Bentuknya sewa ekskavator, karena kita tidak punya armada sendiri. Jadi, nanti kita sewa untuk di tiga sungai itu," ujarnya, Jumat (22/5/26).
Ia mengakui langkah itu merupakan tindak lanjut hasil koordinasi dengan BBWS Serayu Opak selaku otoritas yang punya kewenangan penuh terhadap pengelolaan wilayah sungai.
Nantinya, BBWS akan memberikan pendampingan teknis, sementara Pemkot Yogyakarta menyokong dari sisi anggaran penyewaan alat berat.
"Kami mengikuti arahan dari BBWS mengenai titik-titik mana yang krusial, yang kira-kira juga menjadi atensi dari Pak Wali Kota. Dari pemetaan itu, baru kita koordinasikan tindak lanjutnya," imbuhnya.
Saat ini, beberapa titik di Sungai Winongo sudah mulai ditangani, sehingga DPUPKP bakal mengalihkan fokus pengerukan ke aliran Sungai Code atau Sungai Gajah Wong secara bergantian.
Lebih lanjut, Rahmawan menjelaskan, pekerjaan rumah terbesar dalam penataan sungai di perkotaan adalah kuatnya arus air yang terus-menerus menggerus struktur tanah bawah.
"Intinya, dari talud itu kita tutup dengan tanah atau sedimen yang ada di sungai selebar kira-kira 1,5 sampai 2 meter. Tujuannya agar bisa lebih melindungi talud, jadi arus air tidak langsung menghantam struktur atau fondasi utama, melainkan mengenai tanah sedimen itu dulu," jelasnya.
Meski menyadari tanah proteksi tersebut lambat laun akan kembali terkikis oleh derasnya arus sungai, Rahmawan menegaskan langkah ini adalah bagian dari pemeliharaan berkala yang wajib dilakukan.
Adapun penerjunan alat berat rencananya akan mulai dieksekusi di lapangan pada pertengahan tahun, dengan target pelaksanaan secara berkala hingga akhir 2026, menyesuaikan tingkat urgensi di lapangan.
"Pelaksanaannya (penurunan alat berat ke sungai) sekitaran bulan Juli lah, nanti dikerjakan sampai akhir tahun secara bertahap," pungkasnya.