Chef Indonesia, mereka melakukan tugas yang luar biasa dalam membuat makanan, dan mempromosikan makanan Indonesia dengan cara yang berbeda daripada restoran-restoran lain, atau yang dilakukan oleh Toko..,

Jakarta (ANTARA) - Sejarawan dari Indonesia Yulia Pattopang dan pakar warisan kuliner Belanda Helena Smit menulis buku Makanologie yang mengisahkan 17 koki diaspora Indonesia selama 55 tahun membawa makanan Indonesia ke tanah Belanda.

Buku Makanologie karua sejarawan dari Indonesia Yulia Pattopang dan pakar warisan kuliner Belanda Helena Smit mengisahkan 17 koki diaspora Indonesia selama 55 tahun membawa makanan Indonesia ke tanah Belanda (ANTARA/Fitra Ashari)

Helena mengatakan, buku ini menceritakan kisah migrasi para chef ke Belanda untuk mengadu nasib, perjuangan mempertahankan restoran khas Indonesia di sana dan juga pengaruh perkembangan makanan Indonesia di Belanda.

"Chef Indonesia, mereka melakukan tugas yang luar biasa dalam membuat makanan, dan mempromosikan makanan Indonesia dengan cara yang berbeda daripada restoran-restoran lain, atau yang dilakukan oleh Toko. Tapi, mereka jarang mengambil panggung. Mungkin karena mereka malu, atau mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tidak penting, dan Julia dan saya ingin mengubah hal tersebut," kata Helena dalam diskusi Indonesian Food in the Netherlands di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, titik mula lahirnya buku ini untuk menceritakan mengapa 17 chef Indonesia datang ke Belanda sejak tahun 1970-an dan juga menceritakan kesuksesan karir mereka hingga tetap berdiri sampai sekarang.

Buku ini juga sebagai cerita sejarah perkembangan kuliner Indonesia di Belanda sejak tahun 70-an hingga saat ini, dan juga bagaimana perjuangan membangun dan mempertahankan restoran Indonesia di Belanda.

"Di Belanda sangat sulit bagi orang Asia untuk bergantung untuk bekerja sebagai chef, dan juga untuk chef Indonesia. Jadi, apa yang juga terdapat dalam cerita tentang chef adalah mereka menemukan kesulitan untuk menemukan chef yang bisa membuat makanan Indonesia yang terkenal," katanya.

Helena mengatakan, buku ini juga menceritakan sejarah makanan dari masing-masing daerah di Indonesia yang diwakili oleh koki aslinya seperti masakan Madura, Minang, Palembang, yang mengubah makanan Indonesia menjadi sangat populer dan mudah ditemui di Belanda.

Para chef juga diceritakan mengatur ulang bahan-bahan dari resep asli masakan Indonesia untuk bisa diterima pasar Belanda dengan melakukan substitusi bahan sehingga rasanya mungkin akan berbeda.

Helena mengatakan, hal itu juga menjadi cerita yang menarik dalam buku ini karena memperlihatkan perjuangan koki diaspora Indonesia dalam membawa makanan khas Indonesia dengan bahan baku yang hanya tersedia terbatas di Belanda.

"Orang Indonesia yang datang ke Belanda hanya berpikir makanan Indonesia di sana hanya ristafel atau nasi rames, tapi sekarang banyak imigran Indonesia yang menjalankan restoran dengan sukses membuat makanan yang sama dengan Indonesia, sangat berubah dari tahun ke tahun," katanya.

Ia mengatakan dalam 10 tahun ke depan diperkirakan akan semakin banyak restoran atau cafe Indonesia yang buka di Belanda namun juga harus dibarengi dengan kemampuan untuk mempertahankan sehingga masakan Indonesia bisa semakin akrab dengan orang Belanda.