Tribunlampung.co.id, Mekkah – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) menyiapkan dua skema khusus menjelang puncak ibadah haji menjelang fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Ketua Kloter JKG 21 asal Lampung, Muhammad Haikal Ahra, saat membeberkan persiapan dilakukan guna meminimalisir terjadinya kendala, terutama penumpukan jemaah di Muzdalifah.
Haikal menuturkan, dua strategi yang disiapkan oleh otoritas terkait dinamakan dengan skema Murur dan Tanazul.
"Yang pertama scema Murur ini diperuntukan hanya bagi jamaah kursi roda, lansia, penyakit resiko tinggi serta pendampingnya," ujar Muhammad Haikal Ahra dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa kelompok jemaah tersebut nantinya akan mendapatkan keringanan hukum dalam rangkaian wajib haji.
Baca Juga: Jemaah Haji Lampung Dapat Penanganan Medis, Imbas Kelelahan dan Cuaca Ekstrem
Melalui skema ini, jemaah risti dan lansia hanya akan melintasi dan berhenti sejenak di Muzdalifah tanpa harus turun dari bus, untuk kemudian langsung diberangkatkan menuju Mina.
Sementara itu, bagi para jemaah haji yang berada dalam kondisi tubuh sehat dan kuat, mereka tetap akan mengikuti jalur pergerakan reguler.
Jemaah sehat akan didorong bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah pada tanggal 9 Dzulhijjah saat memasuki waktu magrib.
Di Muzdalifah, jemaah sehat wajib melaksanakan mabit (bermalam) yang dijadwalkan berlangsung sejak waktu magrib hingga pukul 01.00 malam dini hari tanggal 10 Dzulhijjah.
"Mereka diberi keringanan untuk hanya melewati dan berenti sejenak di muzdalifah yang merupakan Wajib Haji tanpa turun lalu langsung ke Mina, sedangkan jamaah haji sehat kuat tanggal 9 zhulhijjah maghrib dari Arafah ke muzdalifah guna mabit dari maghrib sampai jam 1 malam dini hari tanggal 10 Dzulhijjah," jelasnya.
Selain Murur, pihak otoritas juga menyiapkan strategi Tanazul yang mengatur tentang alur kepulangan para jemaah setelah mereka menyelesaikan prosesi melontar jumrah di Jamarat.
Melalui skema ini, jemaah pasca dari Jamarat diatur untuk tidak kembali ke tenda maktab yang ada di Mina, melainkan langsung menuju dan menginap di hotel masing-masing.
"Sekema kedua adalah Tanazul. Jamaah dari jamarat ( tempat lempar jumroh ) tidak kembali ke Mina melainkan ke hotel masing2 menginapnya," urai Muhammad Haikal Ahra.
Meski demikian, Haikal menegaskan bahwa fasilitas skema Tanazul ini tidak bisa dipilih secara bebas oleh jemaah.
Penerapan skema Tanazul pada musim haji tahun 2026 ini diatur secara ketat dan hanya berlaku bagi jemaah yang pemondokannya berada di area terdekat.
Fasilitas langsung kembali ke hotel ini dikhususkan bagi jemaah yang menempati akomodasi di Sektor 1, Sektor 2, dan Sektor 3 yang areanya berada di sekitar Mina.
"Namun ini (Tanazul) hanya untuk jamaah yang tinggal di Sektor 1,2 dan 3 daerah sekitar Mina saja. Jadi tahun 2026 Tanazul berdasarkan lokasi hotel bukan keinginan," tegasnya.
Di samping kesiapan skema pergerakan, Haikal selaku ketua kloter bersama pengurus JKG lain yang tergabung dalam Maktab 74 Al Bait Guests juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Pihaknya telah melakukan survei mendalam terhadap kondisi riil pemondokan dan fasilitas tenda yang akan ditempati jemaah selama fase Armuzna.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, ia menilai kondisi tempat di Mina sudah cukup kondusif karena menggunakan fasilitas tenda permanen yang dilengkapi penyejuk udara (AC) cukup dingin.
Perbedaan fasilitas terdapat di wilayah Arafah, di mana jemaah akan menempati tenda bongkar pasang namun tetap ditunjang dengan AC berukuran besar plus kipas blower.
Mengenai jarak tempuh, Muhammad Haikal Ahra memperkirakan jarak dari titik tenda pemondokan di Mina menuju ke lokasi Jamarat adalah sekitar 4 kilometer.
"Saya sebagai ketua kloter bersama JKG lain nya yang tergabung dalam maktab 74 al Bait guests telah men survei pemondokan armusna, dimana di Mina tempat cukup kondusif tenda permanen dengan AC cukup dingin, hanya di Arafah yang tenda bongkar pasang AC besar plus blower, adapun jarak antara Mina dan jamarat diperkarakan 4km dr tenda," paparnya.
Untuk membekali kesiapan mental jemaah, pihak petugas kloter dan pembimbing ibadah juga gencar melakukan edukasi secara langsung di tiap-tiap hotel.
Para jemaah haji Lampung telah diberikan pengarahan intensif, mulai dari tata cara miqat dan niat ihram yang berkaitan dengan fikih haji, hingga daftar kebutuhan logistik selama Armuzna.
"Jamaah pula telah di beri pengarahan baik tatacara miqot niat ihram berhubungan dengan Fiqh haji maupun apa saja yang dibutuhkan selama armunas di setiap2 hotel oleh ketua kloter dan pembimbing ibadah," katanya.
Lebih lanjut, Muhammad Haikal Ahra mengingatkan bahwa sistem pemeriksaan keamanan oleh otoritas Arab Saudi pada musim haji tahun 2026 ini berjalan dengan sangat ketat.
Selain kewajiban membawa Kartu Nusuk resmi, seluruh jemaah haji kini dibekali lagi dengan gelang khusus tambahan untuk akses masuk Armuzna.
Melalui pengetatan berlapis tersebut, ia memastikan celah bagi pergerakan jemaah non-resmi ke wilayah-wilayah puncak haji kini telah tertutup total.
"Pada tahun 2026 ini pemeriksaan oleh pihak keamanan ketat, jamaah selain kartu nusuk diberi lagi gelang khusus armusna, dengan demikian tidak akan ada lagi jamaah haji ilegal yang bisa masuk Arafah, muzdalifah dan mina tanda kartu nusuk dan tasrehk," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)